Novanto Bikin Golkar Krisis Seperti Awal Reformasi

0
214

Nusantara.news, Jakarta –  Membicarakan Setya Novanto sudah tak penting. Walau sampai saat ini masih bertahan sebagai Ketua Umum Partai Golkar non-aktif, tetapi kepemimpinan Novanto di Partai Golkar diperkirakan tinggal menunggu waktu. Masalah utama yang harus dilakukan Partai Golkar dalam waktu secepatnya adalah memilih pemimpin baru yang memiliki kaliber khusus, yang mampu mengangkat Partai Golkar setelah diseret ke titik nadir oleh Setya Novanto. Hal ini dikemukakan Dr TB Massa Djafar, Ketua Program Doktor Sekolah Pascasarjana Fisip Universitas Nasional Jakarta dalam percakapan  dengan Nusantara.news, di Jakarta, Senin (27/11/2017).

Secara politis, posisi Senovanto semakin terjepit, meskipun harus menunggu praperadilan. Tekanan internal Golkar semakin menguat. Opini publik pun tidak berpihak pada Senovanto. Political trust Senovanto semakin merosot, berada pada titik nadir.

Pertanyaannya adalah siapa siapa pengganti Novanto? Beberapa nama sudah beredar, misalnya Airlangga Hartarto, Idrus Marham, Titi Suharto. Bambang Soesastyo. Apakah nama-nama ini mampu mengangkat kembali  elektabilitas Partai Golkar?

Menurut TB Massa, persoalan Golkar hari ini bukan sekedar mencari siapa pengganti ketua umum.  Persoalan bagi Golkar yang kadung citranya terpuruk adalah, mencari tokoh yang  memiliki kapasitas, kapabilitas yang tinggi dan bersih untuk memimpin Golkar pasca Novanto.

Badai politik dan krisis yang dialami Partai Golkar saat ini setara dengan badai yang dialami pada awal reformasi. Golkar ketika itu dihujat habis oleh publik. Kini sekandal korupsi e-KTP dan aneka ulah Novanto yang berusaha menghindari hukum, juga membuat Golkar dihujat habis.

Dulu  yang tampil menghadapi hujatan publik adalah Akbar Tandjung yang keluar dengan jargon “Golkar Baru”. Dengan slogan Golkar Baru, Akbar Tandjung menahan keterpurukan Partai Golkar ke titik nadir.

Akbar Tandjung bahkan berhasil membawa Partai Golkar menduduki peringkat kedua pada Pemilu 1999 setelah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). PDIP ketika itu meraih 35.689.073 (33,74%) suara,  sedang Partai Golkar berhasil meraup 23.741.749 (22,44%) suara.

Sosok pengganti Novanto tidak cukup sekadar memiliki sumber dana yang cukup. Tetapi, dibutuhkan seorang tokoh yang memiliki visi, berintegritas, bersih, dan berakar kebawah. Ia juga harus mampu membangun citra yang positif dan membersihkan partai dari  lingkaran korupsi.  Jika tidak, Golkar akan menemui ajalnya, ia akan menjadi partai gurem pada Pemilu 2019.

Menghadapi tugas berat ini, pengganti novanto juga harus berani tidak masuk kabinet, dan berani menghadang intervensi dari luar yang bermaksud menggiring Golkar sekadar jadi kenderaan politik pada Pilpres 2019 mendatang.

Gagal menghadirkan pemimpin yang berintegritas dan bersih, Golkar akan kehilangan momentum untuk berperan. Pada akhirnya, krisis Golkar kedua ini, menjadi pembenaran sejarah, bahwa Golkar memang partai korup. Partai yang hanya sekedar alat bagi penguasa atau perkumpulan para politisi yang tujuannya hanya untuk kepentingan pribadi dengan jalan  menjarah kekayaan atau keuangan negara,” kata TB Massa. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here