NSA dan Korut Dituding Berada di Balik Serangan Cyber, Ini Penjelasannya

0
157
Sebuah ambulans parkir di luar Jl Downing No.10 London, Inggris, Senin (15/5), untuk mengantisipasi serangan cyber. ANTARA FOTO/REUTERS/Toby Melville/cfo/17

Nusantara.news, Jakarta – Badan Keamanan Nasional Amerika (National Security Agency/NSA) dituding mendalangi serangan cyber yang menyebabkan ratusan ribu computer di 150 negara terinfeksi Ransomware.

Tudingan itu dilansir sebuah artikel yang dimuat oleh portal berita uang digital bitcoinst.com dengan alasan peretas yang menyerang komputer di 150 negara meminta para pengguna komputer menyetor uang dalam bentuk bitcoin. Akibatnya pasar keuangan bitcoin kelebihan pasokan sehingga nilainya anjlok hingga 11 persen.

“Jumat pekan lalu saja nilai mata uang bitcoin terpangkas hingga 10 persen sejak selama tiga minggu berturut-turut mendapatkan pasokan yang luar biasa. Pertanyaannya adalah mengapa? Jawabannya mungkin terletak pada “The Deep State” atau lebih khusus lagi, NSA,” tuding sebuah artikel yang dimuat dalam bitcoinst.com

Serangan pada Kamis (11/5) lalu disebut-sebut sebagai serangan cyber besar-besaran yang meluluh-lantakkan data-data komputer di 150-an negara. Serangan ransomware yang dilakukan oleh WannaCry itu mengenkripsi file-file atau dokumen-dokumen digital yang baru bisa dipulihkan apabila korban mentransfer uang senilai 300 dolar AS dalam bentuk mata uang digital bitcoin.

Akibat ulah tak bertanggung-jawab ini, sebut bitcoinst.com, nilai bitcoin secara keseluruhan terdevaluasi hingga 11 persen dalam waktu yang bersamaan dengan serangan cyber itu.

Program jahat ransomware sendiri dikenalkan oleh sekelompok hacker bernama Shadow Brokers sejak 14 April lalu. Shadow Brokers sendiri mengklaim telah mencuri cache “senjata cyber” dari NSA sejak tahun lalu.

“Pertanyaannya yang muncul dari semua ini adalah apakah benar-benar telah dicuri dari NSA atau apakah sengaja tersedia untuk digunakan di masa depan untuk dan melawan kepentingan mereka? Apakah ini medan program yang dibuat untuk ditujukan sebagai permainan perang siber di masa depan?,” kecam bitcoinist.com.

Bitcoinst.com juga merilis pernyataan sejumlah kalangan yang menuding serangan cyber global itu diorkestrasi oleh NSA untuk mengambinghitamkan bitcoin sebagai alat teroris sehingga memberi citra buruk mata uang digital ini di seluruh dunia.

“Apakah NSA dan The Deep State menggunakan game perang cyber untuk menyerang bitcoin dengan tujuan akhir mendapatkan keuntungan politik dalam rangka regulasi dan pengawasan jejaring keuangan terdesentralisasi secara global (Bitcon) ini?,” tandas bitcoinist.com lagi.

Selain itu bitcoinst.com juga menyebutkan sebelumnya pernah menjadi korban serangan cyber yang menggunakan ransomware. Dugaan adanya actor besar di balik itu, tulis bitcoinst.com, karena sebelumnya belum pernah ada serangan besar-besaran seperti sekarang ini.

“Untuk menyerang sekitar 70 negara dengan puluhan ribu serangan, selama berjam-jam, termasuk kekuatan-kekuatan ekonomi besar dunia Inggris, AS, Jerman dan Rusia, Anda mesti punya database luar biasa dari mana asal Anda menyerang, ditambah koordinasi dan akses komputer yang kemungkinan besar jauh di atas rata-rata kuasa Bitcoin,” imbuh bitcoinist.com.

Jika bitcoin dianggap ancaman terhadap elite perbankan dan mata uang dunia, maka adalah soal waktu bagi tamatnya riwayat bitcoin, tutup laman uang digital ini.

Tudingan Mengarah ke Korut

Pendapar berbeda dikemukakan para peneliti dari Kaspersky Lab yang selama ini dikenal sebagai perusahaan anti virus. Mereka bahkan menghubungkan ransomware WannaCry dengan pemerintahan Korea Utara (Korut).

Para peneliti itu melacak kode yang digunakan dalam varian WannaCry dengan sampel bulan Februari 2015 yang berhubungan dengan Lazarus Group yang disebut Kaspersky berkaitan dengan pemerintah Korut.

Ketumpangtindihan ini pertama kali ditemukan peneliti Google Neal Mehta, dan Kaspersky yakin kemiripannya jauh melampaui kode bersama itu. “Kami sangat percaya bahwa sampel Februari 2015 itu disusun oleh orang yang sama, atau oleh orang yang memiliki akses ke kode sumber dengan yang digunakan pelaku enkripsi WannaCry 2017 dalam gelombang serangan 11 Mei,” tulis Kaspersky.

Namun Symantec tidak setuju dengan anggapan itu. Penyebabnya tak lain sulitnya memecahkan arti kode bersama (Wannacry dan Lazarus Group) itu. “Meskipun kaitan itu ada, namun sejauh ini masih lemah. Kami terus menyelidiki untuk menemukan kaitan yang kuat,” ungkapnya.

Maka Symantec tidak sependapat dengan Kaspersky. Sebab WannaCry berperilaku seperti penjahat yang biasa-biasa saja. Jadi sebelum ada temuan yang lebih meyakinkan tidak ada alasan mencurigai sebuah negara berada di belakangnya.

Terlebih pembuatan kode awal, lanjut Symantec, umumnya bersifat spekulatif. “Dan sangat masuk akal saat pembuat WannaCry menggunakan kode yang relevan dari sampel Korea Utara seperti halnya menggunakan kode EternalBlue dari NSA,”imbuhnya.

Bahkan jika semua asumsi Kaspersky benar adanya, bisa jadi hasil itu dari pelanggaran data internal, bukan operasi pemerintah. Toh demikian Symantec menyebut ini adalah petunjuk yang menarik tentang asal-usul salah satu virus paling merusak yang pernah ada dalam sejarah internet, tulis analis Symantec sebagaimana dilansir The Verge.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here