NU-Muhammadiyah Bersatu Bila Yenny Wahid Maju Pilgub Jatim

1
348
Munculnya nama Yenny Wahid di Pilkada Jatim membuat peta politik berubah. Bahkan apabila Yenny bersedia diusung tiga Parpol koalisi, dia berpeluang mempersatukan NU dan Muhammadiyah.

Nusantara.news, Jawa Timur – Saat ini pertarungan Pilkada Jawa Timur diisi dua kandidat dari Nahdlatul Ulama (NU). Namun bagaimana jika kandidat ketiga juga berasal dari NU. Tentunya peta politik akan semakin menarik. Belum lama ini Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mewacanakan nama nama Putri Presiden Indonesia keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Zanubah Ariffah Chafsoh Rahman Wahid alias Yenny Wahid, sebagai calon alternatif bakal calon gubernur di Pemilu Gubernur Jawa Timur 2018.

Ya, sebelumnya Yenny Wahid telah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Dari sini kemudian namanya mulai dipertimbangkan oleh Parpol koalisi, tentunya selain nama Moreno Suprapto dan Bupati Bojonegoro Suyoto yang lebih dulu diusulkan.

Seperti diketahui Gerindra, PKS, dan PAN sudah menjalin koalisi untuk Pilkada di enam provinsi. Ketiganya akan mengumumkan bakal pasangan calon gubernur-wakil gubernur Jawa Timur, pada Rabu (3/1/2018). Hingga kini, baik PKS maupun PAN masih belum memutuskan sikap resmi terhadap calon yang akan didukung untuk Pilgub Jawa Timur. Terakhir, kedua partai masih condong mendukung pasangan Gus Ipul-Abdullah Azwar Anas.

Namun, dengan munculnya nama Yenny Wahid, tentu ini akan mengubah peta politik di Jawa Timur. Seandainya Yenny Wahid benar diusung Gerindra, sudah barang tentu PAN dan PKS akan kembali ke porosnya.

“(Yenny) baru salah satu alternatif calon yang dipertimbangkan oleh Gerindra,” kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad dalam melalui pesan singkat, Senin (1/1/2018).

Dasco mengatakan demikian, sebab Direktur The Wahid Institute itu melakukan pertemuan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, beberapa waktu lalu. Selain Yenny, kata Dasco, Gerindra juga masih menimbang nama Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf alias Gus Ipul, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Bupati Bojonegoro Suyoto, dan anggota DPR Moreno Soeprapto, sebagai bakal calon Gubernur di Pilgub Jatim. Pihaknya mengaku belum mengeluarkan rekomendasi kepada siapa pun di pesta demokrasi Jawa Timur itu.

“Karena termasuk yang harus diputuskan dengan PAN dan PKS,” imbuh Dasco, yang juga menjabat Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR itu.

Wakil Sekretaris Jenderal PKS Mardani Ali Sera mengatakan, koalisi PKS, PAN, dan Gerindra saat ini memang serius mengusung calon alternatif di pemilihan gubernur Jawa Timur. Pihaknya tidak membantah ada ketertarikan dengan sosok Yenny Wahid.

Ia yakin calon yang bakal diusungnya nanti mampu mengungguli kandidat sebelumnya. “Peluang tetap ada, apalagi semangat di lapangan kerasa. Masa 15 tahun warga Jawa Timur cuma disuguhi dua tokoh ini (Syaifullah dan Khofifah),” katanya lewat pesan singkat, Selasa (2/1/2018).

Dikatakan Mardani, nama Yenny sebenarnya ada dalam pembahasan tiga partai tersebut sejak lama, jauh sebelum Yenny bertemu Prabowo. “Kami ingin alternatif yang punya peluang menang,” tuturnya.

Yenny Wahid, Gus Ipul, dan Khofifah sama-sama berasal dari NU. Karena inilah Yenny dinilai sebagai salah satu tokoh yang mampu berpeluang mengimbagi Gus Ipul dan Khofifah. “Semua faktor dipertimbangkan,” ucapnya.

Anggota DPR RI tersebut menambahkan, ketiga partai belum final menentukan siapa yang bakal diusung. Tiap-tiap partai sudah menyodorkan nama-nama tokoh yang potensial. Saat ini mereka masih melakukan simulasi-simulasi pemasangan.

Pengurus wilayah PKS Jawa Timur sebelumnya merekomendasikan agar DPP mengusung Syaifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas. Namun, kata Mardani, PKS tidak bisa memutuskan sepihak lantaran harus berdiskusi dengan PAN dan Gerindra.

Senada, Ketua DPP PAN Yandir Susanto mengatakan pihaknya siap mengusung Yenny Wahid pada Pilgub Jatim 2018, asalkan dia benar-benar ingin maju sebagai kandidat. “Kalau dia (Yenny Wahid) mau, kita dorong,” tegas Yandri Susanto yang juga Sekretaris Fraksi PAN DPR, Selasa (2/1/2018).

Apalagi Yenny Wahid diketahui sebagai istri kader Gerindra, Dhohir Farisi. Sehingga kedekatan Yenny dan Gerindra sangat kuat. Begitu pula saat kampanye Pemilihan Presiden 2014, Prabowo juga beberapa kali menggandeng Yenny Wahid.

PKS sendiri sampai terakhir masih ke Gus Ipul. Meski demikian, sikap itu bakal bisa berubah tergantung keputusan DPP PKS dan faktor kecocokan tokoh yang ditawarkan Gerindra. Jika Yenny bersedia maju, maka peta politik akan berubah.

Jika koalisi Gerindra, PKS dan PAN terbangun di Pilgub Jawa Timur, ketiga parpol itu bisa mengusung bersama calon gubernur-wakil gubernur di Pilgub Jatim 2018. Sebab, secara total ketiganya memiliki 26 kursi di DPRD Jatim. Rinciannya, Gerindra memiliki 13 kursi, PAN 7 kursi, dan PKS 6 kursi.

Kandidat dari NU sebelumnya, yakni Gus Ipul-Anas telah didukung PKB dan PDIP yang memiliki total 39 kursi. Demikian juga duet Khofifah-Emil Dardak telah didukung Partai Golkar, Partai Demokrat, Nasdem-Hanura dan PPP dengan total 38 kursi.

Situasinya Mirip Saat Gus Dur Terpilih jadi Presiden 

Munculnya nama putri Gus Dur dalam ajang Pilkada Jawa Timur 2018 dianggap cukup mengejutkan. Meskipun sebelumnya sempat dijagokan sebagai salah satu kandidat, namun tak ada tanda-tanda Yenny akan maju berlaga. Tak ada satupun partai yang memunculkan namanya. Yenny malah disebut sebagai calon Mensos menggantikan Khofifah.

Dalam peringatan sewindu haul Gus Dur di Ciganjur, yang dihadiri oleh Gus Ipul dan Khofifah, Yenny sempat mengajak para hadirin untuk berdoa agar siapapun yang terpilih, dapat memberi kebaikan bagi warga Jatim. Wajar bila doa Yenny bersifat umum, atau dalam bahasa politik bisa disebut netral dan tidak berpihak. Baik Gus Ipul maupun Khofifah keduanya adalah warga NU. Dengan Gus Ipul, Yenny malah memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat (sepupu).

Namun roda politik berputar dengan sangat cepat. Beberapa Parpol koalisi tampaknya tidak mau melewatkan pertarungan Pilgub Jatim, apalagi hanya menjadi pendukung dan penonton. Gus Ipul memang sangat populer di Jatim. Selain pernah menjadi menteri, dan wakil gubernur selama dua periode, dia pernah menjadi Ketua GP Anshor dan mempunyai darah biru NU yang sangat kental. Karena itu dia menyandang nama Gus. Sementara Khofifah yang saat ini masih menjadi Menteri Sosial, dia juga Ketua Muslimat NU selama empat periode. Di masa pemerintahan Gus Dur, sosok Khofifah sangat dipercaya. Belum lagi pengalamannya pernah bertarung sebanyak dua kali pada Pilkada Jatim.

Baik Gus Ipul maupun Khofifah adalah ‘petinju kelas berat.’ Bila ingin mengalahkan mereka dan meyakinkan partai koalisi, maka Prabowo harus memunculkan kandidat yang sekaliber. Tidak bisa dengan petinju kelas bulu seperti Moreno. Tokoh sekelas Yenny, boleh jadi akan akan menjadi lawan sepadan. Mereka sama-sama dari NU. Sama-sama punya track record politik sangat baik.

Yenny kendati tidak lagi aktif di partai politik pasca PKB diambil alih Muhaimin Iskandar, ketokohannya tidak perlu diragukan. Sebagai putri Gus Dur, terlebih lagi nasabnya langsung ke pendiri NU KH Hasyim Asy’ari, membuatnya menjadi tokoh yang spesial.

Kalau Gus Ipul kental dengan darah biru NU, sebaliknya di kalangan NU darah Yenny malah “super biru”. Andai saja mau, seharusnya dia bisa menyandang gelar “Ning” di depannya namanya, sebagai panggilan kehormatan untuk seorang putri keturunan langsung ulama dan tokoh besar.

Hadirnya Yenny tentu akan membuat dukungan kaum Nahdliyin terpecah lagi. Bagaimanapun sebagai putri Gus Dur, Yenny akan menjadi magnet kuat yang bisa menyedot suara Gus Ipul maupun Khofifah.

Beberapa kalangan menilai, munculnya Yenny di Pilgub Jatim apabila dikaitkan dengan konteks nasional (bila Gerindra, PKS dan PAN sepakat mendukung Yenny), maka situasinya mirip dengan saat terpilihnya Gus Dur sebagai presiden pada Sidang Umum MPR 1999.

Saat itu PKB yang dipimpin oleh Matori Abdul Djalil sepakat untuk berkoalisi dengan PDIP sebagai partai pemenang pemilu. Namun dengan dimotori oleh Ketua Umum PAN Amien Rais sejumlah partai-partai Islam (PPP, PK dan PBB) membentuk Poros Tengah. PKB kemudian bergabung dan mereka mengusung Gus Dur sebagai capres bersaing melawan Megawati. Gus Dur akhirnya terpilih menjadi Presiden RI ke-4 mengalahkan Megawati.

Kekalahan Megawati ini sungguh ironis. Sebagai ketua umum partai pemenang pemilu, saat itu hampir dipastikan Megawati akan terpilih sebagai presiden. Apalagi dia juga didukung PKB yang perolehan suaranya di peringkat ketiga.

Jika tiga Parpol sepakat mengusung Yenny Wahid, maka putri Gus Dur tersebut membuka peluang untuk NU dan Muhammadiyah bersatu. Selama ini warga NU dan Muhammadiyah memiliki perbedaan dalam beberapa hal . Perbedaan ini sempat membuat pengikut NU dan Muhammadiyah tegang dan berjarak. Walaupun, perbedaan itu bukan tentang inti agama Islam. Tapi dengan majunya Yenny di Pilgub Jatim 2018, peluang PAN sebagai refresentasi dari warga Muhammadiyah dan Yenny sebagai NU, akan melebur jadi satu.

Yah, Yenny tidak hanya akan kembali mengulang sejarah mengantar kemenangan koalisi Gerindra, PKS dan PAN (Poros Tengah Jilid II) mengalahkan kandidat yang didukung Jokowi, seperti halnya Gus Dur mengalahkan Megawati, tapi dia juga berpeluang untuk menyatukan dua organisasi terbesar di Indonesia NU dan Muhammadiyah.

Sampai saat ini Yenny Wahid belum merespon hal tersebut. Terkait dengan unggahan foto pertemuannya dengan Prabowo pada 26 Desember 2017 lalu dalam akun Instagramnya yennywahid mengatakan, pertemuan hanya seputar masalah kebangsaan dan geopolitik dunia, termasuk soal Palestina. Selain itu, ia membahas soal diet.

“Kami juga berbincang soal masalah super penting. Yaitu, gimana caranya bisa lebih kurusan. Mas Bowo (Prabowo) sekarang memang terlihat lebih fit, rupanya karena sudah turun beratnya 12 kilogram. Pastinya saya kepo dan pengen tau dong resepnya,” ujarnya.

Namun banyak orang menduga, pertemuan keduanya tidak sekedar pertemuan biasa. Kesannya pertemuan itu semacam penjajakan untuk keperluan pemilu, apakah Pilkada 2018 atau Pilpres 2019. Untuk skala yang lebih luas, tentu urusan lebih ke 2019, sebab secara formal Yenny tidak punya partai. Yang dimiliki Yenny, setidaknya sebagian publik percaya adalah suara sebagian warga nahdliyin.

Lalu seberapa besar peluang duet Prabowo-Yenny andai dipasangkan untuk menantang Jokowi? Dulu pada Pilpres 2014 selisih perolehan suara Jokowi-Prabowo sekitar 6 persen saja. Yenny Wahid kemungkinan bisa menambah suara. Tentu tidak ada jaminan menang, tetapi juga tidak berarti otomatis kalah. Sejauh ini Yenny sudah memasuki panggung publik tetapi belum intens memasuki panggung politik. Bila dikaitkan dengan Pilpres 2019 ‘perjodohan’ Prabowo-Yenny, tentu perlu banyak pertimbangan. Sebaliknya jika Yenny diperuntukkan untuk kepentingan Pilkada 2018, maka peluangnya sangat besar.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here