NU – Muhammadiyah se Jawa Timur Sepakat Lawan Berita Hoax

0
216

Nusantara.news, Surabaya – Hoax adalah berita bohong. Namun, siapa yang berhak menilai berita hoax? Berita hoax perlu diklarifikasi oleh pihak yang menilai.Tapi beda lagi jika berita itu sudah mengandur unsur SARA yang berniat atau dengan sengaja mengumbar kebencian antar-kelompok dan memprovokasi pertentangan sosial.

Jawa Timur kini digoyang berita hoax, terutama terkait dengan isu adanya upaya-upaya untuk memecah belah beberapa pihak yang menolak adanya ormas Islam seperti Front Pembela Islam (FPI). Ulama Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama se Jawa Timur sepakat untuk meredam informasi berita hoax yang sudah meresahkan dan berniat memecah belah persatuan.

Sekjen PBNU Helmy Faizal Zaini berharap agar warga Jawa Timur tidak gampang menyerap langsung informasi yang nyata-nyata belum bisa dipertanggungjawabkan, apalagi yang sifatnya sengaja ingin membenturkan Islam dengan organisasi politik lain di Jatim.

Melawan Hoax Tidak dengan Hoax

Dalam acara Kopdar Netizen NU Jatim ‘Benteng Ulama dan NKRI’ di kantor PWNU Jatim, Minggu (29/1/2017) sore kemarin Helmy menjelaskan bahwa warga NU sepakat untuk meredam isu perpecahan. Setidaknya, berita hoax harus dilawan, namun tidak dengan hoax juga.

“Dampak informasi hoax sudah sampai tingkat akar rumput NU. Seperti halnya berita fitnah terhadap kiai-kiai NU, pengurus NU di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) juga membacanya dari sosmed,” jelasnya.

Sementara itu Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf yang turut hadir bersama–sama untuk meredam berita hoax menyampaikan pesan, menghentikan hoax tidak cukup dengan sekedar menutup situs-situs penyebar hoax, karena yang terpenting adalah membangun kesadaran masyarakat dan narasi balik (kontra narasi).

Pria yang akrab dipanggil dengan sebutan Gus Ipul ini menekankan pentingnya pendidikan bagi masyarakat guna menepis pengaruh negatif berita hoax. Langkah yang harus ditempuh, menurut Gus Ipul, adalah dengan mengajari masyarakat agar lebih selektif dalam menerima informasi.

“Menutup situs hanya menyelesaikan 30 persen dari masalah ini, selanjutnya yang terpenting adalah membangun kesadaran masyarakat dan harus digerakkan untuk lebih selektif menerima informasi,” katanya.

Pancasila Sudah Final

Gus Ipul ini juga meyakini bahwa lama kelamaan berita hoax tidak akan laku di masyarakat, seiring dengan kesadaran dan kecerdasan masyarakat dalam menerima informasi di media sosial. “Mungkin secara struktural NU memang terlambat, tapi kami akan belajar terus,” kata Gus Ipul yang juga salah satu Katua Tanfidziyah PBNU ini.

Sedangkan, Ketua Satkorwil Banser NU Jatim Gus Abid Umar mengaku ada keresahan kalangan NU yang khawatir Jatim dijadikan DKI Jakarta kedua. “Untuk itu, perlu kami bentengi. Kita harus cerdas bermedia dan memberi pernyataan. Ini membuat kami mencetuskan konsep Ansor Banser Cyber Media atau pasukan dakwah virtual,” imbuhnya.

Gus Nur Arifin, yang juga wakil Bupati Trenggalek, menambahkan, PW GP Ansor Jatim meneruskan apa yang diamanatkan PBNU, yakni kampanye anti hoax, anti ujaran kebencian dan anti propaganda.

Ujaran kebencian yang dapat menimbulkan pertentangan antar kelompok masyrakat juga bertentangan dengan Pancasila yang sudah menjadi kesepakatan bersama. “Pancasila itu sudah final dan ideal. Kopdar netizen NU ini sarana tabbayun. Kami ingin melindungi hak publik dan privat. Jangan atas nama nahi munkar, tapi melakukan perusakan atau kekerasan. Jangan gampang menyebut kafir, jangan cari perbedaan diantara persamaan. Kami akan jihad menyebarkan kabar-kabar yang baik,” jelasnya.

Cak Ipin, begitu sapaan wabup termuda di Jatim ini menjelaskan, bahwa Jatim sebagai barometer Ahlussunah Waljamaah. “Kalau Jatim berhasil diinfiltrasi bisa-bisa NKRI akan runtuh. Benteng NU harus kuat, ponpes dan tokoh nasional banyak dari Jatim. Semua paham ideologi komunis, liberalis, radikalis harus dibentengi,” pungkasnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here