Konflik Semenanjung Korea (1)

Nuklir Korea Utara, Manuver AS ke Cina

0
252
Ilustrasi: Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memberikan pernyataan tentang pidato Presiden AS Donald Trump di Sidang Umum PBB, dalam foto tidak bertanggal yang disiarkan KCNA di Pyongyang, Jumat (22/9). ANTARA FOTO/KCNA via REUTERS

Nusantara.news – Serangan opini publik Amerika Serikat (AS) terhadap Cina menjadi viral di dunia karena bersamaan dengan uji coba nuklir Korea Utara. Korea Utara ditekan lewat Cina, dan Korea Utara meradang bahkan mengancam rudal jelajahnya akan mencapai dan melewati udara Jepang, Guam (pangkalan militer AS), serta bisa saja ke Washington DC. Terakhir, dengan uji coba bom hidrogen yang artikulasi getarnya lebih dahsyat dari bom atom Hiroshima dan Nagasaki yang getarannya terasa sampai ke Pulau Sumatera. Konflik Semenanjung Korea semakin eskalatif ketika Korea Utara diberi sanksi, Cina dan Rusia latihan militer di Semenanjung Korea.

Begitulah Proxy War

Seolah-olah faktor utamanya adalah nuklir yang menjadi musuh bersama, suatu negara di luar negara-negara yang mempunyai hak veto PBB akan diserang, seperti Iran dan sekarang Korea Utara. Diberi sanksi, jika masih membandel akan dikeraskan jika perlu diserang secara fisik. Korea Utara disebut dengan proxy (boneka), yang bertempur itu sesungguhnya Cina versus AS.

AS pada prinsipnya akan meminta Jepang dan Korea Selatan sebagai sekutunya, untuk berhadapan langsung dengan Korea Utara, didukung persenjataan dari AS.

Di sisi Korea Utara, karena Cina dan Rusia sebagai sponsor nuklir yang menopang ekonominya, tentu ketika mulai ada ancaman bersiap-siap mengantisipasi dengan latihan perang. AS membalas juga dengan latihan bersama Korea Selatan dan Jepang.

Begitulah Proxy War, dan apakah hanya semata-mata faktor nuklir? Tidak juga! Karena faktor utama proxy war pasti ada unsur ‘energy & food security (ketahanan pangan dan energi). Semenanjung Korea diributkan, basisnya adalah perebutan Kepulauan Spratly yang konon deposit migasnya mencapai 17,7 miliar barel per hari. Sama juga dengan Timor Timur, dulu AS tidak akan membantu Timor Timur bersama Australia, jika tidak ada deposit besar di celah Timor. Oleh karena itu, Fretilin didukung AS dan Australia, serta tekanan PBB meminta referendum kepada Indonesia, sehingga pada tahun 1999 Timor Timur merdeka di saat Presiden RI dijabat oleh BJ. Habibie.

Kenapa Proxy War? Karena Timor Timur adalah boneka yang dijanjikan merdeka, ada subjek yang berkeinginan, yakni Australia dengan kebutuhan teritorialnya, sementara AS adalah sebagai dalangnya yang berminat pada migas di Celah Timor.

Faktanya, migas di Celah Timor terlalu dalam untuk dieksploitasi, sehingga nilai keekonomiannya tidak efisien. Timor Timur pun ditinggalkan karena miskin kekayaan Sumber Daya Alam (SDA).

Proxy war adalah pekerjaan dalang, pada ujungnya ada unsur energy and food security yang konon akan langka pada tahun 2030. Diperkirakan, energi fosil akan langka dan AS akan memaksa dunia menggunakan Shale Gas sebagai EBT (energi baru terbarukan) dunia. Cadangan energi fosil AS terbesar, setelah Timur Tengah mengalami ‘Arab Spring’ selesai dieksploitasi, apakah dengan skema bisnis atau melalui proxy war seperti penggunaan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria/Negara Islam Irak dan Syam), karena ada AS dengan Yahudi di belakang konflik Suriah dan Irak dalam skema negara ISIS sebagai khilafah.

Ujung-ujungnya, AS akan negosiasi dengan Cina bersama Rusia mengenai cadangan energi di Kepulauan Spratly. Pertanyaannya, apakah melalui perang dengan Korea Utara lebih dulu? Apakah sanksi PBB akan terus dilaksanakan agar Korea Utara panik, kemudian lebih dulu menyerang Korea Selatan, Jepang, atau langsung ke AS? Itu adalah pertanyaan yang perlu dijawab dengan analisa.

Pada prinsipnya, AS akan melakukannya dengan pertimbangan ekonomi, selain pertahanan. Secara ideologi, ujungnya akan diminta agar Korea Utara bersatu dengan Korea Selatan dengan skema ‘Satu Korea’.

Sanksi Korea Utara dari PBB

Korea Utara selalu punya cara ajaib menjawab tekanan PBB, setelah dijatuhi sanksi terberat, kemudian mengujicoba bom hidrogen yang membuat rakyat Jepang dan Korea Selatan khawatir. Korea Utara bagai “preman pasar” yang melawan mafia teritorial dengan unjuk kebolehan sukses uji coba bom hidrogen, sehingga lebih percaya diri menghadapi tekanan dunia (AS).

PBB seperti yang kita ketahui merupakan salah satu dari 13 lembaga kekuatan kapitalisme Yahudi, yang digunakan mereka untuk menekan negara-negara yang menentang kebijakannya. Sanksi Pyongyang yang mewajibkan kepada semua negara memeriksakan seluruh barangnya jika masuk atau keluar Korea Utara melalui bandar udara maupun pelabuhan laut merupakan reaksi atas sanksi yang diberikan PBB kepada Korea Utara.

Selain itu, Korea Utara dilarang mengekspor batubara dan bijih besi, yang mengakibatkan Korea Utara kehilangan pemasukan USD 1 miliar dari batubara, dan USD 200 juta dari bijih besi. PBB juga memberi sanksi kepada Korea Utara dengan melarang transaksi keuangan di dunia. Ini sanksi terberat yang pernah dijatuhkan PBB kepada sebuah negara.

Lalu bagaimana reaksi Kim Jong-un? Selayaknya “preman”, dia bersumpah akan melancarkan perang terbuka jika diganggu. Kim meyakini perang akan meningkatkan pamornya di dalam negeri karena ada faktor ideologi, dan rakyat bersatu karena kedaulatan negaranya diganggu.

Tentu saja Rusia dan Cina sangat berkepentingan dengan Korea Utara, selain faktor ideologi, ekonomi, juga basis teritori yang menghambat AS di Laut Cina Selatan, dan Laut Cina Timur yang sangat strategis. Munculnya adagium menguasai Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur sama saja menguasai 60% lalu lintas perdagangan dunia, begitu juga penguasaan geostrategis dunia.

Rusia tercatat sebagai pemilik 8.000 hulu ledak nuklir, terbesar di dunia bersama AS. Jika berkolaborasi dengan Cina dan Korea Utara tentu cukup mencemaskan, apabila perang Semenanjung Korea benar terjadi. AS pun saat ini mulai berpikir, karena ternyata Kim Jong-un “nekat”. Kita bersyukur bahwa jika Trump adalah pedagang tentu menghindari sesuatu yang berbiaya tinggi, seperti Richard Nixon dengan perang Vietnam, yang membawa masalah pada waktu itu.

Sementara bagi Kim Jong-un adalah perjuangan terakhir sebelum AS dan Barat mengupayakan Korea bersatu, seperti Jerman (Barat dan Timur) pada tahun 1993. Bagi Cina dahulu dengan kebijakan satu Cina tentu juga ancaman, karena Taiwan dilindungi AS, walaupun saat ini Taiwan sudah tunduk pada Cina. Padahal Taiwan secara teritori yang paling berhak atas Kepulauan Spratly, karena jaraknya terdekat atau 170 kilometer. Sedangkan dengan Cina daratan berjarak sekitar 400 kilometer dan dengan Jepang berjarak 350 kilometer.

Dalam konteks proxy war (energy security) bagi Cina, cadangan 17,7 miliar barrel per hari di Kepulauan Spratly adalah segala-galanya untuk pemenuhan energi penduduknya yang mencapai 1,6 miliar orang. Cina menyiapkan anggaran sampai tahun 2030 (di saat krisis energi terjadi) senilai USD 1 triliun. Skema OBOR (One Belt One Road) agar jalur pipa energi dan makanan (food security) terjamin nantinya. Konflik Rohingnya tidak akan diributkan dunia jika Cina tidak membuat pelabuhan dan jalur pipa di Myanmar, bahkan diisukan ada pangkalan senjata nuklir.

Sementara AS di Pasifik dengan armada ke-7 di Asia berkekuatan 60 kapal perang, 350 pesawat tempur termasuk F-35 yang belum ada tandingannya saat ini dapat mengebom dari ketinggian 200 kilometer di udara, 60.000 serdadu dan kapal induk USS Ronald Reagan berbasis di pangkalan militer Angkatan Laut AS di Yokosuka Jepang.

Tentara Rakyat Cina mempunyai kapal induk Liaoning sejak 2012 yang dibeli dari Ukraina, bekas Uni Soviet, dan direnovasi persenjataannya sehingga siap tempur. Sementara 1 kapal induk lainnya sudah disiapkan dengan teknologi Rusia.

Sekarang Cina berlatih tempur bersama Rusia dan Korea Utara. Jika 3 kekuatan ini digabung, tentu masih kalah dengan kekuatan AS di Asia, tentunya bersama Jepang dan Korea Selatan.

Kekuatan Korea Utara dan mulut Kim Jong-un

Pasca bom hidrogen diujicoba 3 September 2017 yang lalu, Kim Jong-un memperoleh sanksi PBB, namun justru membuat dia semakin menantang AS. Sebelumnya, pada 29 Agustus 2017 Korea Utara meluncurkan rudal jelajah yang melewati udara Jepang (Pulau Hokkaido). Tahun 1988 dan 2009 juga pernah meluncurkan roket, namun dibantahnya karena dianggap sebagai peluncuran satelit, bukan senjata.

Rudal jelajah yang mencapai 2.700 kilometer membuat rakyat Jepang berlindung, khawatir terjadi ledakan di sekitar pulau Hokkaido kala itu.

Negara lain yang tidak terdeteksi adalah, Iran, Jerman, dan Turki. Namun pasti tidak akan besar, sebab jika tidak pasti PBB (AS) akan ribut, apalagi ketiga negara tersebut musuh besar bagi Yahudi (Israel).

AS juga memiliki 1,4 juta prajurit aktif, pasukan elite Navy SEAL (Pasukan Khusus Angkatan Laut AS), Delta Force, adalah pasukan khusus paling handal di dunia, dengan 5.884 tank, artileri gerak cepat 1.934, tank 41.062 dan loket peluncuran 1.331.

Di laut, AS memiliki 74 kapal perang, sedangkan Korea Utara memiliki 438 kapal perang. AS memiliki 70 kapal selam, sedangkan Korea Utara memiliki lebih banyak, yakni 76 kapal selam. Hanya saja yang tidak mungkin dimiliki Korea Utara adalah kapal induk, AS memiliki 19 kapal induk, sedangkan Korea Utara tidak memilikinya, dan Cina hanya memiliki 1 kapal induk.

Di udara, AS memiliki 13.762 pesawat tempur canggih, sedangkan Korea Utara hanya memiliki 944 pesawat tempur. AS memiliki 6.065 unit helikopter tempur, sedangkan Korea Utara hanya memiliki 202 unit, dan yang bisa untuk tempur hanya 20 unit dibanding AS yang 947 helikopter tempur canggih.

Secara geostrategis, Cina dan Rusia tidak mau bertempur, namun begitu mengetahui maksud AS baik dalam konteks energy security, kepulauan Spratly dan persatuan Korea sehingga Korea Utara dihilangkan secara teritori menjadi Konsep ‘Satu Korea’.

Dalam konteks migas, Kepulauan Spratly AS sedang melakukan negosiasi mengingat secara fisik Cina sudah membuat pangkalan militer di kepulauan tersebut. Oleh karena itu Cina melibatkan Rusia (di mana Vladimir Putin sedang marah terhadap Donald Trump) mengenai sanksi AS terhadap Rusia. Sekutu ideologis dengan Rusia, secara taktikal saat ini sedang “on” sehingga Rusia melibatkan diri dengan alasan Korea Utara adalah sekutu ideologisnya bersama Cina. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here