Nyanyian Eni Bisa Jerat Penerimaan Uang Sofyan Basir

0
51
Politisi Golkar Eni Saragih sudah mulai menyeret-nyeret nama Dirut PT PLN Sofyan Basir dalam kasus penerimaan suap proyek pembangunan PLTU Riau-1.

Nusantara.news, Jakarta – Dalam kesaksian Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih terungkap bahwa Dirut PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basir dan mantan Menteri Sosial Idrus Marham menerima uang proyek PLTU Riau-1.

Indikasi kuat itu terungkap dari pendalaman yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) soal pertemuan antara mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih dengan Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir dan pemegang saham Blackgold Natural Recourses Limited Johannes B. Kotjo, indikasi itu semakin kuat.

Pertemuan Eni, Sofyan, dan Kotjo terkait pembahasan pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1. Dalam pertemuan itu dibahas pembagian hasil antara DPR, Dirut PLN dan mantan Mensos Idrus Marham.

“Ini hanya pendalaman-pendalaman saja, soal pertemuan saya dengan Sofyan Basir, Kotjo. Masih seputar itu saja,” demikian pengakuan Eni usai diperiksa KPK kemarin.

Eni mengaku diperiksa sebagai saksi untuk mantan Menteri Sosial Idrus Marham, salah satu tersangka dalam kasus dugaan suap PLTU Riau-1. Menurut politikus Golkar itu, pemeriksaan dirinya hari ini masih seputar pertemuannya dengan Sofyan dan Kotjo.

“Kalau saya ada perkembangan yang baru saya pasti sampaikan. Ini masih pendalaman-pendalaman yang kemarin juga. ini kan Pak Kotjo mau sidang jadi soal seputar itu saja,” ujarnya.

Eni sebelumnya telah mengajuka permohonan sebagai justice collaborator (JC) kepada KPK untuk bisa mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dalam proyek PLTU Riau-1. Eni sebagai tersangka suap terkait proyek pembangunan PLTU Riau-1 yang terkena operasi tangkap tangan (OTT) saat menghadiri ulang tahun anak Idrus Marham di rumah dinas Mensos.

Kuasa hukum Eni, Robinson membenarkan bahwa kliennya sudah menyampaikan permohonan sebagai JC dalam kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1. Menurut Robinson, permohonan JC diajukan pada pekan lalu.

“Sudah (diajukan) Minggu lalu kayaknya,” kata Robinson dikonfirmasi terpisah lewat pesan singkat.

Sebagai JC, Eni berjanji akan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dalam proyek PLTU Riau-1 dan siapa saja yang menerima uang dari kasus tersebut. Dalam pemeriksaan awal mereka yang diduga menerima uang dari proyek tersebut, selain Eni, Idrus Marham, Johannes Kotjo, juga Sofyan Basir dan Dirut PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati. Hanya saja ketika hendak diminta sebagai saksi, Nicke tak hadir ke KPK pekan lalu.

Menurut Robinson mengatakan Eni bakal buka-bukaan soal pihak-pihak yang terlibat dalam kasus dugaan suap tersebut. Dalam kasus ini, Eni diduga bersama-sama Idrus menerima hadiah atau janji dari Kotjo. Eni diduga menerima uang sebesar Rp6,25 miliar dari Kotjo secara bertahap.

Penyerahan uang kepada Eni tersebut dilakukan secara bertahap dengan rincian Rp4 miliar sekitar November-Desember 2017 dan Rp2,25 miliar pada Maret-Juni 2018.

Uang itu adalah jatah Eni untuk memuluskan perusahaan Kotjo menggarap proyek senilai US$900juta. Namun, proyek tersebut dihentikan sementara setelah mencuatnya kasus dugaan suap ini.

Sofyan terima uang

Adapun dugaan Sofyan Basir ikut menerima uang suap dalam proyek tersebut juga diungkap oleh Eni saat awal-awal OTT. Itu sebabnya KPK tak lama setelah OTT Eni menggeledah kantor dan rumah pribadi Sofyan Basir.

Tak hanya sampai disitu, KPK juga memeriksa Sofyan Basir beberapa kali sebagai saksi atas OTT Eni. Sofyan pertama kali diperiksa pada 20 Juli 2018. Usai diperiksa Sofyan mengaku mengenal Eni Saragih dan Kotjo. Ia juga mengaku beberapa kali bermain golf bareng Idrus. Namun, Sofyan membantah mengetahui pemberian uang yang dilakukan Kotjo kepada Eni Saragih.

Setelah itu Sofyan diperiksa kembali sebagai saksi pada 7 Agustus lalu. Pada pemeriksaan kali itu, penyidik KPK pun mendalami dugaan pertemuan yang dilakukan Sofyan dengan Eni Saragih dan Kotjo.

Dalam kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1 ini, KPK telah menjerat tiga orang sebagai tersangka. Mereka di antaranya Eni, Kotjo, dan terbaru Idrus Marham. Eni dan Idrus diduga bersama-sama menerima hadiah atau janji dari Kotjo.

Nama Sofyan mencuat setelah Eni Saragih dan Kotjo ditangkap tim penindakan KPK pada 13 Juli 2018.

Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengatakan bahwa Eni telah menyampaikan dugaan penerimaan uang Sofyan dari proyek PLTU Riau-1. Keterangan Eni itu menjadi salah satu bukti untuk didalami penyidik lembaga antirasuah.
“Baru dari satu orang saja si Eni (yang menyebut Sofyan Basir terima uang). Nah baru satu saksi itu aja,” kata beberapa waktu lalu.

Tentu saja KPK terus menggali informasi dari sumber lain yang terkait guna melengkapi bukti-bukti dan keterangan. Setelah dirasa lengkap maka KPK dengan penuh percaya diri membawa semua hasil pengumpulan bahan keterangan itu ke sidang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Sofyan Basir sendiri pernah membantah keterlibatan PLN dan dirinya dalam kasus PLTU Riau-1. Sofyan menjelaskan secara rinci mengenai keterlibatan PLN dalam konsorsium pada pembangunan PLTU Mulut Tambang Riau

Sofyan mengatakan, dalam pembangunan PLTU Riau 1, PLN telah menunjuk langsung anak usaha, yaitu PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) untuk melakukan pembangunan. Anak usaha PLN tersebut kemudian ‎menggandeng perusahan konsorsium untuk dijadikan mitra.

“Jadi oleh PJB dan Konsorsium. Nah konsorsium ini pengusaha swasta dan pengusaha asing atau investor. Kawin sama PJB, gitu,” sanggah Sofyan beberapa waktu lalu.

Sofyan menduga, kasus penyuapan hanya terjadi pada sisi pembentukan konsorsium, dan tidak melibatkan oleh PJB yang merupakan anak usaha PLN dan PLN karena statusnya terpisah dengan konsorsium.

Adapun untuk penunjukan konsorsium, anak usaha PLN telah melakukan seleksi ketat mitra dengan pemilihan berdasarkan kualifikasi yang ditetapkan dari induk usaha. “Laporan PJB enggak ada kasusnya, dia itu kan kasusnya di sana (konsorsium) penyuapannya,” tutur Sofyan.

Sofyan mengungkapkan, dari laporan terakhir yang diterimanya PLN dan anak usahanya tidak terlibat kasus penyuapan. “Enggak ada. Enggak ada laporan, sementara ini kan baru ya. Insyaallah (tidak terlibat),” ujarnya.

Pertanyaannya, apakah Sofyan Basir kali ini terjerat dalam perangkap KPK? Atau lolos lagi seperti kasus-kasus sebelumnya? Semua akan teruji di Sidang Tipikor nanto.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here