Ocehan Donald Trump Pantik Emosi Muslim Surabaya

0
49
Massa Demo di Depan Konjen Amerika Serikat di Surabaya

Nusantara.news, Surabaya – Ocehan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel memantik reaksi. Di Surabaya, ratusan umat Muslim, simpatisan dan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Timur menggelar aksi demo di depan Konsulat Jenderal Amerika Serikat (Konjen AS) di Perumahan Citra Raya Surabaya, Jumat (8/12/2017) lalu.

Kritik dan luapan kekesalan terlontar, termasuk pernyataan sikap sepakat dan mendukung pernyataan Pemerintah Republik Indonesia yang menolak keras perpindahan Ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Ditegaskan, Indonesia mengkritik langkah melenceng yang dilakukan Negeri Paman Sam itu yang mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel.

“Langkah Amerika sangat salah dan dapat mengganggu proses perdamaian di kawasan tersebut,” tegas Ketua DPW PKS Jatim, Arif Hari Setiawan.

Sambil membawa bendera Merah Putih, massa juga mengusung sejumlah poster berisi kecaman dan penolakan pernyataan Donald Trump. Dalam aksi itu, massa juga melontarkan 10 pernyataan sikap serta desakan agar segera dilakukan pencabutan pernyataan dukungan yang dilontarkan oleh Donald Trump.

“Kami minta Pemerintah Amerika Serikat, termasuk Donald Trump segera mencabut pernyataannya yang mendukung Yerusalem sebagai Ibukota Israel,” tegas Arif Hari Setiawan.

Baca Juga: Indonesia Tolak Keras Ibukota Israel Pindah dari Tel Aviv ke Jerusalem

Namun, sudah menjadi kebiasaan, tidak gampang mendekati Konjen AS di Surabaya ini. Dalam kesehariannya saja sangat ketat dengan aturan yang diterapkan untuk mendekat atau masuk areal Konjen AS. Hal sama juga diperlakukan saat massa melakukan aksi demo di depan Konjen AS. Mereka hanya bisa melakukan aksi dan melontarkan suara protes dari radius 100 meter, dari pintu gerbang bangunan megah Konjen AS. Massa pendemo juga dibatasi lilitan besar kawat berduri serta penjagaan ketat puluhan petugas kepolisian. Petugas Brimob bersenjata lengkap juga tak luput ikut bersiaga di depan pintu Konjen AS.

Sejumlah poster yang dibawa di antaranya, bertuliskan ‘Freedom of Palestina’, ‘USA Under, Trump is Monster For World Peace’, ‘Trump Do Not Break!, dan ‘Usir Israel dari Al Quds’.

Massa mengecam pernyataan sepihak yang menyebut Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, dan itu adalah tindakan yang jelas-jelas mengancam stabilitas keamanan dan perdamaian dunia. Serta dianggap melecehkan umat Muslim.

Pernyataan dan ajakan kepada umat Muslim serta seluruh komponen masyarakat di Indonesia untuk terus mendukung pembebasan Palestina dari penjajahan dan kekejaman yang dilakukan Zionis Israel. Arogansi dan perlakuan kesewenang-wenangan Israel terhadap umat Muslim di wilayah itu juga harus dilawan.

Indonesia Tegas, Tolak Pernyataan Perpindahan Ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem

Untuk diketahui Pemerintah Indonesia dengan tegas menolak keras pernyataan perpindahan Ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Selain melancarkan kritik, Indonesia juga menyayangkan langkah Amerika mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel.

Pernyataan itu dilontarkan Wakil Tetap (permanent representative) RI untuk OKI (Organisasi Kerjasama Islam) Agus Maftuh Abegebriel yang juga Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Arab Saudi, di Pertemuan Luar Biasa (Extraordinary Meeting) seluruh perwakilan tetap OKI tentang “Rencana Pengakuan Amerika terhadap Yerusalem Sebagai Ibukota Israel dan Rencana Perpindahan Kedutaan Besar Amerika dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“Hal ini merupakan langkah yang salah arah dan dapat mengganggu proses perdamaian di kawasan Indonesia juga sangat mengkhawatirkan dampak buruk perpindahan dari Kedutaan Besar Amerika dari Tel Aviv ke Yerusalem,” kata Wakil Tetap RI untuk Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Agus Maftuh Abegebriel dalam pertemuan Luar biasa OKI di Jeddah, Arab Saudi.

Ditegaskan, di pertemuan mendadak dan luar biasa di Markas Besar OKI Jeddah yang diikuti para Wakil Tetap semua negara-negara anggota OKI itu, Agus Maftuh menegaskan, meski Presiden AS Donald Trump belum menentukan sikap akhir, Menlu RI Retno Marsudi sudah melakukan langkah cepat, memanggil Dubes AS untuk Indonesia agar bertemu dengan Menlu Amerika dan menyampaikan keprihatinan terhadap rencana AS tersebut. Serta meminta Amerika bersikap dan selalu aktif dalam mendukung proses perdamaian Palestina dan Israel. Bukan sebaliknya malah memperkeruh suasana, termasuk pernyataan yang dilakukan oleh Donald Trump.

Baca Juga: Maulid Nabi, Jejak Agung Negarawan Dunia

Indonesia, dalam pernyataan sikapnya yang disampaikan Watap RI dan diterjemahkan dua bahasa, Arab dan Inggris juga menegaskan, Indonesia menyerukan kepada semua negara anggota OKI untuk selalu melaksanakan komitmen mendukung Palestina.

Termasuk menerapkan berbagai tindakan nyata yang sudah disepakati dalam “Deklarasi Jakarta”, yang diadopsi dalam KTT Luar Biasa kelima OKI tentang Palestina dan Al-Quds Al-Sharif, yang digelar di Jakarta Maret 2016, lalu.

“Indonesia selalu konsisten dan teguh membantu serta mendukung perjuangan Palestina,” tegas Agus Maftuh.

Ini Kebohongan Zionis Israel Terhadap Dunia 

Israel Usir Muslim Palestina dari Rumahnya

Untuk diketahui, kebohongan Israel telah merebak dan diketahui dunia. Israel dengan sengaja telah melakukan pelecehan terhadap umat Muslim. Termasuk kepada Indonesia sebagai negara yang memiliki mayoritas penduduk beragama Islam.

Dikutip dari catatan Zmaillz Ibnu Amran, ada 10 kebohongan besar yang dilakukan Israel. Seorang penulis asal Belgia bernama Michel Collon, mengungkapkan kebohongan Israel dalam buku berjudul ‘Israel, let’s talk about It’. Di buku itu dia mengungkapkan selama bertahun-tahun media Barat ternyata dengan sengaja memuat kebohongan untuk mendukung Israel dan disebar luaskan. Termasuk alasan Israel melakukan pendudukan atas wilayah Palestina.

Pertama, Israel menyebut bahwa, pembentukan negara Yahudi merupakan reaksi atas pembunuhan massal di Perang Dunia II. Menurut Collon, konsep negara Israel sudah dimunculkan pada Kongres Zionis I di Basel tahun 1897, jauh sebelum Perang Dunia II terjadi.

Kedua, warga Yahudi memerlukan kembali ke tanah leluhurnya, karena di tahun 70 M mereka terusir. Seorang sejarawan Yahudi, Shlomo Sand juga yang lain yakin bahwa tidak ada eksodus, sehingga istilah ‘kembali’ tidak lagi diperlukan.

Ketiga, pernyataan bahwa saat diduduki, Palestina adalah wilayah tak berpenghuni. Padahal, rekaman sejarah menunjukkan bahwa di abad ke-19, hasil pertanian Palestina telah diekspor ke berbagai negara, termasuk ke Perancis.

Keempat, warga Palestina pergi dengan kerelaan untuk meninggalkan kampung halamannya. Kabar bohong ini terus dihembuskan Israel. Illan Pappe dan Benny Morris, pengamat sejarah, memberikan kesaksian bahwa warga Palestina terusir dengan pemaksaan dan kekerasan.

Kelima, di mata dunia, Israel terus mendengungkan dirinya sebagai satu-satunya negara demokratis di kawasan Timur Tengah. Faktanya, Israel dikelola oleh rezim yang tidak punya hukum yang mendefinisikan batas wilayahnya. Para pemimpin Israel terus meniupkan semangat ekspansionisme dengan mencaplok wilayah-wilayah di sekitarnya yang kini diduduki. Hukum yang mereka gunakan juga hukum rasis, hanya berpihak kepada Yahudi dan Zionis.

Baca Juga: Saatnya Indonesia Jadi Negara “Tax Haven”?

Keenam, Israel selalu menyebut bahwa dukungan Amerika Serikat (AS) datang untuk menegakkan demokrasi. Padahal semua itu omong kosong, karena dana yang dikirim AS senilai 3 miliar dolar AS per tahun adalah untuk menyerang negara tetangga Israel dan melancarkan aliran minyak dari Timur Tengah.

Ketujuh, perundingan yang digagas AS untuk mendamaikan Israel dan Palestina hanya pura-pura. Mantan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Javier Solana, jelas-jelas pernah menyatakan bahwa Israel adalah anggota ke-21 Uni Eropa. Sebaliknya, dia tidak pernah mau mengakui Palestina. Eropa juga merestui penyerangan Israel ke Gaza.

Kedelapan, istilah anti-semit juga menjadi alat kebohongan bagi Israel. Semua pengkritik Israel dianggap anti-semit, meski sesungguhnya mereka mengkritik rezim yang diskriminatif dan rasis.

Kesembilan, isu terorisme juga didorong untuk terus memojokkan Palestina. Perjuangan para pejuang Hammas untuk mengusir penjajahan dianggap sebagai aksi terorisme. Padahal pendudukan Israel adalah bentuk nyata aksi terorisme terlembaga dan terkoordinir yang didukung negara-negara raksasa.

Kesepuluh, Israel dan para pendukungnya terus mengkampanyekan, bahwa masalah Palestina tidak akan pernah bisa terselesaikan dengan menebar kebencian atas Israel. Padahal, satu-satunya solusi yang bisa menyelesaikan adalah dengan membangkitkan publik untuk menekan AS dan negara-negara di Eropa yang mendukung Israel. Juga mendorong media untuk memberitakan secara jujur kondisi yang terjadi di Palestina.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here