Oktober, Khofifah Deklarasi Maju di Pilgub Jatim 2018

0
597
Mensos Khofifah Indar Parawansa.

Nusantara.news, Surabaya – Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa (KIP) semakin menunjukan akselerasinya sebagai kandidat kuat penantang Petahana Saifullah Yusuf alias Gus Ipul dalam Pilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018. Tunggu apalagi, sounding test sudah, check sound juga sudah bahkan dukungan kaum muslimat masih utuh dan berada di belakangnya. So, kapan KIP segera mendeklarasikan diri maju Pilgub Jatim 2018?

Itulah pertayaan yang terus mengiang di telinga para pendukung setia Khofifah Indar Parawansa. Kebanyakan dari mereka (pendukung) sudah tak sabar agar perempuan yang sudah dua kali Nyagub dan gagal ini untuk segera mempublikasikan kesiapan maju menantang Gus Ipul.

Sumber internal di Jakarta yang berhasil dikonfirmasi Nusantara.news menyatakan kalau KIP punya modal besar untuk maju di Pilgub Jatim 2018. Selain dukungan besar dari masyarakat Jatim, KIP juga akan didukung oleh koalisi besar dari sejumlah partai. Bahkan, elite politik yang berada di DPP sudah menyatakan siap mengawal KIP untuk menduduki Grahadi 1.

Siapa saja partai koalisi besar yang siap mendukung KIP? Menurut sumber yang bisa dipercaya, nanti akan segera diumumkan saat deklarasi KIP maju di Pilgub Jatim. Namun, dirinya menegaskan sudah ada kesepakatan di antaranya dalam persamaan visi dan misi untuk membangun Jatim lebih baik lagi.

Namun, sampai saat ini, KIP belum menyatakan dirinya untuk maju. Dari keterangan sumber tersebut menyatakan dalam waktu dekat, tepatnya Oktober nanti KIP segera melakukan deklarasi. Namun, soal tempat dan tanggal pastinya masih dikoordinasikan dengan partai koalisi. “Bulan Oktober KIP deklarasi maju Pilgub Jatim 2018,” tegasnya, Selasa (8/8/2017).

Khofifah Tak Gentar Dengan Manuver Cak Imin
KIP sendiri sampai saat ini menunjukan kesiapan untuk maju. Bahkan, tekadnya sudah bulat. Ini dibuktikan dengan kunjungan ke berbagai daerah di Jawa Timur, bahkan beberapa daerah yang dia kunjungi sudah memberikan dukungan besar kepadanya seperti, Sumenep, Pamekasan, dan Bojonegoro.

”Dan itu ‘kan semuanya natural gitu. Saya datang lagi ke Mojokerto di salah satu pesantren yang cukup prestisius, juga ternyata support-nya luar biasa. Jadi ini sebenarnya proses yang berjalan alami,” ungkap Khofifah usai Rapat Koordinasi di Kantor Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Khofifah sendiri sudah menyatakan siap lahir dan bathin untuk maju Pilgub, meski manuver pesaing terdekatnya Gus Ipul sudah melakukan start terlebih dahulu dalam menjaring dukungan, terutama di basis pendukung Nahdliyin, para kiai, dan juga dukungan partai politik. Check sound sudah dianggap selesai, tinggal menyamakan frekuensi dukungan antar elemen.

”Jangan karena (saya) perempuan, kemudian underestimate terhadap perempuan, hati-hati loh. Sudah selesai saya rasa check sound. Ini saya lagi menyamakan frekuensi, kira-kira gitulah posisinya. Penyamaan frekuensi dukungan yang dimaksud, misalnya dukungan dari kalangan anak muda, pesantren, kalangan perempuan, dan termasuk dari para kiai,” terangnya.

Sementara itu, dari safari politik yang dilakukan oleh Gus Ipul. PKB sudah menyatakan siap di belakangnya. Termasuk dengan mendaftar lewat Partai Demokrat dan PDIP. Selain itu, Gus Ipul juga mengklaim telah mendapatkan dukungan dari sejumlah kiai kampung. Dan baru-baru ini Gus Ipul juga mendaftar ke partai Golkar.

Namun, kegalauan ditunjukan tim sukses Gus Ipul di mana Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar melakukan ‘propaganda’ agar Khofifah Indar Parawansa tak maju. Bahkan pria yang akrab disapa Cak Imim menilai dukungan Khofifah tak sekuat saat maju di Pilgub Jatim 2008 dan 2013.

“Pasti (tak sekuat dulu). Makanya saya ingatkan, jangan memaksakan diri, lebih baik bersatu daripada nanti kita pecah dan kalah juga dia. Waktu itu kita dua kali dukung Khofifah,” kata Muhaimin, Senin (7/8).

Namun pernyataan Cak Imin ini ditanggapi enteng oleh Khofifah. Menurutnya, Muhaimin tidak update lapangan. “Saya belum memutuskan (nyalon), tapi proses di lapangan ‘kan luar biasa. Lihatlah bagaimana orang pasang spanduk, baliho di Sumenep, Pamekasan maupun tanda tangan kiai begitu banyak. Saya khawatir Mas Imim nggak update lapangan,” katanya di kantor Kemenko PMK, Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Ya, pantaslah kalau Muhaimin makin galau. Tak hanya soal sejarah yang akan terulang kembali,  setiap calon yang diusung PKB akan kalah di Pilgub Jatim (2008 dan 2013), juga terkait gelombang tinggi dukungan kepada Khofifah yang sudah masuk ke pelosok daerah meski belum menyatakan deklarasi.

Dua Kali Pilgub, Dua Kali PKB Gagal
Untuk diketahui suara PKB di Pilgub 2008 hanya memperoleh 8,21% saat mengusung Achmady-Suhartono (Achsan). Sebaliknya, Khofifah-Mudjiono (Kaji) diusung oleh PPP justru meraih 24,82% suara. Bahkan, paslon PKB masih kalah dengan paslon yang diusung PDIP, Sutjipto-Ridwan Hisjam (SR) yang meraih 21,19%. Juga masih kalah dengan pasangan Soenarjo-Ali Maschan Moesa (Salam) yang diusung Golkar (19,34%).

Akhirnya pasangan Kaji melaju putaran kedua head to head dengan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) yang diusung Demokrat-PAN dengan perolehan suara 26,44%. Bahkan Kaji nyaris menang andai tidak dikerjai oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Mengingat semua lembaga survei mengunggulkan Kaji namun rekapitulasi KPU Jatim justru memenangkan Karsa. Karsa berbalik menang dengan 7.729.944 suara (50,20%), sedangkan Kaji 7.669.721 suara (49,80%). Ada selisih 60.223 suara atau 0,4% dan 506.343 suara dinyatakan tidak sah.

Sementara, pada Pilgub selanjutnya PKB juga gagal memenangi di episode 2013, berkoalisi dengan PMB, PK, PPNUI dan PKPI mencoba ‘peruntungan’ dengan mengusung Khofifah – Herman S Sumawiredja (Berkah). Hasilnya Berkah hanya meraih 6.525.015 suara (37,62%), sedangkan incumbent Karsa yang diusung Demokrat, Golkar, PAN dan Parpol non kursi menang dengan 8.195.816 (47,25%).

Menilik perolehan suara Khofifah yang terkoreksi 1.144.706 dibanding perolehan di Pilgub Jatim 2008, bisa dibilang peran PKB tak signifikan. Selain Karsa diuntungkan posisi incumbent, suara Khofifah tetap lebih banyak disokong warga Muslimat NU yang mencapai sekitar 7 juta di Jatim.

Sementara itu, CEO The Initiative Institute, Airlangga Pribadi Kusman juga menyatakan hal yang sama. Menurutnya, dalam konteks Pilkada, popularitas calon lebih mendulang perolehan suara ketimbang support Parpol. “Kalau dibandingkan, ya lebih kuat popularitas calon ketimbang dukungan Parpol,” cetusnya.

“Karena itu, kalau Khofifah maju maka Pilgub Jatim 2018 akan kompetiitf. Beliau memiliki track record cukup bagus di Jatim, basis suaranya juga cukup kuat di Muslimat NU dan NU. Saya rasa akan berbagi irisan dengan Gus Ipul,” jelas Direktur Surabaya Survei Center (SSC), Mochtar W Oetomo.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here