Omong Kosong AS tentang Kapal Induk di Semenanjung Korea

0
700

Nusantara.news, Washington – Sabtu 15 April lalu ketegangan memuncak di Korea Utara, rudal-rudal terbaru dipamerkan dalam parade militer memperingati 105 tahun pendiri Korea di Pyongyang, Kim Il Sung. Menyaksikan parade, pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un seolah menantang Amerika dengan berkata, “Inilah kekuatan senjata nuklir kami.”

Seminggu sebelumnya, genderang perang ditabuh pemerintah Korea Utara. Mereka menyatakan siap perang dengan Paman Sam. Kemarahan dipicu setelah Washington mengumumkan telah mengirimkan armada kapal induk USS Carl Vinson mendekat ke semenanjung Korea di Laut Jepang. Korea Utara pun bersiap menyambut.

Tapi, apakah Carl Vinson benar-benar sudah berada di Laut Jepang, tepatnya di semenanjung Korea? Ternyata, itu omong kosong belaka. Nyatanya, kapal induk bertenaga nuklir itu belakangan masih terlihat di Selat Sunda Indonesia yang jaraknya ribuan mil dari Laut Jepang, kendati perintah Trump sudah seminggu lebih, dan Korea Utara sudah sempat melakukan uji coba rudal kembali pada Minggu (16/4) kendati dilaporkan gagal.

Senin (17/4) Angkatan Laut Amerika memposting foto Carl Vinson, lengkap dengan jet tempurnya melintasi Indonesia, di sebuah selat yang berada antara pulau Jawa dan Sumatra. Postingan itu diungkap oleh Defense News, sebuah media publikasi perdagangan, yang menyampaikan laporan bahwa kapal induk itu berada jauh ribuan mil dari semenanjung Korea di Laut Jepang.

Sementara, banyak orang, termasuk mungkin Korea Utara, mengira kapal induk itu telah berada di semenanjung Korea.

Sudah lebih dari seminggu pihak Gedung Putih memerintahkan agar kapal induk Amerika Serikat, USS Carl Vinson bergerak ke semenanjung Korea untuk mengirim sinyal peringatan kepada Korea Utara atas ulahnya meluncurkan rudal-rudal balistik yang provokatif, salah satunya jatuh ke zona perairan Jepang.

“Kami telah mengirimkan armada,” kata Presiden Trump kepada Fox News waktu itu.

Tapi masalahnya, kapal induk Carl Vinson beserta tiga kapal perang lainnya saat ini justru berlayar ke arah berlawanan, mereka sepertinya masih berada di jalur awal untuk  ambil bagian dalam latihan perang bersama dengan Angkatan Laut Australia di Samudera Hindia.

Pada Sabtu (15/4), atau empat hari setelah sekretaris pers Gedung Putih, Sean Spicer, menjelaskan misi AS di Laut Jepang, posisi kapal induk AS itu masih berada di Selat Sunda, kawasan laut Indonesia, yang terpaut jarak sekitar 3.500 mil di barat daya semenanjung Korea.

Sebagaimana dilansir The New York Times, Selasa (18/4) para pejabat Gedung Putih mengatakan, mereka telah mendapat arahan dari Departemen Pertahanan. Mereka mendapat penjelasan dari menteri Pertahanan Jim Mattis bahwa kekeliruan telah terjadi pada Komando Pasifik.

Mungkin, jika Angkatan Laut AS tidak memposting foto keberadaan kapal induk USS Carl Vinson di Selat Sunda, tidak akan muncul kontroversi yang membuat sejumlah pihak berpikir bahwa Komando Pasifik tidak mematuhi perintah.

Menurut pejabat Departemen Pertahanan, sekarang semua masalah tersebut sudah ditangani, Carl Vinson akhirnya berputar menuju semenanjung Korea, dan diharapkan kelompok kapal induk penyerang tersebut akan tiba di Laut Jepang pada pekan depan.

Sementara itu, para pejabat Gedung Putih menolak mengomentari kekacauan yang terjadi dalam pengiriman armada kapal induk AS ini.

“Itu semua tentang proses,” kata sekretaris pers Gedung Putih, Sean Spicer.

Pejabat lain menyatakan bingung kenapa Pentagon tidak segera mengubah jadwal USS Carl Vinson, terutama mengingat ketegangan yang terjadi di kawasan semenanjung Korea.

“Kapal ini sekarang sudah bergerak ke utara ke arah Pasifik Barat,” kata kepala juru bicara Pentagon, Dana White, Selasa (18/4). “Ini seharusnya dikomunikasikan lebih jelas pada saat itu.”

Kronologi peristiwa

Kesalahan dimulai pada 9 April 2017, ketika kantor urusan publik Angkatan Laut Armada Ketiga mengeluarkan rilis yang mengatakan bahwa Laksamana Harry B. Harris Jr, komandan Pasifik, telah memerintahkan Carl Vinson, kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz, dan kekuatan penyerang lainnya, dua kapal perusak dan satu kapal penjelajah, meninggalkan Singapura dan berlayar ke Pasifik Barat. Namun seperti biasa, Angkatan Laut AS tidak mengatakan secara persis di mana posisi kapal induk tersebut berada.

Waktu itu Presiden AS Donald Trump baru saja mengadakan pertemuan dengan Presiden Cina Xi Jinping di resor Mar-a-lago Florida dan membawa pesan bahwa AS telah hilang kesabaran dengan Korea Utara terkait uji coba senjata dan program senjata nuklirnya.

Pada hari itu juga, Kepala Dewan Keamanan Nasional Jenderal McMaster mengatakan kepada Fox News bahwa pengiriman armada kapal induk dirancang agar memberikan kepada Presiden berbagai macam pilihan untuk melakukan tindakan dalam menghentikan provokasi pimpinan Korea Utara Kim Jong-Un.

Sementara itu, pejabat Angkatan Laut AS mengatakan bahwa Laksamana Harris tidak pernah menyarankan pembatalan latihan angkatan laut dengan Australia. Persiapan latihan tersebut merupakan upaya yang rumit yang telah dilakukan selama berbulan-bulan. Seorang pejabat menggambarkan latihan itu sebagai upaya persiapan kedua angkatan laut, AS dan Australia untuk kemungkinan perang melawan Cina.

Beberapa pejabat Gedung Putih menyatakan terganggu dengan sikap Laksamana Harris, dan mengatakan bahwa dia tidak memikirkan konsekuensi mengumumkan posisi kapal induk AS di saat ketegangan AS dan Korea Utara meningkat.

Menteri Pertahanan Jim Mattis juga menekan Angkatan Laut agar segera beroperasi di Pasifik, “Tidak ada permintaan atau alasan tertentu mengapa kami mengirim armada di lokasi tertentu,” tegas Mattis.

Ketidak-kompakan di kalangan internal pembantu Presiden Donald Trump kerap terjadi di dalam pemerintahan yang berjalan lebih dari dua bulan ini. Dari mulai soal kebijakan kerja sama dengan Rusia, pelarangan imigran dari 7 negara mayoritas muslim, penyerangan Suriah, hingga soal pengerahan kapal induk ke Korea Utara.

Bisa dibayangkan, seandainya waktu itu Presiden Trump memerintahkan lebih cepat serangan ke Korea Utara, sementara kapal induk masih berada di Selat Sunda Indonesia, apa jadinya? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here