Ongkos Kemanusiaan dari Krisis Qatar

0
103
Potret Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani di bagian belakang kendaraan dan teks dalam bahasa Arab: “Tamim yang mulia” di Doha. Foto: AFP/Getty Images

Nusantara.news Setiap krisis pasti selalu menimbulkan korban, banyak atau sedikit, baik dalam bentuk harta, benda bahkan jiwa atau rasa kemanusiaan. Begitu juga halnya yang terjadi pada krisis Qatar. Sebuah negara kecil yang diisolasi secara diplomatik, lalu diblokir jalur ekonominya, secara beramai-ramai oleh negara-negara yang sebetulnya masih sesama saudara, paling tidak saudara Muslim, dipimpin Arab Saudi. Sebagai negara kaya, dalam jangka pendek Qatar mungkin tak bergeming dengan pemutusan hubungan diplomatik, tapi bagaimana kalau situasi ini berlangsung lama?

Wajar, jika Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, bahwa isolasi terhadap Qatar adalah tidak manusiawi dan berlawanan dengan nilai-nilai Islam.

“Mengisolasi warga sebuah bangsa-dari makanan hingga perjalanan mereka, dari perdagangan hingga agama mereka-adalah tidak manusiawi dan berlawanan dengan nilai-nilai Islami,” kata Erdogan dalam pidato kepada para anggota parlemen dari partai pimpinannya, Partai AK, Selasa (13/06) di ibu kota Ankara, sebagaimana dikutip BBC.

Sementara itu, menurut laporan Qatars National Human Rights Committee atau semacam Komnas HAM di negara Qatar, sebagaimana dilansir The Guardian, Rabu (14/6), pemutusan hubungan diplomatik oleh sejumlah negara terhadap Qatar juga menimbulkan ekses kemanusiaan.

Misalnya, dengan adanya perintah agar warga Qatar di negara-negara yang memberlakukan pemutusan hubungan diplomatik seperti Arab Saudi, Bahrain dan Uni Emirat Arab, segera kembali ke Qatar. Banyak warga yang langsung terpengaruh dengan kebijakan tersebut. Di bandara internasional Qatar di Doha, ratusan penumpang ke berbagai tujuan menumpuk karena sejumlah penerbangan dibatalkan sebagai akibat pemutusan hubungan diplomatik.

Setiap malam kantor Komnas HAM Qatar didatangi sejumlah orang yang meminta bantuan dengan membawa dokumen mereka terkait krisis diplomatik tersebut.

“Kami telah menerima sekitar 700 orang (yang meminta bantuan) dalam sepekan terakhir,” kata seorang pejabat di kantor pusat Komnas HAM tersebut.

“Setiap malam seperti ini,” terangnya seraya menggambarkan bahwa selalu saja ada orang yang meminta bantuan.

Mereka yang datang untuk meminta bantuan kebanyakan menghadapi masalah, seperti terancam terpisah dengan keluarganya, biasanya mereka dari keluarga campuran dengan negara-negara Teluk. Ada juga yang melapor karena kehilangan pekerjaan atau terancam tidak bisa melanjutkan pendidikan selama krisis.

Pejabat Komnas HAM itu menceritakan misalnya tentang seorang pria Saudi yang meninggal di rumah sakit Hamad di Qatar, dan seorang anaknya yang kemungkinan dicegah oleh pemerintah Arab Saudi, tidak bisa menghadiri pemakamannya. Sebuah insiden kemanusiaan yang cukup mendapat banyak perhatian di negara itu. Menurut laporan kelompok-kelompok hak asasi manusia dan lembaga Amnesti Internasional kasus serupa banyak ditemukan selama krisis Qatar.

Di antara mereka yang mencari bantuan bukan hanya orang Qatar tetapi warga dari negara-negara yang terkena dampak krisis, seperti orang Saudi dan Bahrain yang tinggal di Qatar.

Fawaz Abdullah Bukamal (35) misalnya, dia adalah keturunan Bahrain seorang pekerja media  untuk saluran televisi olahraga di Qatar. Dia telah tinggal di Qatar sejak kecil, tapi pekan lalu dia dipecat dari pekerjaannya karena krisis tersebut, dan dia diperintahkan oleh Bahrain untuk kembali ke negaranya.

“Saya telah tinggal di Qatar sepanjang hidup saya, lalu minggu lalu (setelah Bahrain menarik semua warga negaranya di Qatar) TV saluran olahraga tempat saya bekerja mengatakan bahwa mereka tidak membutuhkan saya lagi,” kata Bukamal.

“Tapi saya tidak bisa kembali ke Bahrain. Hidup saya dan istri saya yang juga orang Bahrain di sini, dan dia sekarang di rumah sakit untuk persiapan melahirkan. Di Bahrain kami tidak punya tempat tinggal dan pekerjaan,” ceritanya.

“Saya ingin (tetap) tinggal di Qatar dan saya meminta pemerintah untuk membantu saya,” tambahnya lagi.

Situasi krisis Qatar yang serius tersebut membuat lembaga Amnesti Internasional memperingatkan bahwa pembatasan tentang kewarganegaraan akibat pemutusan hubungan diplomasi yang diberlakukan seminggu lalu itu, telah membuat sejumlah keluarga tercerai-berai.

Lembaga tersebut juga mendokumentasikan kasus seorang pria Arab Saudi yang tinggal di Doha bersama istrinya yang orang Qatar, tidak dapat mengunjungi ibunya yang sedang sakit parah di rumah sakit di Arab Saudi.

“(Jika) saya pulang ke rumah, saya tidak dapat melihat istri saya. (Jika) saya tinggal di sini, saya tidak dapat melihat ibu saya,” kata pria Saudi tersebut.

Amnesti Internasional juga menggambarkan situasi dilema yang dialami seorang wanita Qatar yang baru saja menikah, dia mengatakan kepada peneliti lembaga tersebut, bahwa dia telah dalam proses pindah ke Bahrain untuk tinggal bersama suaminya, seorang warga negara Bahrain saat krisis diplomatik itu terjadi.

“Saya sangat senang sebelum ada pelarangan ini, ketika saya mencari pekerjaan di Bahrain, saya akan pergi ke sana (Qatar) setiap akhir pekan untuk menengok keluarga dan rumah saya. Tapi sekarang, bagaimana saya bisa melakukannya?” Katanya.

Meskipun pada hari Minggu (18/6), Arab Saudi, UEA dan Bahrain mengumumkan bahwa mereka berencana untuk mempertimbangkan dampak krisis diplomasi tersebut terhadap keluarga dengan kewarganegaraan campuran, tapi hanya sedikit orang yang yakin hal itu akan mengurangi masalah.

Krisis ini juga menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian warga Qatar yang memiliki aset atau bisnis di negara-negara Teluk atau sebaliknya.

Seorang wanita Qatar berusia 28 tahun yang tidak mau disebut namanya, baru saja membeli dua apartemen untuk tujuan investasi di UEA.

“Karena memutus hubungan (diplomatik), sekarang saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan (apartemen). Saya menunggu hampir seminggu sebelum memutuskan untuk datang ke sini (Qatar),” katanya.

“Itu adalah investasi untuk masa depan saya. Saya harus terus membayar pinjaman tapi rekening bank saya di Emirates dibekukan. Saya benar-benar khawatir. Ini bukan hanya tentang uang,” tambahnya, sambil menangis.

“Emirat bukan tempat asing bagi saya. Saya harap semuanya akan baik-baik saja dan kita tidak akan melupakan teman dan keluarga kita di sana,” kata perempuan muda itu.

Kelompok lain yang terkena dampak luas adalah para siswa Qatar yang sekolah di negara-negara tetangga. Mereka telah membayar hingga USD 40 ribu setahun untuk sebuah pendidikan yang sekarang dihentikan, tepat sebelum ujian akhir tahun.

Seorang diantaranya adalah Dana al-Mansouri (22), mahasiswa kedokteran yang menempuh pendidikan di tahun ketiga.

“Saya belajar di Emirates, di kota Ajwan,” jelasnya. “Ketika kami mendengar pengumuman hari Senin yang lalu (yang mengatakan orang Qatar memiliki waktu 14 hari untuk kembali) saya menemui rektor. Itu tepat sebelum saya ujian, dan pada awalnya mereka mengatakan akan membantu. Kemudian saya mendapat telepon yang mengatakan, ‘Tidak sah jika Anda ikut ujian,’ dan mereka berkata, ‘Anda harus meninggalkan negara ini.’ Itu terjadi pada hari Selasa yang lalu.”

Pada hari Selasa kemarin, Qatar bergerak cepat membuka jalur udara dan laut melalui Iran, Turki dan pelabuhan di Oman, dalam upaya untuk mengurangi isolasi agar memberi jalur bagi masuknya stok bahan makanan.

Belum ada kemajuan signifikan mengenai upaya mediasi dalam krisis Qatar yang sudah berlangsung lebih dari seminggu itu. Sejumlah negara sudah menawarkan, baik kepada Qatar maupun Arab Saudi, untuk menjembatani krisis diplomatik tersebut. Qatar telah diisolasi oleh sejumlah negara tetangga sesama negara Teluk seperti Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Mesir, Libya, Yaman, dan Maladewa. Jalur udara dan darat Qatar diblokade oleh negara-negara tetangganya, sehingga saat ini praktis Qatar hanya punya satu jalur udara dan laut lewat perbatasan Iran. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here