OP Tidak Efetif, Langkanya Bawang Putih Hanya Beri Peluang Impor

0
84
Warga antre membeli bawang putih saat berlangsungnya operasi pasar bawang putih di pasar induk Osowilangun, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (19/5). Operasi pasar yang digelar Kementerian Pertanian bersama Kementerian Perdagangan dan Bulog tersebut bertujuan untuk menstabilkan harga bahan pokok, terutama harga bawang putih. ANTARA FOTO/Umarul Faruq/foc/17.

Nusantara.news, Surabaya – Indikasi permainan kartel dalam kelangkaan beberapa bahan kebutuhan pokok, memang sudah berusaha dibongkar pemerintah. Apalagi dalam momen Ramadan 1438 H kali ini, seolah jadi tradisi harga-harga terkerek naik dengan dalih terbatasnya ketersediaan beberapa komoditi seperti bawang putih. Tak terhitung sudah berapa kali operasi pasar (OP) digelar untuk menekan harga. Terutama di pasar-pasar tradisional. Faktanya, harga masih saja tinggi.

Tak heran, nada minor efektivitas pemerintah melalui lembaganya, seperti Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) ketika mengatasi persoalan ini, mencuat. Padahal kelangkaan dan tingginya harga juga bersinggungan dengan kebocoran pengawasan lembaga lain dalam regulasinya. Sehingga OP bawang putih ibarat strategi Bulog menggarami laut karena terbukanya kran impor dan penguasaan kartel yang masih leluasa permainkan harga.

Seperti pantauan di Sumenep. Harga bawang putih di Pasar Anom Baru, Senin (5/6/2017) naik dibanding akhir pekan lalu. “Harga bawang putih naik Rp 5 ribu per kilogram dari Rp 40 ribu menjadi Rp 45 ribu,” ujar Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumenep, Sukaris kepada wartawan.

Sesuai hasil pemantauan staf Disperindag Sumenep pada Senin ini, terdapat lima komoditas yang harganya berfluktuasi. Selain bawang putih, harga empat komoditas lainnya turun, yakni telur ayam kampung, telur ayam ras, bawang merah, dan wortel.

Langkah teknis sebenarnya sudah dilakukan oleh jaringan Bulog di beberapa daerah. Seperti yang disampaikan Wakil Kepala Bulog Subdivre Surabaya Utara Irlia Dwi Putri terkait kelangkaan dan tingginya harga bawang putih di wilayahnya. Selain menggelontor dengan harga murah (Rp38 ribu/kg) jenis sincu, juga dengan menunjuk toko-toko binaan.

“Beberapa langkah strategis sudah kami lakukan untuk antisipasi setelah menerima laporan bahwa harga bawang putih jenis ini bisa mencapai Rp 58 ribu dan kami menjual dengan harga Rp 38 ribu. Bahkan, untuk bawang putih jenis kating harganya bisa tembus Rp 60 ribu setiap kilogram,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (4/6/2017).

Strategi ini diklaim Irlia untuk menjaga kontinuitas stabilisasi harga pangan. “Ya seperti toko binaan itu sebagai kepanjangan tangan dari bulog untuk membantu menstabilkan harga pangan,” tambahnya.

Selain itu, tambah dia, tim “canvasser” digerakkan turun langsung ke toko-toko. Sebab, dengan stok 71 ton yang masih tersimpan di gudang tidak ada alasan sampai terjadi kelangkaan kecuali memang ada pihak lain yang ikut bermain.

Sebab, selain Bulog pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) juga ikut mengantisipasi dengan sediakan lahan seluas 60 hektar untuk meningkatkan produksi bawang putih dalam negeri. Luas itu diasumsikan untuk menutupi kekurangan 500 ribu ton kebutuhan dalam negeri yang harus dipasok dari luar negeri.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, rencana ini sudah dilaporkan ke Presiden Joko Widodo dengan rencana lahan di Temanggung, Jawa Tengah. Data Kementan, hingga 2016 jumlah lahan bawang putih di kawasan itu hanya seluas 150 hektar.

“Sekarang sudah naik 1.000 hektar lebih. Mungkin tahun depan kami naikkan sampai 5.000 atau 10.000 hektar. Jadi potensi Indonesia ini kita gali karena ‘agro climate‘-nya cocok,” jelas Amran di Jakarta, Senin (5/6/2017)

Menteri yakin pemerintah dapat menyediakan lahan seluas 60.000 hektar yang cocok ditanami bawang putih tersebut. Dengan perhitungan produktivitas 1 hektar bisa menghasilkan sekitar 10 ton bawang putih, penambahan luas lahan di Temanggung diharap bisa mencukupi kebutuhan nasional.

Apalagi jika daerah sentra bawang putih lainnya, seperti Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sumatera Barat bisa berproduksi optimal.

Melihat langkah-langkah yang sudah dilakukan pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan, terutama komoditi bawang putih, memang ada harapan bahwa masyarakat tidak lagi dihantui mimpi buruk kenaikan harga.

Namun akan lebih konkrit lagi jika kran impor dikuasai negara secara penuh atau paling tidak diperketat mekanismenya. Selain berpihak pada konsumen, bisa untuk mengantisipasi kecurangan importir nakal. Tak hanya itu, petani sebagai produsen pun bisa ikut menikmati gelimang rupiah dari kenaikan harga bawang putih. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here