Osob Kiwalan, Sandi Rakyat Malang Melawan Penjajah

0
241
Ilustrasi interaksi pejuang kemerdekaan Indonesia (Sumber: Historia)

Nusantara.news, Kota Malang – “oket endi sam, wes nakam ta?” “wes lah, ayas mari iki kilab,” yang artinya, dari mana mas, Sudah makan kah? Sudah, setelah ini mau balik. Begitulah bentuk komunikasi dari Osob Kiwalan.

Terdengar percakapan antara beberapa pemuda di warung kopi, yang sedang beristirahat pada jam kerja tepat persimpangan jalan Kendalsari, Kota Malang. Perhatian tertuju pada kumpulan beberapa pemuda yang sedang asik bergurau dengan bahasa yang asing terdengar.

Semakin didengar serius pun bahasa yang digunakan kumpulan pemuda yang duduk bergerombol di warung tersebut lain dari bahasa Indonesia. Rasa penasaran memberanikan bertanya kepada salah seorang dari kumpulan pemuda yang tidak terlalu mengindahkan dari pembicaraan rekannya.

“Itu sedang berbicara memakai bahasa apa mas?” tanya Nusantara.news kepada Agus Handoyo pria 32 tahun tersebut, Senin (24/7/2017).

“Oh itu bahasa malangan, biasa disebut bahasa walikan atau ‘Osob Kiwalan’ bahasa daerah asli malang,” sahut Agus.

Ia sekilas menjelaskan terkait bahasa daerah malangan yang menjadi identitas khas warga Malang. “Bagi masyarakat Malang, siapa yang tak tahu budaya ‘Osob Kiwalan’ atau  dalam artian Boso walikan/Bahasa terbalik. Bahasa tersebut sudah digunakan dari zaman penjajahan dahulu,” pungkas pria berambut cepak tersebut.

Osob kiwalan telah menjadi identitas bagi masyarakat Malang, yang merupakan salah satu sarana komunikasi dengan sesama masyarakat malang, dengan bacaan yang terbalik. Misalnya, bakso menjadi Oskab, saya dan kamu menjadi Ayas lan Umak, anak malang menjadi Kera Ngalam.

Agus Handoyo merupakan salah seorang warga asli Malang, yang bekerja sebagai karyawan swasta. Selain itu, ia tertarik pada ragam kebudayaan yang ada di Malang. Ia menjadi pemerhati kebudayaan, mulai dari lukisan, patung, topeng, bahasa dan ragam seni lainnya yang menjadi identitas budaya Malang.

Ia kembali menjelaskan ,osob kiwalan tersebut tidak memiliki aturan khusus dalam penggunaannya, asalkan gampang diucapkan dan enak didengar sudah menjadi kecukupan bagi bahasa ini.

Lain halnya dengan basa walikan khas Jogja, yang menggunakan aturan khusus dalam susunan huruf aksara jawa. Membedakan dengan bahasa walikan yang lain, osob kiwalan memiliki cara yang simpel dan tidak terikat pada suatu bahasa tertentu. Tradisi pengucapan yang dilakukan secara turun temurun telah membuat osob kiwalan ini menyebar ke mana-mana.

Penggunaan sebagai Siasat Perjuangan Rakyat

Awalnya kemunculan bahasa yang unik tersebut, bila menilik pada buku “Malang Tempoe Doeloe” karya Dukut Imam Widodo, populernya  jauh sebelum kemerdekaan. Atau lebih tepatnya masa gerilya kemerdekaan hingga peperangan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Suyudi Raharno, salah seorang Pahlawan Nasional yang berjuang mempertahankan kemerdekaan pada akhir Maret 1949, dalam serangan agresi militer Belanda yang tidak mengakui sepenuhnya bahwa Indonesia telah merdeka. Serangan agresi militer sekutu tersebut dikenal sebagai Clash I dan Clash II menyerang di beberapa titik daerah di Indonesia.

Kala itu, Belanda banyak menyusupkan mata-mata pribumi di dalam kelompok pejuang pertahanan kemerdekaan di Malang. Mata-mata tersebut banyak yang mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah dengan tujuan menyerap informasi dari kalangan pejuang Gerakan Rakyat Kota (GRK).

Mendengar informasi tersebut, tak membuat Suyudi Raharno sebagai salah satu Front GRK gentar. Bersama rekannya Wasito, ia menyusun siasat dan strategi untuk menjaga informasi dalam internal pasukan dengan membuat suatu tata bahasa dalam lingkar pejuang kemerdekaan di Malang. Hal ini digunakan sebagai sandi untuk berkomunikasi dengan rekan seperjuangan, sekaligus dapat membedakan mana pribumi yang menjadi penyusup dalam perjuangan.

Kata pertama yang keluar dari mulut para anggota GRK saat itu adalah ‘nolo’, yang merupakan sandi kata untuk menyebut pasukan Belanda. Masyarakat Malang saat itu menyebut pasukan Belanda sebagai ‘londho’. Kosa kata ‘londho’ apabila dibalik menjadi ‘odhnol’, dan kata tersebut tidak enak didengar di telinga, oleh karena itu para anggota GRK sepakat menyebut pasukan belanda sebaga ‘nolo’ (dengan membalik susunan frase ‘odh-nol’ menjadi ‘nol-odh’, dan disempurnakan menjadi ‘nolo’).

Selain itu, banyak lagi beberapa kosa kata yang disepakati guna penyebutan dalam fase-fase gerilya mempertahankan kemerdekaan di Malang. Penggunaan osob kiwalan terbukti efektif menjadi sisasat perjuangan rakyat melawan pasukan Belanda, pengelabuhan informasi dengan sandi bahasa yang diciptakan sendiri oleh pejuang kemerdekaan.

Pasukan Belanda kesulitan untuk menghadang langkah GRK dan minim mendapatkan informasi, hingga akhirnya Malang dapat direbut kembali oleh pasukan TNI dan Gerakan Rakyat Kota. Sekutu pun diusir dan ditumpas dengan perjuangan gerilya GRK.

Pengamat sejarah dari Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono menjelaskan tentang pemakaian Osob Kiwalan, ”Sudah lama menjadi sandi-sandi khusus para pejuang untuk berkomunikasi dengan para pribumi. Berawal dari usaha pejuang rakyat Malang dalam mempertahankan kemerdekaan, sekarang bahasa walikan akrab digunakan oleh masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul,” jelasnya.

Hal ini yang kemudian menjamur dan biasa dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari warga Malang dalam berkomunikasi, baik mulai anak muda hingga orang tua. Seperti sekelompok pemuda yang bergurau di warung kopi hingga hari menjelang senja.

Memang sangat mengasyikkan mendengarkan penjelasan perbendaharaan kosakata  khusus yang kini menjadi menjadi bahasa khas dari warga asli Malang,  yang awal mula kemunculannya dipergunakan sebagai siasat perjuangan rakyat dalam melawan penjajah.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here