Over Acting Ananda Picu Ribuan Uninstall Traveloka

0
349
Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan saat memberikan pidato sambutan pada HUT ke-90 Kolese Kanisius di Menteng Raya

Nusantara.news, Jakarta – Peringatan Kolese Kanisius di Menteng Raya ke-90 yang seharusnya menjadi ajang peningkatan iman Katolik para pengikutnya, ternyata berubah jadi ajang politik praktis. Bahkan efek lanjutannya mengarah pada ancaman tuntuhnya bisnis Traveloka.

Mengapa fenomena respon tak simpatik penerima penghargaan Kanisius Ananda Sukarlan, pada akhirnya berbuntut pada ancaman bisnis Traveloka yang nota bene didirikan oleh salah satu penerima penghargaan lainnya, yakni Derianto Kusuma. Celakanya Derianto ternyata tak hadir dalam HUT ke-90 Kolese Kanisius tersebut.

Iklan Traveloka sampai detik ini masih terus diputar di sejumlah televisi. Iklan ini selalu diingat pelanggannya karena dinamis dan seolah-olah menyatu dengan suasana batin masing-masing pelanggan. “Mau liburan, Traveloka dulu,” atau “Mau lebaran, Traveloka dulu,” atau “Mau mudik, Traveloka dulu,” demikian beberapa jingle terkenal Traveloka.

Nasi memang sudah menjadi bubur, pelanggan Traveloka, sebuah situs cerdas penyedia kamar hotel lokal dan internasional dengan harga kompetitif ini sudah rame-rame mundur. Saat artikel ini ditulis, rating kunjungan Traveloka yang sebelumnya memiliki peringkat 3,9, sudah merosot ke level 1,9 dengan kecenderungan menurun.

Bahkan telah menjadi trending topic soal ratusan ribu pelanggan Traveloka yang sebelumnya meng-install (memasang) aplikasi pencarian hotel ramai-ramai melakukan uninstall (mencopot) aplikasi itu dari smartphone maupun android, ipad dan laptop pelanggan.

Fenomena ini mengingatkan kita pada aksi penolakan memakan roti bermerk Sariroti pasca gerakan 212 (2 Desember 2016) lalu di Monas. Saat itu ada donatur yang memborong Sariroti untuk dibagi gratis kepada para peserta 212 yang hadir, sehingga ada puluhan gerobak Sariroti mangkal di area Monas.

Namun lantaran ada pernyataan resmi dari manajemen Sariroti yang menyatakan bahwa Sariroti tidak mendukung gerakan 212 karena memang pemiliknya non muslim. Tapi justru pernyataan itu direspon negatif oleh para ulama dengan seruan agar tidak lagi makan Sariroti, umat Islam pun (terutama alumni 212) tidak lagi memakan roti tersebut hingga hari ini. Bahkan sempat beredar meme yang sebenarnya ejekan bahwa Sariroti sudah jadi makanan monyet.

Benar saja, sejak pernyataan itu Sariroti di Indomart dan Alfamart tidak laku, menumpuk tanpa disenggol pelanggan, sampai busuk bertruk-truk.

Kini giliran Traveloka seolah mendapat hukuman, lantaran sebelumnya diberitakan bahwa Derianto ikut melakukan walk out (WO) bersama Ananda Sukarlan ketika Gubernur DKI Anies Rasyid Baswedan memberikan pidato pembukaan. Maka muncul lah seruan agar mencopot aplikasi Traveloka lantaran pendirinya dikesankan melakukan tindakan tidak simpatik.

Sikap tak simpatik

Kolese Kanisius dikenal sebagai lembaga pendidikan khusus laki-laki, Nama Kanisius diambil dari santo pelindung sekolah, yakni Santo Petrus Kanisius (1521-1597). Kolese Kanisius memiliki semangat dasar 4C, yaitu competence (kompetensi), compassion (sikap welas asih), comitment (komitmen), dan conscience (hati nurani).

Tapi sejak peristiwa WO Ananda Sukarlan, semangat dasar Kolese Kanisius itu seolah hilang musnah. Bahkan Kolese Kanisius seolah-olah berubah wajah menjadi ajang cibiran politik Ahoker terhadap Gubernur terpilih.

Kisah ini berawal saat Kolese Kanisius ke-90 di Menteng Raya ini untuk pertama kalinya memberikan Penghargaan Kanisius ke 5 alumni dari berbagai generasi. 5 alumni ini tersaring dari 95 finalis yang menjadi kandidat. Mereka adalah Ananda Sukarlan (komponis dan pianis), Derianto Kusuma (pendiri Traveloka), Romo Magnis Suseno (tokoh Jesuit), Irwan Ismaun Soenggono (tokoh pembina Pramuka) dan Dr. Boenjamin Setiawan (pendiri Kalbe Farma).

Hadir dan memberi pidato pembuka di acara akbar di JIFest yang dihadiri oleh ribuan alumni Kanisius, Sabtu (11/11) ini adalah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Saat ia memberi pidato, Ananda Sukarlan berdiri dari kursi VIP-nya dan WO menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap pidato Anies.

Aksi ini kemudian diikuti oleh ratusan alumni dan anggota hadirin lainnya. Setelah memberikan pidatonya yang disambut dengan dingin oleh hadirin yang tinggal, Anies Baswedan meninggalkan tempat. Hadirin yang tadinya WO pun memasuki ruangan kembali, dikabarkan Derianto salah satu diantaranya.

Saat pemberian penghargaan kepada 5 tokoh ini, Ananda mendapat giliran untuk pidato selama 10 menit. Di pidato itu setelah ia mengucapkan terimakasih, ia juga mengkritik panitya penyelenggara.

“Anda telah mengundang seseorang dengan nilai-nilai serta integritas yang bertentangan dengan apa yang telah diajarkan kepada kami. Walaupun anda mungkin harus mengundangnya karena jabatannya, tapi next time kita harus melihat juga orangnya. Ia mendapatkan jabatannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kanisius. Ini saya tidak ngomong politik, ini soal hati nurani dan nilai kemanusiaan”, katanya.

Pernyataan Ananda inilah yang kemudian direspon oleh para pengikut Anies Baswedan, dan tentu umat Islam pada umumnya, yang telah berlangganan aplikasi Traveloka rame-rame melakukan uninstall.

Bahkan budayawan Eros Djarot dan Romo Franz Magnis Suseno dikabarkan menegur keras pernyataan Ananda Sukarlan. Lebih jauh ada desakan agar Kolese Kanisius mencabut penghargaan yang diberikan kepada Ananda, sebagaimana Oxford University mencabut gelar kehormatan terhadap Aung San Suu Kyi lantaran mendiamkan warga Rohingya.

Anies Baswedan sendiri berupaya menghormati sikap Ananda sebagai kebebasan berekspresi. Bahkan dia melarang pengikutnya dan umat Islam pada umumnya untuk melakukan uninstall dari aplikasi Traveloka.

Kolose Kanisius sendiri sudah menyatakan berterima kasih dan meminta maaf kepada Anies Baswedan atas munculnya peristiwa tersebut.

Anies Baswedan saat diterima stakeholder Kolese Kanisius seperti Sofjan Wanandi dan Romo Benny Soesetyo

Sikap intoleran

Pemuda Muhammadiyah Provinsi DKI Jakarta menilai aksi  WOyang dilakukan oleh Ananda Sukarlan kepada Anies Baswedan adalah sikap intoleran. Pemuda Muhammadiyah juga mengeluarkan pernyataan sikap yaitu memboikot Traveloka karena pemiliknya, Derianto Kususma diduga mendukung sikap pianis Ananda Sukarlan yang WO saat Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan memberikan sambutandi acara itu.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Provinsi DKI Jakarta Syahrul Hasan mengatakan, aksi WO yang di lakukan oleh Ananda Sukarlan dan beberapa orang lainnya menggambarkan sikap intoleran dan miskin akhlak sebagai tuan rumah dalam menerima tamu. Dimana kehadiran Anies Baswedan sebagai tamu adalah atas permintaan resmi dari tuan rumah itu sendiri.

“Aksi walkout Ananda Sukarlan yang menuduh Anies Baswedan meraih kursi gubernur tidak sesuai nilai-nilai Kanisius adalah jauh panggang dari api,” kata Syahrul.

Syahrul menjelaskan, Anies Baswedan merupakan bagian dari Keluarga Besar Muhammadiyah, baik secara struktural maupun kultural. Saat ini beliau diamanahi sebagai penasehat Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu di mana Din Syamsudin MA menjabat sebagai ketua ranting tersebut.

Celakanya, ternyata Derianto sama sekali tak hadir dalam acara Kolese Kanisius. Sementara pelanggan muslim sudah rame-rame melakukan uninstall.

PR Manager Traveloka, Busyra Oryza menyatakan Derianto Kusuma berhalangan hadir dalam acara tersebut untuk menerima penghargaan dari Alumni Kanisius, sehingga tidak ada walkout.

“Beliau berhalangan hadir dikarenakan beliau sedang melakukan perjalanan dinas yang telah direncanakan beberapa bulan sebelumnya. Sedang tidak berada di Jakarta,” ungkap Busyra kepada media.

Busyra menyatakan, bahwa Traveloka merupakan perusahaan berbasis terknologi yang didirikan oleh putera-puteri bangsa Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai saling menghargai, bertoleransi dan berinovasi.

Nilai-nilai ini, kata Busyra, senantiasa diterapkan kepada karyawan maupun pemangku kepentingan eksternal. Penghargaan yang diraih oleh Derianto Kusuma menurutnya semakin memotivasi pihaknya untuk meningkatkan kontribusi di masyarakat melalui peningkatan mobilitas dan memperbaiki kualitas kehidupan.

Ananda Sukarlan, komponis dan pianis muda, yang melakukan walkout saat Anies Baswedan memberikan sambutan pada peringatan HUT ke-90 Kolese Kanisius

Beberapa hikmah

Melihat kasus Kolese Kanisius dan Traveloka di atas, tampaknya ada beberapa hikmah yang bisa dipetik. Pertama, semua pihak harus menyadari bahwa Pilkada DKI telah usai, jadi semua pihak harus menyadari bahwa Gubernur DKI Jakarta hari ini adalah Anies Rasyid Baswedan.

Sehingga tidak perlu lagi ada hard feeling, perasaan gagal move on yang menunjukkan ketidakdewasaan.

Kedua, sikap over acting Ananda Sukarlan patut disesalkan karena dia sama sekali tidak bisa membuktikan apa yang dituduhkan terhadap Anies, yakni memenangkan Pilkada dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kanisius.

Justru sebaliknya, sikap Ananda Sukarlan yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia alumni Kanisius dengan nilai-nilai 4C yang elegan.

Ketiga, sikap emosional Ananda Sukarlan nampaknya direspon juga secara emosional terhadap pengikut Anies dan umat Islam pada umumya dengan melakukan uninstall aplikasi Traveloka. Kesalahpahaman ini dapat berujung pada matinya bisnis aplikasi perhotelan yang baru saja berkembang.

Keempat, semua pihak harus menjaga perasaan pihak lainnya, termasuk satu umat harus menghormati perasaan umat lainnya, sehingga tidak perlu ada tindakan yang tak diperlukan yang pada akhirnya merugikan semua pihak.

Kelima, sikap kenegarawanan Anies Baswedan yang tak tersinggung dengan pernyataan Ananda karena menganggap berbeda pandangan adalah biasa. Bahkan dia meminta agar umat Islam tidak perlu melakukan uninstall terhadap aplikasi Traveloka.

Akan kah bisnis aplikasi perhotelan Traveloka pulih kembali dengan situasi terakhir? Atau justru semakin terpuruk seperti halnya Sariroti? Semoga semua yang terjadi dapat menjadi pelajaran berarti.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here