Overload Communication, Perang Kata Kata Politik Menjurus Perpecahan

0
134

Nusantara.news, Surabaya – Pakar Komunikasi Politik, Suko Widodo yang juga Ketua Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat (PIH) Universitas Airlangga Surabaya, mengatakan situasi komunikasi politik (baca: perang pernyataan politik) di masyarakat belakangan ini menginjak tahap memprihatinkan. Itu, karena kuatnya arus informasi di mana fakta dan opini sulit dibedakan.

“Overload communication ini berpotensi mengakibatkan perpecahan bangsa,”  kata pakar komunikasi politik Suko Widodo yang juga Ketua Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat (PIH) Universitas Airlangga Surabaya, di Surabaya, Senin (23/1/2017).

Seliwer informasi politik dari berbagai kalngan ini harus dihentikan. Tidak hanya oleh satu kelompok saja, tetapi harus dilakukan oleh pihak lain juga. Semuanya harus menahan diri untuk tidak mengeluarkan statemen atau kegiatan yang memperuncing suasana.

“Kalau ada yang menyerang melalui statemen, biarkan saja masyarakat yang menilai. Komunikasi politik harus ditata dengan baik, agar masyarakat tidak terpecah belah,” katanya.

Masyarakat diyakii cerdas menilai mana yang benar dan yang salah dalam menerima informas politiki. “Namun, kita semua sebagai anak bangsa harus lebih bijak dalam mengisi ruang komunikasi publik agar tidak muncul konflik-konflik baru,” pintanya.

Hal yang sama disampaikan Muhammad Syafii, guru mengaji di TPA Al Huda Surabaya. Dia menyebut  kebertadaan santri, selain harus belajar, juga mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran Islam sebagai pedoman dalam hubungan ukhuwah Islamiyah bertujuan untuk mencitakan kedamaian, kerukunan, persatuan dan kesatuan antar umat beragama.

“Santri berfungsi sebagai benteng negara, menjaga persatuan dan kesatuan antar anak bangsa di Indonesia. Dengan ukhuwah Islamiyah, akan tercipta rasa kasih sayang, senasib sepenanggungan sebagai anak bangsa untuk mengawal keutuhan NKRI,” katanya Syafii.

Sementara, guna menghindari gesekan dan menjaga kebhinnekaan, Korda GMNI Jawa Timur yang ikut bergabung di Forum Kebangsaan Jawa Timur, mengajak semua pihak untuk segera mengakhiri isu SARA.

Terkait kasus pelecehan terhadap lambang dan simbol-simbol negara, menurutnya akan menambah panjang daftar masalah yang berpotensi memperuncing konflik. Menyikapi itu, pihaknya meminta masyarakat tidak gampang terpancing isu gesekan agama.

Sebelumnya, Sekretaris GMNI Suroto mengungkapkan, fenomena politik akhir-akhir ini diduga sengaja dimainkan oleh oknum tertentu. Ada oknum yang mendesign supaya terjadi gesekan antar anak bangsa. Dia berharap masyarakat khususnya masyarakat Jawa Timur tidak terprovokasi dan tetap menjaga erat keutuhan NKRI. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here