Pabrik Milik Ketua APIKI Diduga Abaikan Hak Ratusan Buruh

0
205

Nusantara.news, Banyuwangi – Setelah bekerja keras sepanjang hari mereka menuntut statusnya dari buruh lepas menjadi buruh tetap. Tapi apa yang didapat? Mereka justru dirumahkan sejak 2010. Kini mereka menuntut gaji yang sudah 6 tahun tidak dibayar.

Padahal mereka bekerja di PT Maya Muncar, sebuah pabrik pengalengan ikan terbesar di pesisir Muncar, Kabupaten Banyuwangi. Pabrik tepatnya bekerja milik Ketua Umum Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia (APIKI) Hendri Sutadinata ini mengekspor ikan-ikan kaleng, baik tuna, lemuru atau makarel ke Amerika Serikat. Tapi kebesaran PT Maya Muncar ternyata bertolak belakang dengan tingkat kesejahteraan buruhnya.

Tak terima dengan perlakuan sewenang-wenang perusahaan, ke-58 pekerja yang pernah menuntut status menjadi buruh tetap kembali unjuk rasa. Mereka adalah bagian dari 600 hingga 700-an buruh lepas yang mestinya berhak atas status sebagai buruh tetap.

Direktur Pengawasan Norma Kerja dan Pengawasan Jamsostek Kementerian Tenaga Kerja (kemenaker) Bernawan Sinaga menjelaskan, perselisihan terkait masalah status buruh harian lepas. Dalam kasus hubungan kerja dan upah yang sudah enam tahun tak dibayar itu, pihak PT Maya Muncar berdalih karena para buruh tersebut hanyalah pekerja musiman. Sehingga, tak bisa diangkat sebagai pekerja tetap.

Namun, menurut Bernawan, berdasarkan aturan-aturan yang berlaku, para buruh harian lepas itu seharusnya bisa diangkat jadi buruh harian tetap, jika mereka tak boleh bekerja lebih dari 21 hari dalam 3 bulan berturut-turut.

“Jadi mereka menuntut supaya dijadikan pekerja tetap, itu intinya. Dari situ berkembang ada perselisihan, ada hak-hak yang harus mereka  penuhi. Yang menuntut sekitar 58 orang, dari jumlah seluruhnya sekitar 600-700 yang belum pasti,” ungkapnya kepada wartawan, Selasa (17/1/2017).

Sebelumnya, berbagai langkah demonstrasi kepada perusahaan dan pengaduan ke Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Banyuwangi telah dilakukan.  Hingga keluar surat anjuran dari Disnaker agar buruh dipekerjakan kembali dan upah selama diliburkan dibayar. Namun imbauan itu tidak digubris manajemen PT Maya Muncar.

Kesepakatan antara buruh dan PT Maya Muncar pernah dilakukan pada tanggal 17 Juni 2015 dengan disaksikan oleh pegawai Dinas Propinsi Jawa Timur. Buruh dijanjikan bekerja kembali, namun lagi-lagi perusahaan membandel dan tidak mematuhi kesepakatan. Angin segar sempat berhembus di pihak buruh ketika Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri telah memanggil pemilik peruhaan untuk meminta klarifikasi.

Hasil pertemuan itu, Menaker minta pemilik perusahaan segera menyelesaikan permasalahan dengan para tenaga kerja yang dirumahkan. Meskipun di depan Menteri tampak manggut-manggut namun kenyataannya permintaan itu dianggap angin lalu.

Kasus pemberhentian sepihak, penyalahgunaan kenaikan posisi status pekerja, dan penunggakan gaji yang dilakukan PT Maya menjadi satu contoh betapa buruknya sikap pengusaha kepada pekerjanya.

Dalam situasi begini, mestinya negara hadir dan memiliki wibawa memberi sanksi kepada perusahaan yang terbukti menelantarkan pekerjanya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here