Pak Harto, Mendengar Usulan Larangan Merokok Sambil Mengisap Cerutu

    1
    772
    Soeharto

    Nusantara.news, Jakarta – Pak Harto, pemimpin negeri ini selama 32 tahun, meski bukan tergolong perokok berat, namun sangat menggemari cerutu. Rakyat Indonesia sering melihat gambar presiden itu sedang mengisap “rokok besar” itu. Tampilannya kurang lebih seperti ini: Berbaju kaus polo warna netral, celana katun santai, dan jemari tangan kirinya menjepit cerutu.

    Memang, Soeharto menikmati rokok kesukaannya itu dalam suasana santai. Entah sedang memancing, memanaskan motor besarnya, sedang menembak, atau sedang di kebun. Sebenarnya ini bisa dibaca sebagai perlambang. Dia merokok tidak dalam keadaan sedang bekerja. Selain menikmati cerutu memang harus dalam suasana santai, Soeharto juga seperti ingin menunjukkan bahwa ketika sedang bekerja dia penuh konsentrasi.

    Soeharto memang penuh perlambang. Misalnya, jika sedang bekerja sebagai presiden, dengan aneka tugas sehari-hari, dia selalu mengenakan setelan safari berlengan pendek. Seolah-olah tak perlu lagi menyingsingkan lengan baju. Setelan jas lengkap hanya dikenakannya dalam acara resmi. Dalam acara resmi pun, kadang-kadang dia berbusana batik. Ini lebih sebagai penegasan bahwa batik ada budaya nusantara, khususnya Jawa.

    Untuk bekerja pun dia memilih di Bina Graha, yang sekarang menjadi kantor staf kepresidenan. Sesuai namanya, Bina Graha artinya rumah untuk membina, membangun. Tak pernah Soeharto mengerjakan tugas sehari-harinya di Istana. Istana hanya untuk menyambut tamu negara atau acara acara resmi kenegaraan lainnya.

    Entah sejak kapan Soeharto mulai menjadi penikmat cerutu, rokok yang mulai dikenal dunia setelah Christopher Columbus membawanya ke Eropa. Konon, ketika Columbus  mendarat di Karibia tahun 1482, dia melihat kebiasaan suku Indian yang mengisap daun tembakau yang digulung besar, atau dibakar bertumpuk lalu dihisap melalui pipa dari kayu.

    Sebelum menjadi penggemar cerutu, Soeharto merokok kretek. Kebiasan itu rupanya sudah sedari muda. Tidak diketahui juga, sejak kapan dia mengubah kebiasaan itu. Namun, jika mempelajari dari berbagai dokumen foto yang ada, kelihatannya Soeharto mulai beralih mengisap cerutu setelah menjadi presiden. Sebab, tidak pernah ditemukan fotonya sedang mengisap kretek. Selalu cerutu.

    Kebiasaan mengisap cerutu itu rupanya juga dikenal di dunia. Banyak tamu negara yang datang ke Jakarta membawakannya oleh-oleh berupa cerutu atau kotak penyimpannya. PM Thailand Thanin Kravichien, misalnya, ketika bertamu ke Indonesia pada pertengahan Desember 1976, menghadiahi Pak Harto sebuah kotak cerutu dari perak berukir gaya Thailand. Begitu juga Perdana Menteri Italia Giovanni Goria yang datang ke Jakarta di awal 1988. Dia membawa cenderamata berupa kotak cerutu antik.

    Tidak diketahui apakah Soeharto mengisap hecho en Cuba (cerutu Kuba) yang termasyhur itu atau cerutu produk lokal. Tapi, kalaupun dia mengisap cerutu Kuba, toh sebagian bahannya didatangkan dari Besuki, Jawa Timur. Para pedagang tembakau dunia sudah sejak lama mengenai Besuki Na Oogst (BNO), daun tembakau kelas satu dari perkebunan tembakau di eks Karesidenan Besuki, yang tersebar di Jember, Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso. Daunnya berwarna coklat kehitaman dan lentur, sehingga cocok digunakan untuk pembalut, pengikat atau isi cerutu.

    Karena Soeharto selalu menikmati cerutu di saat santai, banyak menteri-menteri pada zamannya yang memanfaatkan suasana itu untuk menyampaikan laporan di luar sidang kabinet. Asumsinya, kalau Pak Harto sedang santai, maka pertanyaan tidak akan terlalu banyak. Berbeda jika melapor di Bina Graha. Pak Harto dalam suasana serius. Selain sulit mendapatkan sela waktu, pertanyaan pun tentu akan banyak.

    Tetapi, meski Soeharto sedang merokok cerutu, tidak mesti pula suasana menjadi kondusif untuk melapor. Adakalanya justru sebaliknya. Para menteri biasanya sudah hapal suasana tersebut. Dan itu terlihat dari cara sang presiden mengisap rokok kegemarannya itu.

    Menteri Perhubungan dan Menko Kesra zaman itu, Azwar Anas, punya cara menilai suasana kebatinan bosnya. “Jika Soeharto menggigit-gigit cerutu besar, itu pertanda mood Soeharto sedang baik. Hati dan pikirannya sedang terbuka. Tetapi jika ia menggigit-gigit cerutu kecil, hati-hati, karena itu pertanda pikirannya penuh masalah dan yang hidup di hatinya tak dapat diduga,” kata Azwar Anas dalam biografinya Teladan dari Ranah Minang yang ditulis Abrar Yusra.

    Mantan Menteri Dalam Negeri Rudini juga punya kiat yang sama. “Kalau Pak Harto sedang mengisap cerutu, apalagi jalan mondar-mandir di tempat, tatkala kita menghadap, itu pertanda dia sedang in good mood. Kalau kita lapor, suasananya pasti enak,” katanya.

    Jadi, ketika para menteri Soeharto itu sudah terlanjur menghadap, dan mendapati Pak Harto sedang menggigit-gigit cerutu kecil, seketika mereka langsung salah tingkah. Melapor salah, tak melapor salah, karena sudah terlanjur minta izin menghadap. Kharisma dan wibawanya Jenderal Besar ini memang tinggi, sehingga dia terbatuk saja, para menterinya bisa langsung demam.

    Namun, yang paling unik adalah pengalaman Dr. dr. Soewardjono Soerjaningrat, SpOG, yang menjabat menteri kesehatan (1978–1983). Sebagai dokter, dan sebagai menteri yang bertanggungjawab terhadap kesehatan masyarakat di negara ini, dia sangat prihatin dengan kebiasaan merokok orang Indonesia.

    Dia lalu menghadap Pak Harto untuk menyakinkan bahaya rokok. Dia minta agar Pak Harto, dengan pengaruhnya, menyerukan masyarakat agar berhenti atau mengurangi kebiasan merokok. Dia juga meminta agar pemerintah mewajibkan pabrik rokok mencantumkan stiker bahaya merokok di setiap bungkus rokok –persis seperti yang ada sekarang.

    Seperti kebiasaannya, Pak Harto menyimak dengan seksama penjelasan pembantunya itu. Tapi ada yang aneh. “Pak Harto dengan atraktif merokok cerutu sambil mendengarkan permintaan saya,” kata Soewardjono Soerjaningrat.

    Sebagai orang Jawa, Soewardjono pun tanggap ing sasmita, dia menangkap informasi simbolik dari sang presiden. Itu artinya Pak Harto menolak.

    Soewardjono kehilangan kata-kata. Dia jelas sungkan bertanya alasan presiden menolak program yang diyakininya baik itu. Dia juga tak bisa menerka apa kira-kira alasan Pak Harto.

    Melihat menterinya terdiam lama, Pak Harto menjelaskan alasan penolakannya. “Saya tidak mau mematikan kehidupan ribuan petani tembakau,” kata Soeharto.

    Soewardjono makin kehilangan kata-kata. Dalam bayangannya, bukankah biaya yang dikeluarkan negara untuk mengobati penyakit akibat merokok jauh lebih besar dari kontribusi cukai tembakau. Apalagi petani toh masih bisa mengekspor tembakaunya. Lalu mengapa Pak Harto menolak?

    “Sudahlah, Saudara lebih meningkatkan program kesehatan, terutama program Keluarga Berencana, dari pada terus mengusulkan perlunya kebijakan pemerintah untuk melarang merokok,” kata Pak Harto.

    Barangkali Pak Harto sendiri barangkali juga tak tahu jawaban dari pertanyaan yang bergejolak di hati menterinya itu. Dia lalu mengisap cerutunya. Asap wangi kembali mengepul di ruang tamunya di rumah Jalan Cendana yang berlangit-langit rendah itu.[]

    1 KOMENTAR

    1. Orang berwibawa beda dengan orang yang ditakuti.
      The smiling monster.
      Itulah Suharto.
      Tapi monster itu juga berjasa banyak dalam memulihkan carut marut ekonomi dan politik di jaman Sukarno.

    Berikan Komentar anda!

    Please enter your comment!
    Please enter your name here