Jika Petani Cabai Mandiri, Kartel Akan Tersingkir

0
163

Nusantara.news, Kota Malang – Pasokan cabai rawit merah sudah stabil di beberapa pasar induk yaitu sekitar 40 ton per harinya, namun hingga saat ini (6/3/2017) harga cabai rawit tak juga kunjung menurun. Hal ini diduga karena adanya praktik kartel oleh beberapa perusahaan yang membeli cabai rawit merah dengan harga yang tinggi. Kementrian Pertanian (Kementan) mendapati adanya beberapa perusahaan secara bersama-sama membeli cabai rawit merah kepada pengepul dengan harga Rp. 180.000 per kilogram.

Sementara itu, pakar pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang, Syamsul Hadi, mengungkapkan, melambungnya harga cabai tidak terlepas dari permainan para kartel-kartel cabai. “Lonjakan harga tersebut, selain karena kondisi cuaca yang ekstrem sehingga banyak tanaman yang terserang penyakit, juga karena ada permainan kartel,” ujar Syamsul, Nusantara.news, Minggu (12/3/2017)

Ruang gerak kartel inilah yanga harus dipersempit. Syamsul memberikan pandangan bahwa petani harus bisa mandiri, dan tidak melulu menjual hasil panennya kepada tengkulak. “Petani harus mandiri, dan apabila perlu bertemu dan menjual langsung kepada konsumen (masyarakat umum), tidak melalui tengkulak. Harus diupayakan petani bisa langsung menjual kepada konsumen,” pungkas Dosen FP UB ini.

“Gapoktan, atau gabungan kelompok tani,  di daerah sentra cabai,  juga berupaya untuk mendorong petani-petani berdaya mandiri tidak tergantung pada tengkulak, karena menjual ke tengkulak  rentan jadi korban permainan,” lanjut dia

Setelah itu kelompok-kelompok tani tersebut bisa membuat wadah, dan menciptakan pasar, produknya. “Oleh karenannya petani harus berkembang mandiri dan berdikari,” tegas Syamsul.Dengan begitu harga bisa ditekan standar, kartel akan berkurang, termasuk bisa menyingkirkan cabai impor. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here