Pakde Karwo: Pemimpin Harus Belajar dari Masyarakat

0
136

Nusantara.news, Surabaya –  “Siapa dan Bagaimana Jatim Pasca Pakde Karwo?” Inilah tema yang diangkat dalam Temu Tokoh Jawa Timur yang digelar dalam rangka memperingati hari jadi Bios Televisi ke-9 di Gedung Robotika Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Selasa (23/5) malam. Pakde Karwo menjadi bintang  dalam acara itu. Dia juga memaparkan seperti apa Jatim setelah dua periode di bawah kepemimpinnya, dan apa kiatnya membangun ekonomi jatim yang lebih baik. “Kuncinya, pemimpin harus terus belajar dari masyarakat dan melibatkan mereka dalam pengambilan kebijakan,” kata Pakde Karwo.

Populis

Pakde Karwo secara gamblang menekankan kunci sukses kepemimpinannya sebagai kepala daerah, yakni harus bisa menyerap aspirasi masyarakat. Pemimpin harus selalu dinamis mengikuti dan menyerap kepentingan dan aspirasi masyarakat atau populis.

Kemudian, melalui alat peraga ditampilkan berbagai strategi penerapan kebijakan untuk memajukan provinsi yang dipimpin. Ada gambar kondisi geografis, diulas keuntungan Jawa Timur yang berada di posisi strategis, di tengah wilayah Indonesia dan menjadi pintu masuk perdagangan Indonesia Timur, Asean dan dunia. Kemudian ada gambar kondisi demografi yang menampilkan pertumbuhan ekonomi dan angka penduduk serta penyebarannya dan lainnya.

“Kita tidak bisa mundur dari demokrasi. Pemimpin harus terus belajar dari masyarakat dan melibatkan mereka dalam pengambilan kebijakan,” ujar Soekarwo di depan undangan lintas elemen dan mahasiswa tersebut.

Pakde Karwo dielukan sebagai kepala daerah berlatar belakang birokrat yang mampu memajukan Jatim melalui kebijakan pro-rakyat.

Pakde Karwo menyebut pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa bersama-sama dengan masyarakatnya merumuskan kebijakan. Kemudian, secara bersama-sama pula memajukan daerah, termasuk memberikan kredit kepada masyarakat dengan bunga rendah, khususnya untuk memajukan usaha mikro.

“Masyarakat yang dipimpin harus ikut diajak bicara mengenai apa yang dibutuhkan dan yang cocok di dalam kehidupan, itu lah demokrasi partisipatoris,” tegasnya.

Demokrasi partisipatoris, katanya, merupakan budaya asli Jawa Timur. Oleh karena itu, pemerintah harus memberikan kesempatan bagi seluruh stakeholder untuk menyampaikan pendapat agar terbangun demokrasi dengan situasi aman dan nyaman.

“Semoga budaya khas Jatim ini dapat kita pertahankan bersama,” tutur Pakde karwo disambut tepuk tangan

Ia melanjutkan, di Jawa Timur, masyarakat membuat perjanjian dengan pemerintah, yang biasa disebut citizen charter. Contohnya, pelayanan puskesmas biasa dibuka pada pukul 07.00 hingga 12.00 Wib. Tetapi karena masyarakatnya petani ingin pelayanannya dibuka mulai pukul 16.00 hingga 22.00 WIB, maka  permintaan tersebut dikabulkan oleh bupati setempat.

“Ini bagus sekali sebab mampu memberikan warna tersendiri. Mengaplikasikan demokrasi sesuai kondisi setempat,” kata Pakde Karwo.

Pakde Karwo menjelaskan kesalahan yang paling serius bagi seorang pemimpin daerah, adalah apabila memaksakan pikirannya. Untuk menghindarinya, para pemimpin di daerah harus membuka ruang publik sebanyak-banyaknya.

“Bukan mengedepankan budaya tanding, tetapi mengutamakan kebersamaan serta membuka ruang publik yang luas kepada masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, pemikiran yang otoriter memang bisa juga menghasilkan hal yang baik. Namun, hal tersebut bisa menimbulkan petaka yang luar biasa, karena akan muncul persoalan berupa kesenjangan pemikiran antara pemimpin dengan masyarakatnya.

Sebelum mengakhiri acara tersebut, Pakde Karwo mengingatkan kepada calon gubernur mendatang, bahwa keberhasilan JawaTimur merupakan hasil pembangunan yang bersifat agregat. Artinya kumpulan dari apembangunan yang dihasilkan oleh bupati dan walikota yang hebat. Itu yang membuat Provinsi Jawa Timur menjadi hebat.

Mahfud MD

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD hadir dalam acara itu. Saat dimintai pendapat soal kepemimpinan Pakde Karwo, Mahfud MD mengatakan, faktor yang sangat penting dari Pakde Karwo adalah leadership. Mahfud menyebut Pakde Karwo berhasil menjabarkan kebijakan populis, pro rakyat. Karena itu, Pak Karwo tidak hanya berhasil dalam bidang ekonomi, tetapi juga pembangunan  sosial dan politik juga sangat baik.

“Pak Karwo, terbukti berhasil dengan kebijakan populis pro-rakyat. Komunikasi politiknya juga termasuk terbaik tidak hanya di Jatim tetapi juga di Indonesia. Profesionalitas, merakyat, pesan yang disampaikan juga diterima oleh masyarakat. Meski dilakukan dengan bergurau, tapi masuk ke subsatnsi, tanpa menyinggung. Beliau aktif di medsos, berarti dia menampung dan mendengar denyut kehidupan rakyatnya. Saya lebih banyak berkomunikasi melalui medsos dengan beliau. Oleh sebab itu, jangan sampai pemimpin Jatim pengganti Pak Karwo tidak menguasai IT,” kata Mahfud.

Rektor Universitas Airlangga Surabaya Mohammad Nasih yang juga hadir dalam acara mengatakan, kepemimpinan Pakde Karwo selalu menggunakan pendekatan sustainable development. Pendekatan tersebut memiliki tiga ciri yakni menggunakan pengetahuan, memecahkan permasalahan hingga ke akarnya, dan pembangunan dilakukan secara inklusif.

Kusnadi, Ketua PDI Perjuangan Jawa Timur, juga memuji keberhasilan Pakde Karwo. Dikatakannya, Pakde Karwo,  bisa menjaga dan menjalin komunikasi dengan wakil rakyat dan berhasil menjalankan roda pemerintahan menuju Jawa Timur lebih sejahtera.

Bupati Ngawi Budi Sulistyono juga sama, memuji dan akan terus melanjutkan program Soekarwo. Tokoh akademisi juga sama, menyebut dan mengakui Pakde Karwo berhasil mengemban jabatan gubernur dua periode.

Salah satu bukti populisme Pakde Karwo dikemukakan Mas’ud Adnan, yang juga ketua panitia penyelenggara. Dia menyebut contoh usulan Pakde Karwo ke Presiden RI Joko Widodo untuk membebaskan biaya pengendara kendaraan bermotor yang melintas di Jembatan Tol Suramadu.

“Usulan tersebut membuahkan hasil, disetujui oleh Presiden Joko Widodo, pengendara dibebaskan dari biaya tarif untuk sepeda motor, dan tarif untuk mobil turun 50 persen, itu luar biasa, sangat populis,” kata Mas’ud Adnan.

Lalu  bagaimana dengan calon penggantinya, siapakah yang memenuhi kriteria populis? Pakde Karwo melalui paparannya mengisyaratkan pengganti dirinya untuk periode lima tahun ke depan, harus memahami potensi dan peluang, dan bisa melanjutkan dan memiliki program kerja menjadikan Provinsi Jatim lebih baik lagi.

Mahfud MD, sebagai putra asli Jawa Timur tegas menbatakan, penerus Pakde Karwo selain menguasai pemetaan potensi dan berbagai kelebihan Jawa Timur, juga harus paham informasi teknologi, dan bisa berkomunikasi dengan rakyatnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here