Palu Arit Bertebaran di Jatim, Pertanda Kebangkitan PKI?

0
573
Atribut PKI di Karnaval HUT Kemerdekaan di Pamekasan, Jawa Timur. Minimnya pemahaman generasi muda soal sejarah PKI sangat rentan dimasuki ideologi komunis.

Nusantara.news, Jawa Timur – Palu Arit bukan sekedar logo atau simbol. Bukan pula untuk gagah-gagahan. Di Indonesia, logo ini sangat tabu untuk dibicarakan. Simbol Palu Arit merupakan gambaran mengerikan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terjadi di Indonesia dari tahun 1926, 1948, 1960 hingga 1965. Sampai kini terus menghantui pikiran. Logo Palu Arit sama halnya logo Nazi yang dianggap tabu bagi orang Eropa. Sayangnya, generasi masa kini banyak yang tidak paham sejarah. Buntutnya, kini marak beredar logo Palu Arit di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk di Jawa Timur.

Maraknya buku, film, dan acara-acara berhaluan kiri, serta kaos dan atribut-atribut lainnya yang memakai logo Palu Arit yang identik dengan PKI bukan hisapan jempol belaka. Temuan-temuan tersebut menyita perhatian publik. Hal ini semakin meresahkan dan mengkhawatirkan masyarakat. Isu kebangkitan komunisme gaya baru di Indonesia semakin berhembus kencang.

Seperti yang terjadi di Kantor Bea dan Cukai Kediri, Jawa Timur, Kamis (14/9/2017), sebuah topi yang mirip dengan topi Ushanka khas Rusia dengan hiasan lambang palu dan arit berhasil diamankan. Lambang Palu Arit itu berada pada pin yang tertempel di bagian depan topi bulu itu. Pin dengan bintang berwarna merah itu di tengahnya terdapat gambar palu dan arit yang tumpang tindih.

Kepala Kantor Bea dan Cukai Kediri Turanto Sih Wardoyo mengatakan, topi tersebut disita petugas saat melakukan pengawasan lalu lintas peredaran barang kiriman di Kantor Pos Kediri. “Diamankan karena termasuk barang terlarang,” ujar Turanto.

Pihak Bea dan Cukai Kediri langsung berkoordinasi dengan kepolisian. Penelurusan langsung dilakukan untuk mengetahui asal usul barang. Menurut Turanto, topi itu diketahui dikirim dari salah satu negara dengan ideologi komunis. Namun dia enggan menyebut negara dimaksud.

Topi dengan ornamen palu arit yang diamankan petugas Bea dan Cukai Kediri, Jawa Timur.

Dari penelusuran alamat tujuan barang, tertera tujuan kepada seseorang yang tinggal di Kabupaten Nganjuk. Orang yang dirahasiakan identitasnya itu juga telah diperiksa.

Hasil pemeriksaan, kata Turanto, orang tersebut tidak tidak mempunyai orientasi politik maupun ideologi komunis sesuai simbol topi tersebut. Dengan demikian, orang tersebut tidak diproses hukum, hanya topinya yang disita. “Hanya karena menganggap topinya bagus dan nyaman dipakai,” ujarnya.

Di Banyuwangi, beberapa waktu lalu juga muncul spanduk Palu Arit. Tragisnya, spanduk tersebut dibentangkan warga saat demo menolak tambang emas di gunung Tumpang Pitu, di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggrahan, Banyuwangi. Gambar logo Palu Arit itu nampak berada di sisi kiri spanduk yang dibawa pendemo. Dalam demonstrasi tersebut, spanduk bergambar lambang PKI diarak.

Atas kejadian tersebut, Polres Banyuwangi sempat memeriksa 20 orang saksi. Dan empat pendemo resmi ditetapkan sebagai tersangka. Dua di antara empat tersangka, Andrean dan Trimanto, sebelumnya telah menjalani wajib lapor. Sementara tersangka lain yakni Heri Budiawan alias Budi Pego dianggap sebagai dalang.

Sebelumnya desakan ulama dan organisasi massa (ormas) setempat atas simbol Palu Arit di Banyuwangi menguat. “Yang namanya PKI kan partai terlarang dan sudah dibubarkan, kalau itu muncul lagi, yang bertindak harus aparat, dan aparat harus tegas menindak, karena ini jelas partai terlarang,” kata Ketua PCNU Banyuwangi, KH Masykur Ali.

Saat itu KH Masykur mengatakan, massa Nahdliyin meminta Polres Banyuwangi lebih bersungguh-sungguh mengungkap otak di balik pengibaran spanduk demo dan terdapat gambar Palu Arit. Jika tidak ditindak, dikhawatirkan akan memicu kerawanan. Terlebih Banyuwangi, memang punya sejarah kelam tentang kekejaman laten komunis.

Selain PCNU Banyuwangi, ormas Pemuda Pancasila (PP), LSM Forum Suara Blambangan (Forsuba) dan Forum Peduli Umat Indonesia (FPUI), juga menuntut keadilan atas Budi Pego.

Spanduk Palu Arit dibentangkan warga saat demo menolak tambang emas di gunung Tumpang Pitu.

Pada persidangan Budi Pego, Kamis (14/9/2017) kemarin, sejumlah massa anti PKI dan gabungan dari ormas Nasionalis dan Islam mengepung kantor Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi. Meski sidang ditunda, lantaran Kuasa Hukum terdakwa tidak hadir, namun massa enggan membubarkan diri.

Kondisi sempat memanas setelah Ketua Forum Solidaritas Banyuwangi (FSB), yang juga aktivis kontroversial, M Yunus Wahyudi, datang ke PN Banyuwangi. Aparat Kepolisian yang berjaga di lokasi langsung mengantisipasi adanya bentrok fisik. Terlebih puluhan massa anti PKI di Bumi Blambangan, memang sangat membenci segala hal yang berbau komunis.

Ketua FPUI, Kiai Hanan menyampaikan pengalaman hidupnya di era G30SPKI. Dia mengaku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kekejaman komunis. “Karena itu, saya sedikit pun tidak terima jika ada oknum atau kelompok yang dengan sengaja atau tidak mengibarkan logo Palu Arit. Dan saya mendukung langkah kejaksaan menahan koordinator demo,” ungkapnya.

Sedangkan Ketua Forsuba yang juga sesepuh GP Ansor Bumi Blambangan, H Abdillah Rafsanjani, menegaskan bahwa pengibaran logo Palu Arit adalah sebuah kejahatan. Karena logo tersebut adalah lambang musuh negara dan musuh seluruh masyarakat Indonesia. “Jangan main-main dengan logo Palu Arit, Banyuwangi, pernah terluka,” katanya.

Terkait kekejaman PKI, lanjut dia, 60 orang lebih kader GP Ansor menjadi korban kekejaman laten komunis pada 18 Oktober 1965. Mereka dibantai di Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring. Sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban, di lokasi didirikan monumen.

Palu Arit Muncul di Musala

Logo Palu Arit juga pernah muncul di sebuah musala Kecamatan Pegantenan dan Kecamatan Proppo, Pamekasan, Madura, pada 8 Februari 2017 lalu. Gambar Palu Arit dengan cat merah mencolok itu, terlihat di tempat wudu, di pilar jembatan besi di pinggir jalan di Desa Talangoh, Kecamatan Proppo. Selain itu, juga di tembok jembatan di pinggir jalan di kawasan Pegantenan, jalan menuju ke area pondok besar di Pamekasan.

Karuan, munculnya gambar milik salah satu partai terlarang di Indonesia ini menjadi perbincangan di kalangan masyarakat. Bukan hanya masyarakat di tiga kecamatan, logo tersebut sempat menyebar hingga ke wilayah kota. Karena beberapa gambar Palu Arit yang nampak jelas itu, juga beredar di Whatsapp dan media sosial.

Yang menyakitkan, gambar Palu Arit menempel di tembok jembatan yang di atasnya selama ini berdiri burung garuda, lambang negara Indonesia. Agar gambar itu tidak menimbulkan persoalan dan memancing situasi, sejumlah aparat dari Polsek Palengaan, Polsek Proppo dan anggota Kodim 0826 Pamekasan, terpaksa turun ke lokasi untuk sekaligus menghapus gambar Palu Arit.

Logo Palu Arit bukan sekedar simbol untuk gagah-gagahan. Simbol PKI muncul di Jatim untuk mengadu domba rakyat.

Tidak diketahui pasti, siapa yang membuat gambar lambang Palu Arit itu dan pukul berapa dilakukan. Namun diduga, pelakunya lebih dari satu orang, karena lokasinya gambarnya dalam waktu semalam muncul di tiga kecamatan. Selain itu, penempelan gambar Palu Arit sudah direncanakan dan dibuat dengan sablon, karena gambarnya rapi, seperti disemprot.

Reaksi pun bermunculan di sejumlah kalangan dari tokoh nasional maupun tokoh agama yang  meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dugaan bangkitnya PKI, yang semakin santer terdengar belakangan ini.

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf saat itu menyebut ada yang aneh atas temuan gambar Palu Arit di Pamekasan. “Ini sesuatu yang aneh dan perlu ditelusuri oleh aparat penegak hukum. Ini Madura. Saya menilai nggak masuk akal ada begini, jadi ini aneh sekali,” kata Gus Ipul, sapaan Saifullah Yusuf.

Gus Ipul berharap masyarakat tidak terprovokasi oleh temuan gambar palu-arit itu. “Saya minta masyarakat tidak terprovokasi. Saya berharap, kalau ada yang menemukan hal seperti itu (penyebaran gambar palu-arit), jangan main hakim sendiri. Ambil foto, video, dan laporkan ke polisi, ke pihak berwewenang,” ujarnya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim menilai ada indikasi adu domba dan membenturkan masyarakat dalam logo Palu Arit di Pamekasan. “Saya khawatir itu membuat pancingan terjadinya crash di tengah masyarakat. Ada indikasi adu domba masyarakat,” kata Ketua MUI Jatim KH Abdussomad Buchori.

Ia menerangkan kejadian yang berhubungan dengan PKI pernah terjadi pada acara karnaval di Pamekasan tahun 2015. Namun penampilan simbol PKI waktu itu diperankan anak-anak untuk menerangkan sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Karena ketidakpahaman anak-anak, sehingga tidak dipermasalahkan.

Selama ini indikasi kebangkitan paham komunis semakin jelas. Dari mulai maraknya atribut-atribut lambang palu arit, penjualan kaos palu arit, seminar dan pemutaran film berbau komunis, hingga menyasar ke sekolah-sekolah berupa buku UN SMA di Ciamis yang menyisipkan gambar Palu Arit di bagian latihan soal bahasa Inggris.

Wacana tuntutan keluarga eks PKI dan simpatisannya agar negara meminta maaf kepada mereka pada tahun 2015 membuat geram banyak kalangan terutama umat Islam yang pernah menjadi korban keganasan PKI. Gagal memperalat Presiden Jokowi menggunakan momentum peringatan HUT RI Agustus 2015, tak menyurutkan niat mereka menggugat pemerintah RI.

Minim simpati dalam negeri, mereka menggunakan bantuan asing yakni menggelar Pengadilan Rakyat Internasional atau International People’s Tribunal 1965 (IPT 1965), yang dilaksanakan pada 10-13 November 2015 di Den Haag, Belanda, bertepatan dengan setengah abad peristiwa G30S/PKI, 1965. Pengadilan tersebut menetapkan pemerintah RI telah bersalah dan melakukan pelanggaran HAM berat karena telah melakukan pembantaian kepada anggota-anggota PKI.

Ciri-ciri Kebangkitan Komunis

Ideologi komunisme harus dibasmi karena bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Kebangkitan komunisme patut diwaspadai. Semua sepakat.

Rois Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi, Jawa Timur, KH Ahmad Hisyam Syafaat, Minggu (10/9/2017) lalu, mengingatkan fenomena simbol-simbol komunis di berbagai daerah, termasuk di Banyuwangi dan Pamekasan. Menurut dia kemunculan simpol Palu Arit tidak tiba-tiba. Tapi sudah direncana. “Namanya ideologi itu ibarat seperti iman atau kepercayaan, datang seperti cahaya, bahkan mampu menembus celah – celah dinding,” ucapnya.

Dia yakin kemunculan lambang Palu Arit bukan tanpa campur tangan pihak-pihak luar yang menginginkan paham itu kembali menguat di Tanah Air. “Jadi, hati-hati dengan berbagai demo, karena pasti akan ditunggangi kelompok komunis,” tegasnya.

Menurutnya, paham komunisme tidak boleh dibiarkan berkembang di masyarakat. Karena itu perlu upaya dari pemerintah melalui pendidikan karakter dan pendidikan Pancasila. “Kalau di pesantren ya pendidikan akhlakul karimah,” imbuhnya.

Sementara itu, mantan Kassospol TNI Letjend (Purn) Syarwan Hamid mengatakan, massifnya lambang komunis, menunjukan Partai Komunis Indonesia (PKI) masih eksis. “Komunisme tetap ingin kembali di pentas politik di Indonesia. Kenapa September selalu marak kegiatan PKI? Karena di bulan inilah digunakan sebagai momentum kebangkitan PKI,” katanya.

Pada zaman Orde Baru, bulan September kerap digunakan untuk mempelajari sejarah keganasan PKI. Namun di era reformasi, kondisi ini malah digunakan PKI untuk meninabobokan rakyat Indonesia. Ini bagian dari propaganda PKI.

Berdasar pantauan Nusantara.News, pasca reformasi, PKI mulai mendapat kebebasan menyebarkan ideologinya. Setidaknya ada 12 indikasi kebangkitan PKI di Indonesia:

Pertama, desakan tuntutan pencabutan TAP MPRS XXV/1966 tentang larangan paham komunisme di Indonesia dicabut. Menguatnya tekanan pencabutan Tap MPRS tersebut, bukan tidak mungkin PKI akan punya peluang menyebarkan ideologinya. Seruan ini dikumandangkan oleh Komnas HAM dan LSM-LSM liberal. Nah, TAP MPRS ini selalu menjadi dasar hukum bagi kelompok-kelompok komunis untuk kembali mengembangkan paham terlarang tersebut.

Kedua, penghapusan kurikulum pendidikan nasional soal sejarah PKI. Sebelum era reformasi 1998, generasi muda Indonesia selalu diberi bekal informasi tentang paham-paham komunis. Setiap tanggal 30 September diperingati sebagai hari kekejaman PKI. Sayangnya selepas reformasi, informasi seputar kejahatan PKI dihapus. Generasi muda di atas tahun 90 tidak lagi paham tentang masa lalu PKI dan sepak terjangnya. Mereka dibutakan oleh minimnya informasi. Sangat disayangkan orang-orang yang mempunyai kekuatan menghapus memori kelam tersebut. Mereka disebut sebagai pihak-pihak yang diuntungkan PKI.

Ketiga, film pengkhianatan PKI tidak diputar lagi. Padahal film ini sejatinya menunjukkan pada kita betapa biadabnya PKI. Namun setelah 1998, film itu kini tinggal sejarah. Televisi swasta maupun TVRI tidak lagi menayangkan film kejahatan PKI. Media elektronik menjadi takut. Jangankan memutar tayangan tersebut, hal ini menjadi tabu. Info ini kian menyurutkan pengetahuan generasi muda bangsa soal PKI. Ini sangat disayangkan.

Keempat, penelitian khusus (Litsus) dihapuskan pasca reformasi. Para eks anggota PKI maupun keturunannya bisa bebas memasuki setiap lini kehidupan. Mereka bebas masuk ke kalangan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Padahal di era orde baru, yang namanya Litsus sangat dibutuhkan untuk menjaring ideologi terlarang tersebut. Pasalnya, masih banyak keturunan PKI yang masih menerapkan ideologi tersebut, sehingga inilah yang dikhawatirkan negara. Sebagai bukti, ada anggota parlemen yang secara terang-terangan bangga menjadi anak PKI. Ini menunjukkan bahwa paham PKI belum sepenuhnya bersih. Mereka duduk di partai dan menjadi pimpinan fraksi.

Kelima, PKI masuk ke partai-partai besar. Para tokoh eks PKI dan keturunannya kini mulai infiltrarisasi dan bergabung dengan partai besar maupun partai berasazkan Islam. Bahkan ada yang menjadi staf ahli kepresidenan dan mempengaruhi kebijakan di pemerintahan.

Keenam, buku-buku PKI dijual bebas. Sejak reformasi, banyak orang menulis buku PKI. Mereka bahkan tidak tanggung-tanggung membela PKI dan menyebarkan ideologi tersebut ke generasi muda. Banyak kalangan tokoh-tokoh Islam yang mengecam pelarangan tersebut sebagai kezaliman yang memundurkan bangsa ini ke zaman orde yang paling baru. Negara ini makin ngawur. Sebut saja buku Aku Bangga Jadi Anak PKI, Anak PKI Masuk Parlemen, Gerwani, Palu Arit Dilarang, Kabut G30S PKI dan masih banyak lagi. Buku-buku ini pada intinya membela PKI dan menjadikan PKI seolah-olah menjadi korban. Sayangnya, dalam hal ini pemerintah tidak berkutik bahkan terkesan melakukan pembiaran.

Ketujuh, bermunculan film-film ‘pembela PKI’. Film-film ini dibuat untuk menarik simpati dari masyarakat. Sebut saja film ‘Senyap’ (dalam judul internasionalnya The Look of Silence) yang disutradarai Joshua Oppenheimer kelahiran Amerika Serikat. Film ‘Senyap’ adalah pelengkap film sebelumnya The Act of Killing atau “Jagal” (tayang 2012), yang lebih banyak menyoroti cerita para pembunuh tapol komunis. Kemudian ada film ‘Lestari’ yang disutradarai Eros Djarot. Semua film-film ini memposisikan PKI sebagai korban. Komnas HAM dan LSM-LSM liberal sangat mengapresiasi film tersebut.

Pemutaran film ‘Jagal: The Act of Killing’ yang mengisahkan pembantaian PKI pada tahun 1965. Film ini memperlihatkan tentara sebagai pelaku pembantaian PKI. Film tersebut disutradarai oleh seorang sutradara dari Amerika Serikat Joshua Oppenheimer.

Kedelapan, munculnya Rancangan Undang-undang (RUU) Kebenaran dan Rekonsiliasi. RUU ini merupakan hasil pemikiran anggota DPR yang pro PKI. Dalam RUU tersebut pemerintah diwajibkan meminta maaf ke PKI. Padahal sebelumnya RUU itu sudah ditentang pemerintah. Namun orang-orang PKI yang duduk di parlemen sampai sekarang terus memperjuangkan RUU tersebut. Dan apabila RUU Kebenaran dan Rekonsiliasi disahkan, maka negara harus mematuhi UU. Meminta maaf ke PKI.

Kesembilan, Komnas HAM, LSM komprador, LSM liberal, mulai berani menulis surat pembelaan PKI terhadap presiden. Pembelaan ini sebagai bentuk kepentingan terhadap ideologi komunis. Mereka pada dasarnya ingin PKI bangkit lagi dengan mengatasnamakan hak asasi manusia. Gerakan-gerakan ini patut diwaspadai.

Kesepuluh, saat ini partai politik Indonesia dan partai komunis Cina secara terang-terangan menandatangani kerjasama politik. Partai komunis Cina memberi pelatihan terhadap kader-kader Indonesia. Secara tidak langsung, mereka telah membentuk generasi muda Indonesia masuk dalam paham komunis.

Kesebelas, anak PKI mulai berani melakukan konvoi, pawai keliling. Bahkan para artis dan generasi muda sudah merasa bangga dengan mengenakan kaos Palu Arit. Mereka (generasi muda) tidak tahu bahwa gambar itu bukan sekedar gambar biasa, melainkan bentuk pengakuan bahwa paham komunis sudah kembali ke Indonesia.

Keduabelas, Presiden Joko Widodo selalu ditekan LSM dan Komnas HAM untuk meminta maaf ke PKI. Ini jelas-jelas salah. Bahkan ada oknum kiai mendukung pemerintah untuk meminta maaf ke PKI. Sampai sekarang eks PKI dan keturunannya masih terus memperjuangkan agar negara meminta maaf kepada PKI.

Jika hal ini sampai terjadi dan negara meminta maaf, tentu akan menimbulkan implikasi yang cukup besar bagi negara. Sekali lagi, negara kalah oleh PKI. Permintaan maaf pada PKI akan memberi kesan bahwa PKI tidak salah. Jadi siapa yang salah? Kesannya yang salah adalah orang-orang yang selama ini memperjuangkan kedaulatan NKRI, NU, Banser, Ansor, tentara, ulama, kiai, dan pesantren. Padahal di jaman dulu, mereka yang jelas-jelas membela aqidah dan membela rakyat. Sangat disayangkan jika kini para ulama, santri dan rakyat yang ganti disalahkan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here