‘Paman Kim’ Pamer Rudal Terbaru ke Paman Sam

0
337
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un melambai kepada warga yang menghadiri parade militer memperingati 105 tahun pendiri Korea Utara Kim Il Sung, di Pyongyang, Sabtu (15/4). ANTARA FOTO/REUTERS

Nusantara.news Perayaan Ulang Tahun ke-105 pendiri Korea Utara, Kim Il Sung pada Sabtu (15/4) semula dikhawatirkan bakal dibarengi uji coba nuklir untuk keenam kalinya. Uji nuklir tidak dilakukan, tapi Korea Utara memamerkan dua rudal balistik terbaru dalam sebuah parade militer di hadapan pemimpin mereka, Kim Jong-Un. Pesan yang sangat jelas, menjawab ancaman Paman Sam terhadap negeri itu.

Amerika Serikat dan Korea Utara dalam beberapa pekan ini terus saling unjuk kekuatan persenjataan militer. Berawal dari uji coba rudal yang dilakukan Korea Utara Februari lalu, sebuah rudal balistik diluncurkan dan jatuh di laut Jepang dan masuk di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) negara itu, bertepatan dengan pertemuan pemimpin AS Donald Trump dan PM Jepang Shinzo Abe di resor Mar-a-lago, Florida. AS memprotes keras tindakan Korea Utara dan berjanji akan melindungi negara-negara sekutunya di kawasan itu.

Pada awal Maret AS melakukan penyebaran sistem anti-rudal THAAD (Terminal High Altitude Area) di Seoul untuk melindungi Korea Selatan, sekutu AS yang merupakan negara tetangga Korea Utara. AS juga melakukan latihan militer gabungan besar-besaran dengan Korea Selatan di semenanjung Korea. Aktivitas yang membuat Korea Utara merasa semakin terganggu dan terancam.

Tidak lama berselang, tepatnya pada awal April, Korea Utara kembali mendemonstrasikan rudal balistiknya yang kembali jatuh di laut Jepang. Uji coba dilakukan tepat sehari menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping pada 6-7 April lalu di Florida. AS merespon keras, sebelumnya, Trump mengatakan akan melakukan tindakan sendiri terhadap Korea Utara jika Cina tidak bisa diajak bekerja sama mengendalikan negara tetangga dan sekaligus sekutunya itu.

Di saat sama, AS melakukan serangan terhadap pemerintah Suriah pada Jumat dini hari (7/4) sebagai balasan atas penggunaan senjata kimia yang diduga dilakukan rezim pemerintah Suriah Bashar Al-Assad beberapa hari sebelumnya. Diduga, serangan ini sekaligus sebagai unjuk kekuatan militer AS untuk memperingatkan Korea Utara bahwa AS bisa menyerang kapan saja.

AS juga menggeser sekelompok kapal penyerang, termasuk salah satunya kapal induk bertenaga nuklir Carl Vinson, dari Laut Cina Selatan ke semenanjung Korea sebagai sinyal bahwa AS siap menyerang Korea Utara kapan saja. Korea Utara tidak gentar dengan semua itu, melalui kementerian luar negeri, Kim Jong-Un menyatakan siap perang dengan AS bahkan mengancam akan menggunakan senjata nuklir jika AS terus mengancam.

Desas-desus di kalangan wartawan yang diundang ke Korea Utara untuk meliput acara peringatan ke-105 tahun pendiri Korea Utara, Kim Il Sung, pada Sabtu (15/4), rezim Kim Jong-Un bakal melakukan uji coba nuklir yang keenam. AS tiba-tiba menjatuhkan GBU 43/B, bom non-nuklir dengan daya ledak tinggi, yang dijuluki sebagai induk dari segala bom (Mother of All Bombs/MOAB) di wilayah Afganistan, tepat dua hari menjelang perayaan di Korea Utara. Meski targetnya adalah kelompok ISIS di Afganistan, tapi diduga penggunaan MOAB juga untuk membuat efek psikologis bagi musuh-musuh Paman Sam, termasuk Korea Utara agar menjadi takut.

Tapi apakah Korea Utara takut?

Sebagaimana dilaporkan The Washington Pos (15/4), Korea Utara memberikan pertunjukan besar kepada dunia dalam perayaan 105 tahun pendiri negara. Korea Utara memamerkan seri rudal terbaru dan berteknologi lebih maju dari sebelumnya di depan diktator Kim Jong-Un.

Lima belas April adalah hari paling penting dalam kalender Korea Utara, dan Kim Jong-Un telah merayakan ulang tahun kakeknya dengan meriah sebagai cara untuk meningkatkan legitimasi kekuasaannya sebagai penerus dinasti komunis, sekaligus menunjukkan kepada dunia, khususnya Amerika, tentang keseriusan Korea Utara mengembangkan senjata.

Rudal terbaru yang dipamerkan termasuk jenis rudal balistik yang dapat diluncurkan dari kapal selam, berhasil diuji coba tahun lalu, serta satu lagi rudal versi darat yang baru diuji coba bulan lalu.

“Pesan yang coba mereka kirim adalah bahwa mereka bergerak maju dengan pengembangan rudal berbahan bakar padat,” kata Melissa Hanham, seorang ahli di James Martin Pusat Studi Nonproliferasi di California.

Korea Utara telah melakukan pengembangan rudal berbahan bakar padat, sebagai cara untuk menembakkan rudal secara cepat agar terhindar dari deteksi satelit. Para analis saat ini tengah bekerja untuk mengidentifikasi sejumlah rudal terbaru yang dipamerkan Kim Jong Un Sabtu lalu.

Kendaraan militer membawa rudal dengan huruf karakter bertuliskan ‘Pukkuksong’ dalam parade militer memperingati 105 tahun pendiri Korea Utara, Kim Il Sung di Pyongyang, Sabtu (15/4). ANTARA FOTO/REUTERS
Warga bersorak saat sebuah rudal dibawa melewati tempat pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan pejabat tinggi lainnya dalam sebuah parade militer yang memperingati 105 tahun pendiri Korea Utara, Kim Il Sung, di Pyongyang, Sabtu (15/4). ANTARA FOTO/REUTERS
Rudal dibawa melewati tempat pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan pejabat tinggi lainnya dalam sebuah parade militer yang memperingati 105 tahun pendiri Korea Utara, Kim Il Sung, di Pyongyang, Sabtu (15/4). ANTARA FOTO/REUTERS

Salah satu rudal disebut  tampak mirip dengan KN-08, rudal balistik antar-benua (intercontinental ballistic missile/ICBM). Rudal ini diperkirakan memiliki jangkauan sekitar 7.500 mil atau sekitar 12.070 kilometer. “Cukup untuk mencapai daratan  Amerika Serikat dari Korea Utara,” kata Joshua Pollack, editor Nonproliferation Review.

Selain itu, satu lagi mungkin KN-14, rudal lain yang juga diperkirakan mampu mencapai daratan AS, meskipun memiliki jangkauan sedikit lebih pendek.

Sementara, truk-truk yang membawa tabung rudal dalam parade berasal Cina yang diekspor untuk Departemen Kehutanan Korea Utara, namun digunakan di parade militer untuk membawa rudal.

Secara keseluruhan, pesan yang ingin disampaikan Kim Jong-Un dalam perayaan tahunan yang disebut sebagai Hari Matahari, bahwa Korea Utara terus mengalami kemajuan teknologi dalam membuat rudal.

Parade militer Korea Utara dilakukan di tengah meningkatnya peringatan keras dari dunia luar dan kekhawatiran tentang sejumlah aksi militer di wilayah tersebut. Cina merupakan salah satu yang vokal menyuarakan agar kedua belah pihak, AS dan Korea Utara tetap tenang dan menahan diri.

Minggu (16/4), Wakil Presiden AS Mike Pence memulai tur pertamanya di kawasan Asia, salah satu agenda Pence yaitu fokus memperkuat aliansi Washington dengan Korea Selatan dan Jepang untuk menghentikan program senjata nuklir Korea Utara.

Apakah Donald Trump akan semakin mempercepat serangan ke Korea Utara, atau justru menghitung lebih matang, setelah pertunjukan parade militer Korea Utara pada perayaan monumental Sabtu (15/4) lalu? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here