Pancasila Berkah Istimewa dari Allah untuk Indonesia

0
243

Nusantara.news, Surabaya – Budayawan asal Jombang, Jawa Timur Emha Ainun Nadjib di hadapan undangan serta ribuan orang di acara Halal bi Halal Arek Surobyo di Yayasan Kalimasadha Nusantara (YKN), SWH Center, Surabaya, secara implisit mengurai kalau Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila adalah ‘hadiah istimewa’ dari Allah SWT.

Cak Nun mengurai, rahmat untuk Indonesia berawal dari peristiwa pengebomam Kota Nagasaki dan Hirosima, di Jepang oleh Amerika Serikat. Dari peristiwa itu Allah SWT memberikan hidayah untuk NKRI, yakni Pancasila yang kemudian menjadi dasar negara Indonesia.

Mengawali tuturnya, Cak Nun mengisahkan, “Malam ini, dan sampai kapan pun kita tidak boleh putus asa. Indonesia memang sedang mengalami penyakit, satu penyakitnya yakni komplikasi. Kita memang sedang sakit parah, tetapi tidak boleh putus asa. Bagaimana pun juga, dan sampai kapan pun Indonesia harus tetap dicintai,” ucap Cak Nun disambut gemuruh ribuan penggemarnya, bernada siap.

Sebelum mendadar wejangan, Cak Nun mengajak undangan dan semua yang hadir untuk berdiri, menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dilanjutkan dengan lagu Syukur. Dengan tertib, baik yang di atas panggung dan semua yang hadir tertib dan khidmat mengikuti arahan Cak Nun.

“Ayo, semua yang hadir di sini berdiri, menyanyikan Indonesia Raya. Dilanjutkan dengan lagu “Syukur” karangan Syeh Habib Munkahar Al Habsyi, pejuang kemerdekaan, Duta Besar pertama RI di Italia, beliau imigran dari Hadrah Maut, Yaman, masuk kedalam ranah Bhinneka Tunggal Ika.

Cak Nun mengajak dalam keadaan apa pun kita semua (bangsa Indonesia) harus terus bersyukur. “Pokoknya hidup itu, baik kaya atau melarat kita harus tetap bersyukur sampai kita mati. Kalau kita terus bersyukur sampai mati, kita akan bisa kembali ke kampung halaman kita, di surga,” ucapnya, disambut kata amin, oleh semua yang hadir dilanjutkan memanjatkan doa untuk keselamatan Indonesia, masyarakat dan masing-masing individu yang hadir.

Kemudian masih kata Cak Nun, dunia dalam tujuh tahun ke depan termasuk Indonesia akan mengalami evolusi dan sedikit revolusi. Terjadi kejutan-kejutan termasuk di Indonesia, tidak hanya soal perubahan tatanan ekonomi dan politik, tetapi juga soal tatanan berbangsa menuju kebaikan.

Dengan Pancasila, lanjut Cak Nun yang merupakan rahmat dari Allah SWT untuk Indonesia. Diharapkan akan ada penghuni Indonesia baru yang lahir dari ketidakseimbangan yang terjadi saat ini untuk membangun kembali Indonesia menuju keseimbangan.

“Jawa Timur, khususnya Surabaya sebagai titik kecil perubahan menuju keseimbangan,” ujarnya.

Budayawan asal Jombang ini kemudian mengurai penelusuran perjalanan sejarah kalau lahirnya Pancasila tidak lepas dari peristiwa yang terjadi di dunia. Berawal dari Amerika Serikat yang menjatuhkan bom atom ke dua kota di Jepang, Nagasaki dan Hirosima.

“Coba seandainya bom itu dijatuhkan pada 31 Desember? Terus kemudian Indonesia merdeka 1 Januari, apakah burung Garuda itu bulunya cuma satu, kan lucu, kontal-kantul begini,” ucapnya, sambil kedua jari telunjuk tangannya digoyang-goyangkan.

“Untungnya Indonesia merdeka 17 Agustus 1945, sehingga bulunya Garuda ada 17, dan ekornya ada delapan seperti kita lihat sekarang,” lanjut Cak Nun disambut gelak tawa semua yang hadir.

Keberadaan Indonesia ada campur tangan yang maha kuasa, siapa pun yang akan berbuat tidak baik atau merusak Indonesia akan berhadapan dengan Allah SWT. Dan, di malam yang cerah itu, dengan khusuk semua yang hadir memanjatkan berharap kepada Tuhan untuk kebaikan Negara Indonesia. Diharapkan saatnya nanti akan lahir penghuni baru yang lahir untuk menuju Indonesia berkeseimbangan.

Untuk diketahui, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945, di tahap akhir Perang Dunia Kedua. Tindakan menjatuhkan bom itu setelah ada persetujuan dari Britania Raya sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Quebec. Dua operasi pengeboman di negara Matahari Terbit itu menewaskan sedikitnya 129 ribu jiwa. Itu merupakan penggunaan senjata nuklir untuk pertama dan terakhir kali dalam sejarah, yang memakan biaya cukup besar. Amerika Serikat sebelumnya melaksanakan kampanye pengeboman yang meluluhlantakkan banyak kota di Jepang.

Dalam sejarah tercatat, perang di Eropa selesai setelah Jerman Nazi menandatangani instrumen penyerahan diri pada 8 Mei 1945. Akan tetapi, Jepang menolak memenuhi tuntutan Sekutu untuk menyerah tanpa syarat. Perang Pasifik pun berlanjut. Bersama Britania Raya dan China, Amerika Serikat meminta pasukan Jepang menyerah dalam Deklarasi Postdam tanggal 26 Juli 1945 atau menghadapi “kehancuran cepat dan besar”.

Kemudian, Presiden Amerika Serikat Harry S Truman meminta Jepang menyerah 16 jam kemudian dan memberi peringatan akan adanya “hujan reruntuhan dari udara yang belum pernah terjadi sebelumnya di muka bumi.”

Tiga hari kemudian, pada 9 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom plutonium jenis implosi (Fat Man) di Nagasaki. Dalam kurun dua sampai empat bulan pertama setelah pengeboman terjadi, dampaknya menewaskan 90 ribu hingga 146 ribu orang di Hiroshima dan 39 ribu hingga 80 ribu di Nagasaki. Kurang lebih separuh korban di setiap kota tewas pada hari pertama. Pada bulan-bulan seterusnya, banyak orang tewas karena efek luka bakar, penyakit radiasi dan cedera lain disertai sakit serta kekurangan gizi.

Tanggal 15 Agustus 1945, enam hari setelah pengeboman Nagasaki dan Uni Soviet menyatakan perang, Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu. Tanggal 2 September, Jepang menandatangani instrumen penyerahan diri yang otomatis mengakhiri Perang Dunia II.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here