Pangeran Sambernyawa, Strategi “Jenang Katul” dan Perintis Tentara Modern

0
659

Nusantara.news, Jakarta – Tangan kanannya mengacungkan pedang ke atas. Matanya membelalak. Dengan tubuh yang berdiri tegak, ia meneriakkan pekik ‘’Tiji Tibeh’’ untuk membakar semangat juang para prajuritnya. Dialah Pangeran Sambernyawa, seorang pemimpin trah Mataram, penantang Belanda pada dekade tahun 1749-1757.

Sebutan Sambernyawa sendiri diberikan oleh Baron van Hohendorff, Gubernur Pesisir Jawa Bagian Timur Laut ketika itu, karena dalam setiap peperangan, dia selalu menebar maut bagi musuh-musuhnya.

Tokoh yang dikenal sebagai arsitek militer serta memiliki kepemimpinan yang kuat ini, punya dua prinsip kepemimpinan yang masih aktual hingga sekarang, yaitu Tiji Tibeh dan Tridharma. Tiji Tibeh, yang merupakan kepanjangan dari mati siji, mati kabeh; mukti siji, mukti kabeh (gugur satu, gugur semua; sejahtera satu, sejahtera semua), mengandung konsep kebersamaan antara pemimpin dengan rakyatnya.

Sedangkan Tridharma (tiga kebaktian), memuat prinsip-prinsip bernegara yang mengatur hubungan antara pemimpin, rakyat, dan tanah airnya. Tiga dharma itu adalah “(1) mulat sarira hangrasa wani (berani introspeksi diri), (2) rumangsa melu handarbeni (wajib merasa memiliki), (3) wajib melu anggondheli (wajib ikut mempertahankan).”

Jauh sebelum bangsa-bangsa di Eropa merancang konsep bernegara dengan semboyan right or wrong is my country sekitar awal abad ke-19, Pangeran Sambernyawa telah merumuskannya lebih sempurna dalam Tridharma. Maknanya pun sangat mendalam, karena mengandung spirit jatidiri manusia yang cinta ketinggian martabat, kemerdekaan, kebangsaan, kebersamaan, tanggung jawab, dan solidaritas yang tinggi.

Mulat sarira hangrasa wani, adalah kewajiban memahami diri sendiri sambil melakukan introspeksi agar dapat mengatasi segala rintangan yang menghalangi perbaikan pribadi. Melalui introspeksi, akan timbul kesadaran kesetiakawanan dalam bernegara. Prinsip ini, bisa dibilang memuat “hak dan kewajiban” warganegara sebagai dasar mendirikan negara.

Melu handarbeni, adalah kesadaran bahwa negara bukanlah semata milik raja (penguasa), tetapi milik semua rakyat. Karena itu, Pangeran Sambernyawa menyadarkan pengikutnya untuk punya rasa memiliki negara. Prinsip kedua ini, dapat dipandang sebagai “kontrak sosial” antara raja dan rakyat sebagai dasar prinsip budaya demokrasi.

Selanjutnya, wajib melu anggondheli, adalah prinsip yang mengajarkan kewajiban mempertahankan negara bagi raja dan rakyat secara bersama-sama. Menurut Sejarawan Sartono Kartodirdjo, prinsip ini merupakan akar lahirnya nasionalisme di nusantara.

Memimpin adalah merakyat

Rasanya, kita perlu memutar mundur untuk menyimak “pelajaran” yang sarat keteladanan dari Pangeran Sambernyawa. Sebab, hari-hari ini, jarak antara pemimpin dengan rakyatnya begitu lebar. Relasi elite dengan kaum alit (rakyat kecil), seolah terjadi hanya pada ritual lima tahunan yang amat formalistik dan kalkulatif. Karena dalam laku hidup keseharian, para elite dan pemimpin kita memperlihatkan sikap yang anomali; individualis, memperkaya diri, bahkan tak segan menilep uang-uang yang sejatinya diperuntukan untuk rakyat.

Berkebalikan dari itu, Pangeran Sambernyawa dikenang sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyatnya. Kedekatan ini juga terjalin karena ia tidak pernah memperlakukan prajuritnya sebagai bawahan apalagi budak, tetapi sahabat dalam perjuangan. Prinsip Tiji Tibeh dan Tridharma juga tidak berhenti di slogan, karena ia telah membuktiknnya: bersetia dengan rakyatnya, hidup di sebuah pedalaman selama bertahun-tahun

Pangeran sadar betul, rakyatnya adalah aset meraih kemenangan, juga dalam membangun bangsanya. Karena itu, ia menempatkan rakyat sebagai tujuan dari perjuangannya.

Suatu ketika, setelah pasukannya memenangkan pertempuran dan dibuatnya hampir lupa diri, Pangeran langsung mengumpulkan pasukannya. Di hadapan para pengikutnya itu, dia berseru, “Kemenangan ini bukan kemenangan kalian. Juga bukan kemenanganku. Kemenangan ini ada karena rakyat,” ucap sang Pangeran.

Sikap ini, menunjukkan Pangeran begitu nyata menempatkan kepentingan rakyat sebagai yang utama. Bisa dibayangkan seandainya waktu itu ia membiarkan pasukannya jumawa atau bahkan dirinya sendiri mengklaim sumber kemenangan, niscaya kebersaman yang dibangun dengan rakyatnya akan sirna. Juga lambat laun, pertahanan militernya bisa melemah karena dibuat terlena. Tapi Pangeran Sambernyawa tidak begitu, ia justru mengajarkan bahwa kemenangan/kesuksesan yang diraih bukan lantaran darah satu orang, bukan pula karena kerja satu orang, tetapi hasil kerja kolektif.

Dalam fragmen lain, konon saat Pangeran singgah di gubuk perkampungan kecil untuk berisitirahat, ia tak segan memakan jenang katul (bubur bekatul) yang dihidangkan oleh Mbok Rondo, pemilik gubuk itu. Sang Pangeran langsung menyendok jenang katul yang masih panas itu di bagian tengahnya lalu melahapnya, tentu saja rasanya masih sangat panas.

Duh Pangeran, kalau makan jenang katul itu jangan langsung di tengah, tapi dari pinggir dulu, terus muter, jadi pas sampai tengah kan sudah dingin,” kata Mbok Rondo.

Pangeran tertegun, ia terus merenungi perkataan Mbok Rondo itu. Sementara, ratusan tentara kompeni mulai mengendus keberadaannya dan mengepung setiap sudut kampung tempat Pangeran singgah. Sang Pangeran pun bergegas meninggalkan gubuk, kemudian membabat habis tentara kompeni dengan cara melingkar seperti yang dianjurkan oleh Mbok Rondo sewaktu makan jenang katul.

Rupanya, perkataan Mbok Rondo tadi dijadikannya sebuah strategi perang yang cerdas. Ia mengambil inspirasi dari perkataan itu tanpa melihat siapa yang mengucapkannya, sekalipun dari seorang rakyat miskin seperti Mbok Rondo.

Pelajarannya, seorang pemimpin memang harus mau mendengar masukan dari rakyatnya sendiri. Caranya bagaimana? Bermacam-macam; lewat laporan staf, pemberitaan media, berdialog, atau bahkan turun langsung di tengah masyarakat. Tentu saja, bukan untuk pencitraan agar disebut dekat dengan rakyat.

Tidak ada yang menyangka, sikap Pangeran yang satu ini ternyata dijadikan acuan bagi Soeharto, presiden kedua Indonesia, terutama dalam mengatasi masalah bangsa di tahun 1980an. Saat itu, terjadi resesi dunia, dan pengaruh resesi ini terjadi banyak pemutusan hubungan kerja (PHK).

Soeharto kemudian memerintahkan Menteri Tenaga Kerja Sudomo untuk menerapkan ajaran Tridharma Pangeran Sambernyawa guna menyelesaikan masalah yang terjadi. Dalam Tridharma, ditegaskan bahwa seorang pemimpin akan menjadi panutan bila ia mau turun ke bawah dan mencoba menyerap aspirasi rakyatnya.

“Saya datang dan dialog dengan para karyawan yang kena PHK. Saya minta masukan dari mereka, dan menemui para pimpinan perusahaan yang bersangkutan. Saya tekankan Tridharma ke mereka, rumangsa melu handarbeni, wajib melu hangrungkebi, dan Mulat sarira hangrasa wani (sikap saling memiliki, mempertahankan, dan berintrospeksi). Alhamdulillah masalah PHK akhirnya bisa diatasi,’’ kata Sudomo ketika itu.

Hingga tahun 1995, terang Sudomo, ajaran ini disampaikan Pak Harto di berbagai kesempatan. Di akhir hayatnya, makam Soeharto bahkan tidak jauh dari makam Pangeran Sambernyawa.

Jejak ajaran Tridharma juga diadopsi oleh Presiden keenam SBY, mantan Panglima TNI Wiranto, serta para perwira di dunia ketentaraan (TNI).  Tak heran, slogan “tentara rakyat” dan “ABRI/TNI lahir dari rakyat’’sejatinya adalah nafas dari ajaran tersebut.

Tidak hanya itu, Pangeran Sambernyawa juga dianggap peletak dasar strategi perang gerilya. Teknik perang gerilya yang gunakannya yaitu jejemblungan, dhedhemitan, dan weweludan. Jemblung (seperti orang gila yang tidak punya rasa takut), dhemit atau hantu (sulit dilacak keberadaannya), serta welud atau belut (sangat licin ketika hendak ditangkap).

Strategi itu kemudian ditiru Panglima Besar Jenderal Sudirman saat berjuang di hutan melawan penjajah. Lalu strategi ini disempurnakan oleh Jenderal A.H. Nasution melalui buku yang ditulisnya, dan hingga kini strategi gerilya itu dipakai pasukan elite di tubuh TNI.

Lantas siapakah sebenarnya Pangeran Sambernyawa yang oleh ilmuwan Barat, Ricklefs, disebut sangat superior di kalangan Jawa pada masa itu?

Dia adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I alias Raden Mas Said. Ia dilahirkan di Kraton Kartasura, 7 April 1725. Ayahnya bernama Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura dan ibunya bernama Raden Ajeng (RA) Wulan, putri dari pangeran Blitar. Namun ibunya wafat sesaat setelah melahirkan Raden Mas Said. Sedangkan ayahnya, yang merupakan putra tertua Sunan Amangkurat IV (Pakubuwana I), penguasa Kesunanan Mataram-Kartasura, dibuang oleh Belanda ke Tanah Kaap (Ceylon) atau Srilanka. Hal ini karena secara politik dia terang-terangan anti-VOC (Belanda).

Seharusnya, ayahnya yang berhak mewarisi tahta sebagai raja Mataram. Namun karena campur tangan Belanda, justru adiknyalah yang naik tahta sebagai Pakubuwono II. Sebaliknya, ayahnya disingkirkan ke negeri jauh. Akibatnya, Pangeran Sambernyawa yang saat itu baru berusia dua tahun, harus mengalami masa kecil tanpa kedua orang tua dan mendapat ketidakadilan dari keluarga keraton. Ia kemudian menghabiskan masa kecilnya bersama anak-anak para abdi dalem, bahkan konon sering tidur di kandang kuda, sehingga ia sangat memahami bagaimana kehidupan kawula alit (rakyat kecil).

Dengan ketidaknyamanannya itu, dia lalu mengambil keputusan meninggalkan keraton, dan hidup di pedalaman bersama rakyat di Dusun Nglaroh, Wonogiri, daerah asal neneknya. Itu dilakukan sesuai dengan petunjuk gurunya, Kiai Wiradiwangsa. Tujuannya jelas, di daerah itu, diharapkan Pangeran Sambernyawa mendapat dukungan dari kerabatnya sendiri dan menyusun perlawanan.

Perjuangan Pangeran Sambernyawa dilakukan selama 16 tahun (1749-1757). Selama tahun 1741-1742, Raden Mas Said memimpin laskar Tionghoa melawan Belanda. Kemudian bergabung dengan Pangeran Mangkubumi (paman sekaligus mertuanya) selama sembilan tahun melawan Mataram dan Belanda, 1743-1752. Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, sebagai hasil rekayasa Belanda, berhasil membelah bumi Mataram menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta, merupakan perjanjian yang sangat ditentang oleh Pangeran Sambernyawa karena bersifat memecah belah rakyat Mataram.

Selanjutnya, Pangeran Sambernyawa berjuang sendirian memimpin pasukan melawan dua kerajaan Pakubuwono III dan Hamengku Buwono I (Pangeran Mangkubumi), yang dianggapnya berkhianat dan dirajakan oleh Belanda, serta pasukan kompeni (VOC), pada tahun 1752-1757. Selama kurun waktu 16 tahun itulah, pasukan Pangeran Sambernyawa melakukan pertempuran sebanyak 250 kali.

Memang, saat itu tak seorang pun yang berhasil menjamah Pangeran Sambernyawa. Melihat kenyataan tersebut, pemimpin VOC di Semarang, Nicholas Hartingh, mendesak Sunan Paku Buwono III meminta Pangeran Sambernyawa ke meja perdamaian. Akhirnya, terjadilah perdamaian dengan Sunan Paku Buwono III yang diformalkan dalam Perjanjian Salatiga, 17 Maret 1757. Pertemuan berlangsung di Desa Jemblung, Wonogiri.

Istana Mangkunegaraan

Disepakati bahwa Pangeran Sambernyawa diangkat sebagai Adipati Miji alias mandiri/otonom, bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I. Wilayah kedudukannya meliputi Keduwang, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara, dan Kedu. Dia mendirikan istana di pinggir Kali Pepe pada 1756. Tempat itulah yang hingga sekarang dikenal sebagai Istana Mangkunegaran.

Menggagas Pasukan Militer Jawa Modern ala Eropa

Selama memerintah, Pangeran Sambernyawa membangun kekuasaan militer terbesar di antara tiga kerajaan Jawa. Jumlah pasukannya ini mencapai 4.279 tentara reguler. Terdiri dari satu peleton prajurit bersenjata karabin (senapan), satu peleton bersenjata penuh, dan satu peleton kavaleri (pasukan berkuda). Dia juga membagi pasukannya dalam tiga matra, yaitu matra laut, matra darat dan matra gunung. Masing-masing anggota matra ini dipilih dari penduduk asli yang menguasai kondisi lingkungannya dengan baik.

Pasukan Sambernyawa ini kelak dikenal dengan “Legiun Mangkunegara.” Legiun Mangkunegara, kesatuan militer paling modern pada zamannya, merupakan cikal bakal dari militer-militer yang ada di Indonesia saat ini. Legiun Mangkunegaran mengadopsi latihan tempur ala pasukan Perancis, Legionnaire atau Legiun Asing Perancis. Namanya pun mengadopsi dari organisasi militer Perancis yang pernah menguasai Jawa di bawah kekuasaan Napoleon Bonaparte pada tahun 1808-1811 tersebut.

Tentara Mangkunegara

Legiun Mangkunegara merupakan bentuk perpaduan budaya asing dengan pengetahuan setempat. Cara berpakaian para anggotanya pun merupakan kombinasi antara militer Perancis dan Jawa. Pasukan yang terdiri dari orang-orang terbaik di lingkungan Kasunanan Surakarta ini, dilengkapi dengan seragam dan persenjataan ala pasukan yang menguasai daratan Eropa.

Tidak hanya beranggota kaum lelaki, Legiun Mangkunegaran juga memiliki pasukan wanita bersenjata yang sama terlatihnya. Karena itu, Pangeran Sambernyawa tercatat sebagai raja Jawa yang pertama melibatkan wanita di dalam angkatan perang. Prajurit wanita itu bahkan sudah diikutkan dalam pertempuran. Selama 16 tahun berperang, Pangeran Sambernyawa mengajari wanita desa mengangkat senjata dan menunggang kuda di medan perang. Ia juga menugaskan sekretaris wanita untuk mencatat kejadian di peperangan.

Tak tanggung-tanggung, pasukan wanita ini dipimpin langsung oleh istrinya, Rubiyah atau dikenal dengan Matah Ati. Dialah, sang panglima perang wanita pemberani yang tercatat dalam sejarah.

Pangeran Sambernyawa alias Mangkungara I yang memerintah selama kurang lebih 40 tahun, akhirnya wafat pada tanggal 28 Desember 1795. Dia dimakamkan di Astana Mangadeg Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah. Melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 048/TK/Tahun 1988, pemerintah mengangkat Mangkunegoro I sebagai pahlawan nasional, mendapat penghargaan Bintang Mahaputra.

Jajaknya perjuangannya, bisa ditemukan di buku catatan hariannya, atau Babad Lelampahan, Babad Tutur, dan Babad Giyanti, yang tersimpan  di perpustakaan Mangkunegaran. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here