Panglima Baru, Awal Transformasi TNI

0
146
Marsekal-Hadi-Tjahjanto-Usai-Uji-Kelayakan-dan-kepatutan-di-Komisi-I-DPR-RI-Senayan-Jakarta, Rabu (6/12/2017)

Nusantara.news, Jakarta – Paparan Marsekal TNI Hadi Tjahjanto  sebagai calon Panglima TNI dalam fit and proper test di Komisi I DPR RI tentang proxy war, perang asimetris, perang hibrid, sangat menarik. Menarik bukan karena isu itu baru, melainkan karena Marsekal TNI Hadi Tjahjanto yang dinyatakan lulus dalam fit and proper test dan segera dilantik menjadi Panglima TNI yang baru, akan melakukan transformasi di tubuh TNI agar siap dan berkemampuan menghadapi perang asimetris yang bersifat nir-militer itu.

Transformasi

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo adalah Panglima TNI yang paling intens berbicara soal perang asimetris, proxy war, perang hibrid dan lain sebagainya yang disebut perang inkonvesional itu. Walau Jenderal Gatot baru sekadar me-warning bahwa tantangan dan ancaman ketahanan sekarang ini sudah mengalami pergeseran, tetapi warning itu tetap penting.

Karena ketika Marsekal Hadi Tjahjanto  mengangkat persoalan itu dalam fit and proper test di Komisi I DPR RI, Rabu (6/12/2017), tampak seperti estafet kepemimpinan. Kondisinya sesuai dengan langkah Jenderal Gatot mengantar Marsekal Hadi Tjahjanto sampai ke gerbang gedung DPR RI di Senayan, dan kemudian melepasnya menghadapi fit and proper test.

Dalam paparannya di hadapan Komisi I DPR RI, Hadi Tjahjanto secara tidak langsung menyatakan akan menjadikan perang asimetris itu sebagai tantangan baru.

Karena, “Secara langsung dan berkelanjutan akan mempengaruhi pengambilan kebijakan-kebijakan dan cara-cara bertindak strategis oleh semua pemangku kepentingan penyelenggara negara,” katanya.

Marsekal Hadi menyoroti tiga hal yang harus dicermati. Yakni perkembangan teknologi, informasi komunikasi, dan transportasi. Ketiga hal tersebut, kata Marsekal Hadi, telah mengubah model interaksi yang paling hakiki antar-manusia, bahkan antar-negara.

Dampak perubahan besar ini telah memunculkan bentuk-bentuk friksi bahkan konflik baru yang berbeda dari apa yang pernah ada sebelumnya.

Berangkat dari hal tersebut, tegas Marsekal Hadi, maka akan muncul fenomena-fenomena baru yang dengan sendirinya akan merngubah perspektif ancaman terhadap pertahanan negara.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, TNI perlu mentransformasi diri dari suatu organisasi pertahanan negara yang profesional modern dan tangguh guna menjadikan TNI sesuai dengan semangat transformasi tersebut.

Dala kerangka itu, “Maka diperlukan payung hukum yang kuat, penyesuaian doktrin yang integratif, pengembangan sumber daya manusia berjiwa satria militan, loyal, dan profesional yang dilengkapi dengan perlengkapan alutsista yang modern. Sehingga dapat melaksanakan tugasnya dengan baik sebagaimana yang diamanatkan oleh konstitusi,” katanya.

Inkonvensional

Perang asimetris memang bukan hal baru. Presiden John F. Kennedy sudah memprediksi tentang hal itu jauh sebelumnya. Saat memberikan sambutan di Akademi Militer West Point AS, tahun 1962, Kennedy mengatakan sebagai berikut: “Ini adalah jenis perang yang lain, baru dalam intensitasnya, kuno dalam asal-mulanya. Perang oleh gerilyawan, pemberontak, pengacau, pembunuh; perang dengan dadakan, bukan dengan pertempuran terorganisir; dengan penyusupan, bukan dengan agresi; mencari kemenangan dengan merontokkan dan menyusutkan musuh, bukan dengan menghadapinya…  Mereka memanfaatkan kerusuhan ekonomi dan konflik etnis, mereka berusaha berada dalam situasi yang harus kita masuki. Ini adalah tantangan yang ada di depan kita jika kebebasan harus diselamatkan; suatu strategi yang seluruhnya baru, jenis kekuatan yang seluruhnya berbeda, dan oleh karena itu memerlukan bentuk pelatihan militer yang baru sama sekali.”

Perang gaya baru yang tidak bertumpu pada persenjataan atau nir-militer ini tampaknya merupakan kelanjutan perang dalam bentuknya yang baru setelah mengalkami kenyataan keras dan kejamnya perang fisik pada perang dunia I dan II, dan mahalnya perang dingin yang ditandai perlombaan senjata secara masif antara Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet.

Perlombaan senjata itu sendiri telah membuat Uni Sovyet bangkrut. Betapa tidak, sampai tahun 1980, sebanyak 11% GNP Uni Soviet dibelanjakan untuk kepentingan militer. Pada tahun 1980 itu, harga minyak jatuh dan Uni Soviet yang tergantung pada ekspor minyak, tidak mampu lagi membiayai perang dingin. Bubarnya Uni Soviet pada 8 Desember 1991 mengakhiri perang dingin. Perang asimetris tampaknya mulai muncul sejak itu.

Walau perang asimetris sudah muncul sejak awal tahun 1990-an, tidaklah ada kata terlambat. Langkah Marsekal Hadi yang akan mentransformasi atau menyiapkan TNI agar memiliki kemampuan menghadapi perang asimetris, akan tercatat sebagai tonggak baru dalam organisasi TNI.

Masa kepemimpin Marsekal Hadi yang sudah disetujui oleh DPR untuk ditetapkan dan dilantik sebagai Panglima TNI yang baru, sekaligus mengakhiri paradigma TNI setelah merdeka cenderung bersentuhan dengan politik praktis.

Di bawah kepemimpinan Marsekal Hadi, TNI akan kembali ke jati dirinya yang paling hakiki, yakni sebagai tentara rakyat yang lahir dari rahim revolusi.  Sudah barang tentu yang dimaksud dengan revolusi dalam hal ini bukan revolusi mengusir pendudukan asing yang secara fisik hadir di bumi pertiwi, melainkan revolusi menahan penguasaan asing terhadap sendi-sendi kehidupan berbangsa dan ber-Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketahanan Ekonomi

Walau perang asimetris merupakan metode peperangan nirmiliter  namun daya hancurnya tidak kalah, bahkan dampaknya lebih dahsyat daripada perang militer.

Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu memaknai asymmetric warfare sebagai perang nonmiliter atau dalam bahasa populernya dinamai smart power, atau perang non konvensional, merupakan perang murah meriah, tetapi memiliki daya hancur lebih dahsyat daripada bom atom.

“Jika Jakarta di-bom atom, daerah-daerah lain tidak terkena tetapi bila dihancurkan menggunakan asymmetric warfare maka seperti penghancuran sistem di negara ini, hancur berpuluh-puluh tahun dan menyeluruh,” ujar Ryamizard (29/1/2015).

Dalam sejumlah artikel disebut perang gaya baru itu memiliki medan atau lapangan tempur luas meliputi segala aspek kehidupan yang kesemuanya dapat dilakukan bersamaan, atau secara simultan dengan intensitas berbeda.

Kelaziman sasaran pada perang asimetris ini ada tiga: (1) belokkan sistem sebuah negara sesuai kepentingan kolonialisme, (2) lemahkan ideologi serta ubah pola pikir rakyatnya, dan (3) hancurkan ketahanan pangan dan energy security (jaminan pasokan energinya). Selanjutnya ciptakan ketergantungan negara menjadi target atas kedua hal tersebut (food and energy security)

Sedangkan muara ketiga sasaran tadi berujung pada kontrol terhadap ekonomi dan penguasaan sumber daya alam sebuah negara, sebagaimana doktrin yang ditebar oleh Henry Kissinger di panggung politik global: “Control oil and you control nations, control food and you control the people.” (Kontrol minyak maka anda mengendalikan negara, kendalikan pangan maka anda menguasai rakyat).

Perang asimetris sering juga disebut dengan perang gerilya. Namun yang dimaksud gerilya dalam hal ini, bukan gerilya seperti jaman dulu, melainkan gerilya dengan menggunakan kaki tangan, atau proxy, proxy war. Oleh sebab itu serangannya tidak terasakan tetapi “mematikan,” karena kaki tangan itu sudah barang tentu bukan orang sembarangan, melainkan orang berpengaruh secara politik di suatu negara yang sedang diperangi.

Bentuk lainnya adalah pemberontakan, terorisme, konflik intensitas rendah, perang generasi ke 4, perang irreguler, dan sebagainya. Perang asimetris juga merupakan konflik yang melibatkan kekerasan, antara militer formal di satu pihak melawan pihak lain yang informal dan  tidak didukung pasukan bersenjata lengkap namun memiliki militansi yang tinggi.

Dalam perang asimetris, ke dua pihak berusaha untuk mengeksploitasi kelemahan lawan dengan menggunakan strategi dan taktik perang konvensional maupun non-konvensional. Pihak yang lebih lemah berusaha menggunakan strategi yang lebih jitu untuk mengimbangi kekurangannya dalam kuantitas atau kualitas militer. Strategi pihak yang lemah menghindari tindakan secara militer, yang merupakan kekuatan pihak lawan.

Bagaimana negara kecil bisa mengalahkan negara besar? Kemenangan negara kecil atas negara besar disebabkan oleh ketidakmauan negara kecil menghadapi negara besar sesuai terminologi negara besar. Sebaliknya, negara kecil menggunakan terminologi perang yang tidak konvensional dalam menghadapi negara besar, yaitu perang gerilya, terorisme kota, atau bahkan tindakan non-kekerasan.

Penyebab kekalahan negara besar dari negara kecil dalam hal ini ditandai menurunnya kapabilitas politik negara besar itu untuk berperang. Kapabilitas politik yang menurun itu antara lain disebabkan oleh meningkatnya aksi sosial menentang perang, seperti yang terjadi di AS pada tahun 1960-an.

Indonesia adalah negara terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika. Indonesia adalah negara yang masih memiliki sumber energi dan pangan yang besar. Oleh sebab, sangat potensial dijadikan sebagai sasaran dalam perang asimetris.

Dalam perspektif ini, langkah Marsekal Hadi sebagai Panglima TNI yang baru mentransformasi dan menyiapkan organsisasi TNI agar berkemampuan menghadapi perang asimetris menjadi sangat penting atau memiliki urgensi sangat tinggi dan tentu saja mendesak untuk segera direalisasi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here