Panglima TNI Memutar Lagu Koes Plus untuk Mengingatkan Ancaman

1
626
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dikerumuni mahasiswa saat kuliah umum di Kampus UIN Suska Ria,u Pekanbaru, Rabu (5/4). Kuliah umum Panglima TNI itu memaparkan ancaman besar yang dihadapi Indonesia, mulai dari segi ekonomi, pertahanan negara dan ketahanan pangan. ANTARA FOTO/Wahyudi/FBA/aww/17..

Nusantara,news, Pekanbaru – Boleh juga kiat Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam memberi peringatan tentang ancaman yang dihadapi Indonesia. Ketika berceramah di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, Rabu (5/4) siang tadi, tiba-tiba saja Gatot Nurmantyo menayangkan cuplikan video lagu “Nusantara I” karya grup band legendaris Koes Ploes.

Lagu ciptaan Tony Koeswoyo itu sengaja diputarnya mengingat adanya ancaman besar yang sedang terjadi sekarang ini. Gatot Nurmantyo segera menjelaskan, band legendaris dekade 1970-an itu lewat lirik lagunya sudah mengingatkan, “…di nusantara yang indah rumahku, kamu harus tahu, tanah permata tak kenal kecewa, di Khatulistiwa”, sumber daya alam Indonesia yang melimpah bisa menjadi anugerah sekaligus ancaman bagi bangsa Indonesia.

“Dalam lagu itu disebutkan berharap tidak ada yang cemburu, hutan kita luar biasa lebat, lautan luas dan alamnya ramah. Tapi negara lain sudah cemburu, dan ini adalah peringatan bagi anak muda kita agar jangan terlena,” terang Gatot Nurmantyo.

Perwira tinggi lulusan Akademi Militer 1982 ini juga mengatakan, Presiden Soekarno juga pernah mengingatkan, kekayaan sumber daya alam Indonesia membuat iri bangsa lain. Oleh karenanya, orang nomor satu di TNI yang lahir di Tegal, 13 Maret 1960 ini meminta generasi muda, khususnya para mahasiswa memahami ancaman, baik nyata maupun laten yang kini sudah menggunakan berbagai cara untuk memecah belah bangsa Indonesia.

Ancaman nyata itu, sebut Gatot, antara lain upaya China memperluas teritori negaranya di Laut Cina Selatan. Sedangkan ancaman laten berupa infiltrasi lewat film, mode, bahasa, budaya, gerakan radikalisme, teknologi, media sosial, serta narkoba yang telah mematikan 15.000 orang Indonesia tiap tahun.

“Semua itu terjadi karena kita sedang dalam kompetisi global. Yang kalah adalah negara miskin dengan penduduk besar, terjadi kesenjangan ekonomi berujung depresi ekonomi, kejahatan dan konflik yang meningkat, sehingga terjadi imigran meninggalkan negaranya yang miskin,” beber Gatot.

Gatot juga menjelaskan, penyebab konflik dan perang kini bergeser bukan lagi persoalan agama, suku dan bahasa, melainkan persoalan memperebutkan energi dan pangan dari suatu negara oleh negara lain.

Secara geopolitik, imbuh Gatot, negara-negara ekuator yang terancam konflik berlokasi di Asia Tenggara, Afrika Tengah dan Amerika Latin. Indonesia tidak luput menjadi sasaran karena kekayaan alam dan jumlah populasi penduduknya.

“Kalau tidak waspada, kita bisa diusir dari negeri ini. Seperti Indian di Amerika dan Aborigin di Australia,” tandas Gatot yang membuat mahasiswa dan civitas akademika Universitas Islam Negeri Syarif Kasim yang mendengar ceramahnya terkesiap.[]

1 KOMENTAR

  1. Gejala memang sudah tampak, Pak Gatot mempertegas kenyataan itu. Saya sendiri menyebut itu sebagai “konspirasi internasional”. Pak Jokowi mengingatkan hal itu ketika di Barus … Semoga kesadaran mahasiswa tidak terhasut kepentingan sesaat dari intrik politis yang saat ini menggejala!

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here