Paparan Ekonomi Jatim oleh Soekarwo Memukau Singapura

0
80
Pakde Karwo "Infrastruktur, jaminan investasi, ketersediaan tenaga kerja terampil, jadi strategi Jatim untuk menumbuhkan ekonomi" (Foto: Humas dan Protokol Pemprov Jatim)

Nusantara.news, Surabaya – Kondisi ekonomi dan sosial Jatim yang kinclong di hampir satu dekade ini, menjadikan Asia Competitiveness Institute (ACI), Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore bersemangat untuk menghadirkan Gubernur Jawa Timur Soekarwo sebagai pembicara pertama di dalam konferensi tahunan lembaga ekonomi di dunia tersebut. Tema konferensi yang diangkat kali ini yakni perdagangan, produktivitas, dan daya saing, serta revitalisasi motor pertumbuhan di Asia.

Tak heran, jika Pakde Karwo -sapaan Gubernur Jatim Soekrawo- mendapat sambutan meriah di kancah internasional itu. Dalam paparan yang disampaikan tepuk tangan kerap meramaikan suasana, mereka para peserta dipastikan kagum dengan sejumlah materi yang disampaikan Pakde Karwo, soal pertumbuhan ekonomi di Jatim.

“Penyediaan infrastruktur, adanya jaminan pemerintah terhadap investasi yang masuk, dan ketersediaan tenaga kerja terampil, merupakan sebagian strategi yang ditempuh Jawa Timur dalam menumbuhkan ekonominya” urai Pakde Karwo di pemaparannya di acara Asia Competitiveness Institute Tahun 2017 di Hotel Grand Copthorne Waterfront Hotel, Singapura, Jum’at (24/11/2017) kemarin, seperti yang disampaikan Humas Pemprov Jatim, Senin (27/11/2017).

Disebutkan oleh Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Jatim, Benny Sampir Wanto bahwa dalam pelaksanaan reformasi birokrasi, dual system pendidikan kejuruan, serta pembiayaan murah bagi UMKM, merupakan strategi lain yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi Jatim untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi di provinsi berpenduduk 39,017 juta jiwa ini.

“Program yang telah dilaksanakan oleh Pakde Karwo dan Pemprov Jatim itulah yang mendapat sambutan luar biasa, mereka sangat kagum,” terang Benny.

Cara yang dilakukan Pemprov Jatim memang, membuahkan hasil yang luar biasa. Melalui strategi tersebut, pertumbuhan ekonomi di Jatim meningkat menjadi mencapai angka diatas rata-rata nasional.

“Misalnya, pada tahun 2016 lalu, pertumbuhan ekonomi Jatim tercatat sebesar 5,5 persen, sedangkan pada semester III tahun 2017 sebesar 5,21 persen, sementara nasional sebesar pada 5,02 persen pada tahun 2016 dan 5,01 persen pada semester ketiga tahun ini,” terangnya.

Termasuk pada PDRB Jatim yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Jika pada tahun 2015 PDRB Jatim tercatat sebesar Rp1.692 triliun, kemudian pada tahun 2016 tercatat sebesar Rp1.855 triliun, dan pada semester tiga 2017 mencapai Rp1.497 triliun.

Empat Jaminan untuk Investor yang Masuk Jatim

Sementara, selain berbagai program menarik yang telah dijalankan. Di bawah tangan dingin Pakde Karwo, untuk menarik investasi masuk di provinsi ini, Provinsi Jatim memberikan sejumlah kemudahan, yakni empat jaminan bagi investor, di antaranya ketersediaan energi listrik yang cukup, fasilitasi penyediaan lahan industri dan fasilitasi perburuhan langsung yang dilakukan oleh gubernur atau wakil gubernur jika terjadi perselisihan atau sengketa. Serta perijinan layanan satu pintu dengan waktu 17 hari bagi investasi asing dan 11 hari penanaman dalam negeri.

Pemprov Jatim, lanjutnya, juga berkonsentrasi menyediakan tenaga terampil. Terkait itu, Pemprov Jatim kemudian mengubah komposisi pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dibanding Sekolah Menengah Atas (SMA) menjadi 70 banding 30 dari awalnya 30 banding 70.

“Jadi komposisinya memang harus dibalik, untuk menyediakan tenaga kerja lulusan sekolah yang trampil dan siap pakai,” terang Pakde Karwo saat ditemui di Gedung Negara Grahadi, kemarin.

Selain itu, juga dilalukan dual track system, dengan meningkatkan kualitas pendidikan formal melalui kerja sama luar negeri dan pengampuan pendidikan SMK oleh perguruan tinggi di Jatim yang memiliki jurusan teknik dan SMKN negeri bagi SMK swasta. Serta sekaligus peningkatan pendidikan informal yang dilakukan melalui balai kerja dan balai latihan kerja mini bagi SDM yang ada di Jatim.

“Semua jalan tol di Jawa Timur selesai pada tahun 2018. Bahkan telah ada double track kereta api jurusan Jakarta-Surabaya, jalur utara selesai tahun 2019,” terang Pakde Karwo yang menyebut pada konferensi itu dihadiri para pengusaha dan akademisi Singapura serta sebagian pengusaha Indonesia.

Kemudian, masih soal pembangunan yang terus dikerjakan untuk menyediakan fasilitas kenyamanan, dengan dilakukan pembangunan berbagai pelabuhan berskala internasional di Jatim, seperti Teluk Lamong yang menjadi pelabuhan modern yang masuk tiga besar di Asia, yakni Pelabuhan Brondong di Lamongan dan Lamongan Intergrated Based Port, serta Pelabuhan Probolinggo sampai sedalam 16 meter yang akan selesai pada tahun 2019. Juga, peningkatan kualitas industrial estate menjadi 36,344 ribu hektar, dengan kondisi existing saat ini seluas 4,7 ribu hektar dan terus dibangun seluas 31,6 ribu hektar.

Jatim Surplus dengan ASEAN US $ 1.062 Juta

Gubernur Soekarwo dapat sambutan meriah di Asia Competitiveness Institute (Foto: Humas dan Protokol Pemprov Jatim)

Dalam konteks perdagangan di ASEAN, masih kata Pakde Karwo, neraca perdagangan di Jatim terus tercatat surplus US $ 1.062 juta.

“Kami surplus sebesar US $404 juta dengan Singapura, Malaysia sebesar US $ 400,9, Philipina US $ 200 juta, dan Vietnam US $ 183,6 juta,” ujarnya, yang dikatakan itu juga disampikan di depan peserta konferensi yang dihadiri para pengusaha dan akademisi Singapura, serta sebagian pengusaha asal Indonesia.

Disampaikan juga dalam pertemuan bergengsi itu, termasuk kondisi neraca Provinsi Jatim hanya defisit dengan Laos dan Thailand dengan Jatim defisit yakni sebesar US $ 1,3 juta dan 161,2 juta. Itu karena impor produk bahan baku pupuk dan makanan ternak.

Terkait investasi, Pakde Karwo menambahkan, kalau Singapura menjadi negara dengan investasi terbesar di Jatim. Jumlah proyek investasi Singapura sebanyak 34 buah dan berkontribusi terhadap 55,81 persen dari total investasi asing di Jatim, yakni sebesar Rp39,4 triliun. Semakin meningkatnya investasi di Jatim, tidak terlepas dari suasana aman dan nyaman di provinsi ini.

Cara Jatim Melakukan Pendekatan Kultural

Kemudian, Pakde Karwo mengatakan saat pihaknya menjawab pertanyaan Prof. Than Kheee Giap, dari Associate Proffesor ACI tentang rahasia keberhasilan menjabat gubernur hingga dua kali periode di provinsi dengan jumlah penduduk yang cukup besar, Pakde Karwo menjelaskan melalui pendekatan kultural terhadap berbagai program-program yang dijalankannya.

Di antaranya, pro poor terhadap warga Jatim yang dipimpinnya, itu dilakukan diawal pemerintahannya yakni sebanyak 18,51 persen, kemudian pro job terutama bagi pekerja unskilled yang sebagian besar di bidang pertanian dan perikanan. Serta program pro jender terutama di kalangan pesantren dan koperasi wanita sebesar Rp 25 hingga Rp100 juta guna mengurangi keberadaan atau gerakan lintah darat. Juga pro environment yang menjadikan vegatasi di Jatim terus meningkat dari 28 persen menjadi 41 persen terutama melalui tanaman sengon, dan pro growth tanpa menjadikan peningkatan disparitas.

Dijelaskan juga oleh Pakde Karwo, bahwa di konferensi tahunan Asia Competitiveness Institute Tahun 2017 yang merupakan bagian dari kegiatan 2017 Annual The World Bank Group – Asia Competitiveness Institute Conference on “Infrastructure yang berlangsung selama dua hari, 23-24 November 2017 itu, Provinsi Jatim mendapat pujian dari para peserta, dan ingin meniru berbagai program dan keberhasilan yang telah dilakukan oleh Provinsi Jatim.

Berikut Angka Pertumbuhan di Provinsi Jatim

Penduduk usia 15 tahun ke atas di Jatim, hingga Februari 2017 tercatat sebesar 30,31 juta orang. Dari 30,31 juta orang tersebut angkatan kerja mencapai 20,89 juta orang, bertambah sebanyak 392 ribu orang dalam kurun waktu setahun dibanding Februari 2016.

Dari penduduk angkatan kerja tersebut, jumlah yang bekerja mencapai 20,03 juta orang,
selebihnya 855,75 ribu orang masih menganggur. Penduduk yang bekerja tersebut bertambah 385,63 ribu orang dibanding keadaan Februari 2016. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun sebesar 0,04 persen point menjadi 4,10 persen dibanding Februari 2016 sebesar 4,14 persen.

Penduduk yang bekerja pada 9 (sembilan) sektor Lapangan Usaha mengalami kenaikan kecuali Sektor Konstruksi dan Sektor Transportasi, Pergudangan & Komunikasi. Kenaikan tertinggi terjadi pada Sektor Keuangan, yaitu sebesar 168,38 ribu orang atau 55,25 persen. Sementara, penduduk yang bekerja di sektor Formal sebanyak 7,45 juta orang (37,21 persen) bertambah sebesar 195,41 ribu orang (2,69 persen) dibanding setahun yang lalu. Sedang pada sektor Informal sebanyak 12,58 juta orang (62,79 persen) juga bertambah sebanyak 190,22 ribu orang (1,54 persen) selama setahun ini.

Pekerja dengan status pekerja bebas di pertanian maupun di non pertanian berkurang secara signifikan sebesar 513,91 ribu orang atau 37,62 persen dan diduga peralih ke status berusaha dibantu buruh dibayar dan pekerja keluarga dengan membantu usaha keluarga. Pendidikan sebagian besar pekerja masih rendah (SD ke bawah), yaitu 9,34 juta orang (46,61 persen), sedangkan pekerja dengan pendidikan tinggi Diploma ke atas hanya sekitar 2,10 juta orang (10,47 persen), selebihnya adalah pendidikan menengah atas dan kejuruan.

Penganggur dengan pendidikan SMA kejuruan adalah yang tertinggi, yaitu TPT sebesar 8,88 persen sedang yang terendah adalah penganggur dengan pendidikan SD ke bawah yaitu sebesar 2,37 persen.

Angkatan Kerja, Penduduk Bekerja dan Pengangguran

Kondisi ketenagakerjaan di Jatim pada Februari 2017 menunjukkan keadaan lebih baik
dibandingkan Agustus 2016 dan Februari 2016. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan jumlah angkatan kerja dan penurunan jumlah pengangguran. Jumlah angkatan kerja di Jatim pada Februari 2017 bertambah sebanyak 138 ribu orang dibanding di Agustus 2016 dan bertambah 280 ribu orang jika dibanding Februari 2016. Peningkatan jumlah angkatan kerja tersebut otomatis berpengaruh terhadap Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang meningkat dari 66,14 persen pada Agustus 2016
menjadi 68,93 persen pada Februari 2017 atau naik sebesar 2,79 persen poin. Sedangkan dibanding TPAK Februari 2016 (68,27 persen) naik sebesar 0,66 persen poin.

Indikator utama ketenagakerjaan yang sering digunakan sebagai indikator keberhasilan dalam menangani masalah ketenagakerjaan khususnya pengangguran adalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT).

Tingkat Pengangguran Terbuka merupakan perbandingan antara jumlah penganggur terhadap jumlah angkatan kerja. TPT di Jawa Timur pada Februari 2017 sebesar 4,10 persen atau turun sebesar 0,11 persen poin dibandingkan keadaan Agustus 2016 dengan TPT sebesar 4,21 persen. Walaupun penurunannya lebih kecil dibanding periode Agustus 2015 – Februari 2016, akan tetapi diharapkan akan menambah optimisme bahwa penurunan ini akan terus terjadi pada periode selanjutnya.

Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama

Struktur lapangan pekerjaan utama penduduk di Jawa Timur hingga keadaan Februari 2017 tidak mengalami perubahan. Sektor Pertanian, Sektor Perdagangan, Sektor Industri Pengolahan, dan Sektor Jasa Kemasyarakatan masih menjadi penyumbang terbesar penyerapan tenaga kerja di Jawa Timur.

Pada Februari 2017, Sektor Pertanian menyerap tenaga kerja sebanyak 35,12 persen, Sektor Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi menyerap sebanyak 22,88 persen, sedangkan untuk Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan masing-masing sebanyak 14,95 persen dan 14,06 persen.

Jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, yaitu pada keadaan Februari 2016, jumlah
penduduk yang bekerja meningkat sebesar 386 ribu orang. Peningkatan terjadi di sektor sektor lembaga keuangan, real estate, usaha persewaan & jasa perusahaan yang naik sebesar 55,25 persen dari 305 ribu orang menjadi 473 ribu orang, sektor lainnya (Sektor pertambangan & penggalian dan sektor listrik, gas dan air) naik sebesar 6,54 persen dari 160 ribu orang menjadi 171 ribu orang, sektor jasa naik sebesar 6,05 persen dari 2,66 juta orang menjadi 2,82 juta orang.

Sedangkan sektor Transportasi, Pergudangan, dan Komunikasi turun sebesar 9,03 persen dari 766 ribu orang menjadi 697 ribu orang, sektor konstruksi naik sebesar 6,01 persen dari 1,34 juta orang menjadi 1,26 juta orang. Sementara Sektor andalan Jawa Timur naik perlahan tetapi pasti, yaitu Sektor Pertanian naik sebesar 0,41 persen, Sektor Industri
Pengolahan naik sebesar 1,59 persen, dan sektor Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi naik sebesar 2,69 persen.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here