Pemilu Belanda

Partai Liberal Unggul di Pemilu Belanda, Akankah Populisme Layu di Eropa?

0
179

Nusantara.news, Amsterdam – Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi (VVD) meraih keunggulan dalam pemilu Belanda 15 Maret 2017 kemarin. Dengan demikian Perdana Menteri Belanda saat ini, Mark Rutte dapat dipastikan berada di jalur kemenangan untuk memimpin Belanda kembali.

Sebelumnya, populis Geert Widers yang anti-Islam dan anti-imigran digadang-gadang dapat memenangi Pemilu Belanda. Dalam sejumlah survei sebelumnya, Partai untuk Kebebasan (PVV) milik Widers kerap diunggulkan bahkan sempat dalam survei diperkirakan memperoleh 30 kursi dari 150 kursi parlemen Belanda.

Menurut data kantor berita ANP, hasil perhitungan sementara hari ini, Kamis 16 Maret 2017, dengan jumlah suara masuk 55%, Partai VVD Rutte diproyeksikan memperoleh 32 kursi di parlemen, turun dari 41 kursi pada pemilu sebelumnya (2012).

Partai PVV Wilders berada di urutan berikutnya dengan perolehan 19 kursi, begitu juga dengan partai Kristen Demokratic (CDA) dan Demokrat 66, yang masing-masing memperoleh 19 kursi.

Pemilih Belanda berjumlah sekitar 13 juta, dan tingkat partisipasi dalam pemilu tahun ini meningkat hingga 81%, jauh melampaui partisipasi pada tahun 2012 yang hanya sekitar 75%. Tingkat partisipasi pemilih kali ini adalah yang tertinggi dalam pemilu sejak tahun 1986, dimana ketika itu partisipasi pemilih Belanda hampir mencapai 86%. Banyak faktor yang menyebabkan partisipasi pemilih tinggi, termasuk cuaca yang cerah di banyak daerah di Belanda.

Sumber: Reuters

PM Rutte menerima pesan ucapan selamat dari para pemimpin Eropa yang meneleponnya pada malam setelah pemilihan.

“Ini juga merupakan malam dimana Belanda, mengatakan ‘berhenti’ untuk jenis populisme yang salah, setelah Brexit, setelah pemilu Amerika,” kata Rutte menanggapi kemenangan partainya.

Wilders juga menanggapi kemenangan partai Rutte dengan mengatakan bahwa dia belum bisa mencapai kemenangan yang diharapkan dalam pemilu, tapi siap untuk menjadi oposisi yang berat bagi pemerintah Belanda ke depan.

“Saya lebih suka menjadi partai terbesar, tapi kita bukan partai yang telah kehilangan. Kami memperoleh kursi. Itu hasil yang bisa dibanggakan,” kata Wilder di hadapan pers Belanda sebagaimana dilansir Reuters (16/3).

Partai VVD Rutte meskipun menang, tetapi telah kehilangan sekitar 9 kursi dibanding Pemilu 2012, sementara PVV Wilders meskipun menduduki peringkat dua, tapi perolehan kursinya bertambah dari 15 ke 19 kursi dibandin pemilu sebelumnya.

Menurut Wilders, di luar pemerintahan, pengaruh partainya pada politik Belanda akan lebih besar dengan perolehan kursi saat ini.

Wilders juga mengatakan dirinya tidak mengerti soal komentar Rutte yang mengatakan bahwa pemilu Belanda menyatakan “tidak” untuk “populis yang salah”.

“Saya tidak tahu apa yang dia maksud. Dia seperti menyiratkan ada sisi baik dan buruk populis. Saya tidak melihat diri saya sebagai populis, tapi dia menganggap saya seorang populis yang buruk, dan seperti Nazi.”

Kepala Staf Kanselir Jerman Angela Merkel, Peter Altmaier, tak bisa menahan kegembiraannya dengan mentweet: “Belanda, oh Belanda Anda juara, … Selamat atas hasil besar ini!” Jerman dan Kanselir Merkel diketahui sangat anti populisme dan mengecam negara Eropa yang ingin keluar dari Uni Eropa.

Hal yang sama juga dikemukakan Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Marc Ayrault, dia mentweet: “Selamat kepada Belanda untuk membendung kebangkitan sayap kanan.”

Inikah bellwether (pemimpin biri-biri) Eropa?

Pemilu Belanda disebut sejumlah media internasional sebagai bellwether atau ‘pemimpin biri-biri’ bagi pemilu Eropa berikutnya. Dengan demikian, apakah kekalahan populisme dan sayap kanan di Belanda akan diikuti oleh kekalahan-kekalahan berikutnya di negara-negara Eropa yang menyelenggarakan Pemilu setelah ini?

Baca: Akankah Belanda Dipimpin Seorang Geert Wilders?

Sebetulnya jawabannya bisa iya bisa juga tidak, karena sistem pemilu Belanda memiliki karakter yang spesifik dibanding negara-negara Eropa lain.

Paling dekat adalah Prancis yang akan menggelar Pemilu pada bulan April mendatang. Berbeda dengan Belanda sistem Pemilu Prancis adalah pemilihan langsung calon presiden dalam dua putaran, kecuali pada putaran pertama ada yang memperoleh suara lebih dari 50%.

Sejumlah kalangan percaya bahwa hasil pemilu belanda adalah semacam ‘bantuan’ bagi kalangan politisi establish utama di seluruh Eropa, terutama di Prancis dan Jerman, dimana kelompok nasionalis sayap kanan berharap membuat perubahan dalam pemilu tahun ini yang bisa memicu ancaman bagi eksistensi Uni Eropa.

Kandidat sayap kanan Marine Le Pen diperkirakan akan mampu masuk ke putaran kedua Pemilu Prancis pada bulan Mei 2017, sementara partai ‘euroskeptic yang anti-imigran yakni partai sayap kanan, Alternatif untuk Jerman (AfD), kemungkinan juga bisa masuk ke parlemen federal Jerman untuk pertama kalinya pada Pemilu jerman September 2017 nanti.

Namun demikian, Mabel Berezin, profesor sosiologi di Cornell University Amerika Serikat  mengatakan, kekalahan Wilders, yang telah berada di parlemen Belanda selama hampir dua dekade tidak bisa dianggap sebagai pertanda bahwa populisme Eropa berkurang.

“Dia (Wilders) tidak mewakili gelombang populis. Sebaliknya, dia adalah bagian dari lanskap politik Belanda dan partainya tidak memberitahu kita banyak hal tentang populisme Eropa,” katanya.

Menurut Berezin, Pemilu Bellwether (pemimpin biri-biri) yang sesungguhnya adalah Prancis. Dimana Marine Le Pen mencalonkan diri dalam pemilu presiden Prancis bulan April nanti. “Dia telah menunjukkan populisme Eropa, itulah seharusnya fokus kita,” kata Berezin. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here