Partai Merkel Dipaksa Lakukan Koalisi “Tom and Jerry”

0
137
Markel dan bekas tokoh oposisinya yang satu langkah lagi menjadi mitra koalisinya di pemerintahan Jerman

Nusantara.news, Berlin – Setelah memenangkan Pemilu Federal 24 September 2017, akhirnya Angela Merkel selaku kandidat incumbent dari koalisi Partai Persatuan Kristen Demokrat Jerman (CDU/Christlich Demokratische Union Deutschlands) – Persatuan Sosialis Kristen di Bayern (CSU/Christlich-Soziale Union in Bayern) atau disingkat CDU/CSU menemukan mitra koalisi yang memungkinkannya menjabat kanselir selama 4 kali berturut-turut.

Sayangnya, mitra koalisi yang sudah sepakat dengan CDU/CSU adalah Partai Sosialis Demokrat Jerman (SPD/Sozialdemokratische Partei Deutschlands). Selama ini kedua partai politik ini, kalau CDU/CSU berkuasa maka SPD mengawasi. Begitu juga sebaliknya. Maka di Jerman, hubungan kedua partai politik ini mengingatkan kita pada tokoh kartun “Tom” dan “Jerry”.

Tapi persoalannya penentu koalisi tidak cukup hanya melibatkan pimpinan kedua partai seperti di Indonesia. Pemegang kartu tanda anggota (KTA) SPD juga harus dilibatkan. Jumlahnya pun mencapai 460 ribu jiwa. Mereka akan memilih “Ya” atau “Tidak” atas tawaran pimpinan SPD berkoalisi dengan “seterunya” di pos-pos yang sudah ditentukan. Hasilnya baru akan diketahui pada 2 Maret 2018 nanti.

Sistem Pemilu Jerman

Sistem pemilihan di Indonesia dan  Jerman memang berbeda. Pemilu Federal di Jerman memilih Bundestag atau anggota parlemen. Masing-masing pemilih akan mendapatkan dua lembar kartu pemilih. Lembar pertama mencoblos gambar calon yang diajukan oleh partai politik. Pada lembar kedua pemilih mencoblos partai politik untuk menentukan ambang batas parlemen (parliamentary threshold).

Calon yang mendapat suara terbanyak belum tentu terpilih. Kalau suara partainya di bawah ambang batas parlemen 5% gagalah dia. Gambar calon dan gambar partai tidak dicoblos dan sekaligus dihitung menjadi satu. Tapi dihitung masing-masing. Dengan demikian suara calon tidak sekaligus include dengan suara partai seperti pada Pemilihan di Indonesia.

Para Bundestag ini yang nantinya memilih Kanselir. Pada Pemilu September 2017, CDU/CSU hanya meraih 246 dari 709 kursi yang diperebutkan. Koalisi hanya bisa dibangun apabila CDU/CSU mampu menggalang kerjasama dengan partai politik atau gabungan partai politik lainnya sehingga mendapat dukungan 355 kursi di parlemen.

SPD selaku partai pemenang ke-2 meraih 153 kursi. Koalisi CDU/CSU dan SPD akan berkekuatan 399 kursi.

Cairkan Kebuntuan

Merkel akhirnya merasa plong setelah kekuatan konservatif di tubuh partainya setuju berkoalisi dengan SPD. CDU dan CSU sendiri merupakan partai koalisi permanen yang ideologinya sedikit berbeda. CDU lebih liberal sedangkan CSU lebih konservatif. Termasuk menyepakati hilangnya jabatan 6 menteri kunci yang diberikan kepada SPD.

Kesepakatan koalisi itu setidaknya mengatasi kebuntuan politik yang berjalan selama 4 bulan. Meskipun begitu, kesepakatan di antara petinggi partai politik itu harus mendapatkan persetujuan 460 ribu pemegang kartu anggota SPD. Ini juga berbeda dengan di Indonesia yang semua keputusan diambil oleh pengurus pusat partai.

Apabila disetujui oleh mayoritas anggota SPD koalisi pemerintahan akan segera terbentuk. Sebaliknya apabila ditolak, CDU/CSU bisa membentuk pemerintahan rapuh dengan mengajak lebih dari satu partai politik atau koalisi permanen partai politik. Namun kecenderungan yang paling mungkin adalah terjadinya pemilu ulang.

Dalam sebuah konferensi pers, Rabu (7/2) Kanselir Markel mengatakan kesepakatan itu memberikan dasar bagi sebuah pemerintahan yang baik dan stabil. Pemimpin SPD Martin Schulz juga mengucapkan terima kasih kepada konservatif karena kesepakatan itu telah melewati kompromi yang sulit.

Lewat akun Twitter miliknya, Schulz menyebutkan kesepakatan itu semacam kemenangan bagi partai politiknya dan merekomendasikan kepada seluruh anggota partainya. Paling tidak dalam cabinet yang akan terbentuk nanti, SPD mendapatkan 6 kursi menteri – termasuk dua kementerian strategis : keuangan dan luar negeri.

Penolakan Koalisi

CDU/CSU dengan halauan Konservatif kanan-tengah sebenarnya kurang berbahagia dengan koalisi yang terpaksa itu. Tapi itu pilihan terbaik dari yang terburuk. Dengan kata lain Tom yang biasa saling mengawasi dipaksa oleh keadaan untuk bermitra dengan Jerry.

Tapi suara-suara nyinyir juga bermunculan. Pimpinan Liberal Demokrat (FPD) yang kali ini gagal berkoalisi dengan mitra tradisionalnya CDU/CSU itu menyindir Merkel, demi mempertahankan jabatan Kanselir posisi strategis diberikan kepada musuh. Sebaliknya, di kubu SPD juga muncul faksi NoGroKo yang menentang kesepakatan pimpinan partainya dengan Merkel.

Wartawan BBC News di Berlin, Damien McGuiness mengulas dengan jatuhnya jabatan Menteri Keuangan dan Ketenagakerjaan ke partai kiri di Jerman akan memberikan dampak besar bagi negara-negara lain di Eropa. Belanja infrastruktur dasar dan program layanan sosial akan mendorong perekonomian Jerman lebih maju, dan pemotongan pajak dapat memberikan dorongan tambahan bagi belanja konsumen Jerman.

Kementerian Sosialis Demokrat – menggantikan pro-penghematan Wolfgang Schäuble – lebih matching dengan rencana ambisius Presiden Perancis Emmanuel Macron yang bertekad melakukan reformasi Uni Eropa (UE). Dan memang baik CDU/CSU maupun SPD memang lebih mendekat ke UE di tengah menguatnya partai-partai politik penentang UE dan globalisasi.

Jatuhnya jabatan menteri keuangan ke tangan SPD, imbuh McGuiness, bisa lebih setuju dengan usulan Macron yang akan menyerasikan kebijakan Kementerian Keuangan UE dan negara-negara anggotanya. Terpenting lagi, Menteri Keuangan ini akan membantu SPD mendorong lazimnya kebijakan sayap kiri, seperti hak-hak pekerja yang lebih baik.

Koalisi Tom and Jerry

Mengutip hasil pemilihan umum federal 24 September 2017, sebenarnya – baik CDU/CSU maupun SPD sama-sama mengalami kemerosotan suara. Bayangkan saja, CDU/CSU yang sebelumnya meraih 311 kursi tinggal meraih 246 kursi atau turun 65 kursi. Sedangkan SPD mengalami penurunan 40 kursi dari 193 tinggal 153 kursi.

Sebelumnya untuk meraih suara mayoritas di parlemen, CD/CSU hanya membutuhkan 44 kursi. Kala itu cukup bermitra dengan koalisi permanen 90 partai Hijau yang memiliki 63 suara. Kala itu pula Partai Liberal Jerman (FDP/Freie Demokratische Partai) yang terhitung partai senior di Jerman gagal mencapai ambang batas parlemen.

Begitu juga dengan Partai Alternatif Jerman (AfD/Alternative für Deutschland) yang meskipun partai baru namun suah dipilih oleh 4,7% pemilih atau kurang dari 0,3% untuk mencapai ambang batas parlemen. Namun pada September 2017, AfD tampil mengejutkan setelah menduduki posisi ke-3 di parlemen dengan perolehan 94 kursi. FDP pun yang tadinya 0 kursi juga meraih 80 kursi.

Mulanya Merkel sudah merapat ke FDP yang memiliki 80 kursi. Tapi satu partai tidak cukup. Pilihan yang paling mungkin adalah mencari tambahan dari koalisi 90 partai hijau yang memiliki 67 kursi. Tidak mungkin pula Merkel mengajak partai kiri habis (De Linke) yang memiliki 69 kursi atau berpaling AfD selaku pemenang ketiga yang memiliki 94 kursi.

Persoalannya partai-partai di Jerman umumnya tidak menyukai terbentuknya pemerintahan yang melibatkan partai radikal – baik sayap kiri maupun sayap kanan.

AfD sendiri adalah partai yang anti imigran, anti asing, anti Islam, anti UE dan anti globalisasi. Selain dimusuhi parpol-parpol lainnya, AfD yang memiliki pengikut kalangan bawah dan berpendidikan rendah ini juga dimusuhi sebagian besar warga Jerman.

Jadi kesepakatan antara pimpinan CDU/CSU dan SPD bukan dibangun karena keduanya saling cinta. Melainkan karena didesak oleh keadaan. Secara ideologi CDU/CSU lebih dekat ke FPD. Tapi dua partai tidak cukup. Perlu tambahan partai lain. Paling mungkin Koalisi Partai Hijau. Sialnya partai terakhir yang periode lalu mendukung Merkel itu menolak.

Setelah planning A mengajak FDP dan Koalisi Partai Hijau tidak jalan, maka planning B mengajak rival bergabung terpaksa dijalankan. Toh CDU/CSU dan SPD sama-sama pro-UE dan pro-Globalisasi. Tidak ada lagi planning C yang berarti mengajak FDP dan satu di antara partai dua partai radikal bergabung.

Sebab begitulah fatsun politik di Jerman, Bukan sekedar mengejar kekuasaan dengan tidak peduli koalisinya belang bonteng, tidak ada kesesuaian baik platform maupun ideologi. Melainkan juga memiliki rambu-rambu yang jelas, partai politik apa saja yang boleh diajak dan apa saja yang tidak boleh diajak.

CDU/CSU dan SPD secara ideologi mungkin seperti Tom dan Jerry. Tidak ada cinta di antara kedua pemimpin dan pengikutnya. Tapi karena keduanya sama-sama kehilangan banyak suara, maka Tom dan Jerry dipaksa berkoalisi. Itu pun belum tentu disetujui oleh anggota partai SPD yang hasilnya baru diumumkan pada 2 Maret nanti. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here