Partai-partai Sayap Kanan Eropa Sambut Positif Rencana Kebijakan Trump

0
592

Nusantara.news, Jakarta – Pemimpin sayap kanan Perancis Marine Le Pen mengimbau para pemilih di Eropa untuk mengikuti contoh AS dan Inggris serta “bangkit” pada tahun 2017. Pernyataanya itu disampaikan dalam sebuah pertemuan antar para pemimpin partai sayap kanan di Kota Koblenz, Jerman, Sabtu (21/01/2017).

Petemuan ini bertujuan untuk mengalahkan apa yang mereka sebut sebagai “partai mapan” dalam pemilu tahun ini. Di depan ratusan pendukungnya Le Pen mengatakan, Inggris yang tahun lalu telah meninggalkan Uni Eropa akan memiliki efek domino.

Sehari setelah Presiden AS Donald Trump menjabat, Le Pen mengatakan bahwa pidato pelantikannya memiliki “kesamaan aksen” dengan ide tentang kedaulatan nasional yang dicanangkan oleh para pemimpin sayap kanan yang bertemu di Kota Koblenz.

“2016 adalah tahun kebangkitan di dunia Anglo-Saxon. Saya yakin 2017 akan menjadi tahun orang-orang di benua Eropa untuk Bangkit,” katanya disambut tepuk tangan keras para hadirin.

Pihak populis kini memang tengah berkembang di seluruh Eropa. Pengangguran dan penghematan anggaran, serbuan pengungsi dari Timur Tengah serta serangan kaum militan di Perancis, Belgia dan Jerman telah membuat masyarakat Eropa merasa kecewa pada pemerintah.

Le Pen adalah Ketua persekutuan parpol anti Uni Eropa dan Ketua Front Nasional (FN), parpol terdepan di Perancis yang mengusung tema anti-imigran. Oleh sejumlah lembaga survei di negeri itu ia diperkirakan sangat berpeluang untuk meraih suara dalam pemilu presiden Perancis pada bulan Mei mendatang. Anti kaum imigran dan anti minoritas asing akan menjadi program utama Le Pen jika ia terpilih menjadi presiden Perancis.

“Faktor kunci yang akan menjadi arah semua kartu domino di Eropa adalah Brexit,” kata Le Pen. “Orang-orang berdaulat akan memilih … untuk memutuskan nasibnya sendiri,” ujarnya bersemangat. Terhadap terpilihnya Trump, ia menambahkan: “Posisinya di Eropa jelas. Ia tidak mendukung sistem penindasan masyarakat.”

Berbagai pernyataan para pemimpin partai sayap kanan Eropa bak gayung bersambut dari sikap  dan pandangan Trump. Dalam wawancara bersama dengan Times of London dan surat kabar Jerman Bild yang diterbitkan pada hari Senin (15/01/2016) beberapa hari sebelum pelantikannya, Trump mengatakan, Uni Eropa telah menjadi “kendaraan untuk Jerman” dan meramalkan bahwa negara anggota UE akan lebih memilih untuk meninggalkan blok itu, seperti halnya Inggris yang telah melakukannya lebih dulu.

Le Pen mengatakan, jika terpilih menjadi presiden ia akan meminta Uni Eropa untuk mengembalikan kedaulatan Prancis melalui referendum. Jika Uni Eropa menolak tuntutan itu, Le Pen menyatakan, “Saya akan menyerukan kepada rakyat Perancis: exit!”

Para pemimpin sayap kanan yang bertemu di Koblenz mengusung tagline “Kebebasan untuk Eropa” dengan tujuan memperkuat relasi antara pihak mereka yang sama-sama memiliki kecenderungan nasionalis.  Pertemuan ini difasilitasi oleh kelompok yang menamakan dirinya sebagai Bangsa dan Kebebasan Eropa (ENF), suatu fraksi partai-partai berhaluan kanan di Parlemen Eropa.

“Bersama-sama dengan pihak yang terwakili di sini, kami ingin putra-putra Eropa dari Fatherlands yang bebas,” kata Frauke Petry, pemimpin kelompok Alternatif anti-imigrasi Jerman (AFD).

Dalam pertemuan itu Geert Wilders, pemimpin berhaluan kanan dari Partai Kebebasan (PVV) di Belanda, juga hadir. Bulan lalu ia dihukum karena melakukan diskriminasi terhadap warga Maroko di Belanda.

Matteo Salvini dari Liga Utara (North League), parpol sayap kanan Itali, juga tampak hadir dalam pertemuan di kota yang di masa Perang Dunia II dipertahankan mati-matian oleh tentara Jerman dari gempuran sekutu. Sama seperti para sejawatnya sesama partai berhaluan kanan di Eropa, Matteo ingin agar Itali keluar dari UE.

Di Belanda, Wilders memimpin di hampir semua jajak pendapat utama sebelum pemilihan parlemen nasional yang akan dilangsungkan 15 Maret mendatang. Menyatakan hormat pada Trump, Wilders mengatakan dalam pertemuan itu, “Kemarin, seorang Amerika bebas, hari ini Koblenz, dan besok Eropa baru.” Yakin bahwa arus populisme akan terus melaju dan tak terbendung ia mengunci pernyataanya dalam sebuah kalimat metafor, “Jin tak kan pernah kembali ke dalam botol.” [] (Disarikan dari berbagai sumber)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here