Partai Pendukung Akan All Out Menangkan Khofifah-Emil di Pilgub Jatim

0
305
Hasan "tidak akan sedikit pun DPP Partai NasDem dalam hal ini Bapak Surya Paloh akan mencabut dukungan kepada Ibu Khofifah (Foto: Tudji)

Nusantara.news, Surabaya – Partai NasDem Jatim dan semua elemen partai akan all out memberikan dukungan kepada pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak untuk memenangi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim, Juni 2018 mendatang. Penegasan itu dikatakan oleh Hasan Aminuddin, Anggota DPR RI daerah Pemilihan Jatim I dari Partai NasDem.

Sikap tegas Partai NasDem tersebut tidak akan bergeser sedikit pun, terus melakukan yang terbaik mengantar dan menuju kemenangan di jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim. Hasan menyebut, itu sesuai dengan keputusan partai yang jauh hari seperti disampaikan oleh Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh kepada Khofifah di DPP NasDem, di Jakarta.

Partai dengan taglane, Restorasi untuk Perubahan itu tegas memberikan dukungan kepada Khofifah serta menyerahkan sepenuhnya kepada Khofifah untuk menentukan atau memilih bakal calon wakil yang akan mendampingi dirinya maju di perhelatan Pilgub Jatim.

“Pertama, karena saya bagian dari jajaran pengurus partai di bawah ketua umum, termasuk keputusan internal yang dilakukan oleh Partai NasDem yakni dukungan kepada Khofifah. Termasuk yang dilakukan oleh ketua umum kami Bapak Surya Paloh yang memberikan dukungan dan menyerahkan keputusan agar Ibu Khofifah menentukan calon wakil gubernurnya. Kedua, sejak awal Bapak Surya paloh menyampaikan jika ada nama yang cocok di internal partai kami (NasDem) Jatim, yang saat itu muncul tiga nama, Hasan Aminuddin, Rendra dan Ipong. Kemudian diputuskan oleh timsesnya Ibu Khofifah dan juga diamini apa yang menjadi keputusan. Ketiga, tidak akan sedikit pun DPP Partai NasDem dalam hal ini Bapak Surya Paloh akan mencabut dukungan kepada Ibu Khofifah, karena salah satu pengurusnya tidak direkrut menjadi calon gubernur. NasDem tetap konsisten mendukung Ibu Khofifahdan Emil Dardak,” urai Hasan Aminuddin ditemui Nusantara.news di Surabaya.

Baca Juga: Gagal Jadikan Emil Cagub Jatim, Gerindra Lirik Calon Lain

Sementara, ditanya kabar yang beredar kalau dirinya akan mendukung pasangan Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas di Pilgub Jatim. Hasan tegas mengatakan kalau politik adalah soal persepsi.

“Politik itu adalah persepsi. Perlu diketahui semua kandidat calon, gubernur dan wakilnya itu sahabat dan saudara saya sesama tharikat NU, saya selaku Achwan di PWNU Jatim. Kedua kandidat wajib berlaga, dan kepada para ulama dan tokoh agama saya berharap dan menyarankan untuk berpolitik secara akhlakul karimah, karena kedua kandidat selain sebagai tokoh politik juga tokoh agama,” urai Hasan yang juga mantan Bupati Probolinggo itu.

Itu menepis kabar miring, kalau dirinya tidak dipilih oleh Khofifah menjadi kandidat wakil, serta akan mengarahkan dukungan ke kubu lain, alias ke pasangan Gus Ipul-Anas. Dirinya, tidak sedikit pun kecewa dengan munculnya nama Emil mendampingi Khofifah, meski sebelumnya namanya juga disebut kuat untuk bersanding dengan Khofifah maju di Pilgub Jatim.

“Itu adalah hak prerogatif Bu Khofifah menentukan calon wakilnya, seperti yang disampaikan Ketua Umum Partai NasDem Bapak Surya Paloh, tidak ada masalah. Dan, sekarang Bupati Trenggalek Emil Dardak sudah diputuskan mendampingi Ibu Khofifah dan Ibu Khofifah telah mengamininya,” tegasnya.

Dukung Khofifah-Emil, Soekarwo Kumpulkan Elemen Partai Demokrat

Pakde Karwo “Dua pasang atau tiga pasang, kuncinya di PAN, ke mana suara PAN?

Untuk memantapkan langkah dan dukungan ke pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang telah dipilih oleh DPP Partai Demokrat, yakni pasangan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elistianto Dardak, Gubernur Jatim Soekarwo mengaku dalam minggu ini akan mengumpulkan seluruh elemen Partai Demokrat Jatim yang dipimpinnya.

“Minggu pertama Desember, akan kita kumpulkan semua elemen partai (Demokrat Jatim),” ujar Soekarwo di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (27/11/2017).

Sementara, diminta pendapatnya peluang munculnya poros tengah atau apa pun namanya, Pakde Karwo -panggilan Soekarwo- menyebutnya dirinya, itu bisa terwujud tetapi tergantung pada Partai Amanat Nasional, yang hingga saat ini belum menentukan sikap. Mengarahkan dukungan ke pasangan Khofifah-Emil atau ke pasangan Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas. Dan, dimungkinkan pengusung poros alternatif atau apa pun namanya, yang dimungkinkan diikuti Gerindra, PKS dan PAN.

“Menurut saya (munculnya poros tengah) itu tergantung PAN,” tambahnya.

Baca Juga: IpoL Indonesia: Di Pilgub Jatim, Parpol Gagal Antar Kader Internal

Soekarwo juga tidak menampil jika banyak pihak yang menyebut Pilgub Jatim serasa Pilpres atau aroma Pilpres 2019. Itu selain Jatim memiliki jumlah pemilih terbanyak ekdua setelah Jabar. Juga, karena Jatim diakui menjadi barometer nasional, wajar jika Pilgub Jatim aroma Pilpres.

“Karena Jatim menempati posisi penting, jumlah pemilihnya kedua terbesar di Indonesia setelah Jabar,” kata dia.

Meski tidak menanggapi atau menyampaikan dengan serius, di Pilgub Jatim akan muncul tiga pasang calon atau hanya akan diikuti dua pasang calon. Pakde Karwo menyebut kekuatan partai politik yang tersisa saat ini (belum menentukan pilihan ke Khofifah atau Gus Ipul), ada tiga Gerindra, PKS dan PAN. Jika, salah satu dari partai itu mengarahkan ke Khofifah atau sebaliknya, sudah dipastikan akan selesai, itu istilah yang dia pakai.

“Dua pasang atau tiga pasang, kuncinya di PAN, ke mana suara PAN?,” ucapnya sambil senyum.

Pertanyaan lain yang juga terlontar, dan mendapat tanggapan Soekarwo misalnya terkait mesin partai politik yang oleh kebanyakan pihak disebut tidak produktif untuk memunculkan kader, termasuk di Pilgub Jatim. Dia menyebut bahwa di dalam demokrasi selalu ada sisi baik dan buruk, dan kenyataan itu harus dipahami khususnya oleh partai politik.

“Demokrasi itu ada sisi baik dan buruk. Kita lihat, misalnya bahwa orang terkenal itu tidak kelihatan,” katanya.

Kemudian, soal pemilih pemula atau yang kini sering diistilahkan dengan sebutan generasi milenial, dan akan menjadi perebutan suara di Pilgub Jatim, pihaknya kurang sependapat. Menurutnya, pemilih tua hingga saat ini masih dominan untuk ikut menentukan di sebuah pemilihan, dibanding pemilih pemuda atau pemilih milenial yang hanya 15 persen.

Sementara, untuk bersaing menarik simpati pemilih khususnya di Pilgub Jatim, masih menurut Soekarwo bahwa keberhasilan calon ditentukan juga oleh sosok dan penguasaannya saat menyampaikan pidato usai pendaftaran.

“Itu penting misalnya penguasaan soal kemiskinan dan kesenjangan, itu penting,” katanya.

Baca Juga: Gus Ipul dan Khofifah Dua Kader Terbaik NU

Soekarwo kemudian membeberkan strategi keberhasilannya memenangi dua periode jabatan Gubernur Jatim (2009 dan 2013). Dia mengakui, elektabilitas tidak mutlak bisa dipakai acuan untuk menggapai kemenangan. Dia mencontohkan, saat akan diminta maju ikut pemilihan gubernur (oleh Imam Utomo, mantan Gubernur Jatim sebelumnya), Soekarwo mengaku bimbang. Sebab, sebagai pejabat birokrasi (Sekdaprov), namanya diakui memang tidak dikenal banyak orang. Menurutnya, berdasar pengalaman yang dialami, strategi branding sangat perlu dilakukan oleh kandidat.

Soekarwo mengakui, bahwa semua yang dilakukan hingga mendapat kepercayaan duduk sebagai gubernur, diilhami atau setelah membaca sejumlah buku, di antaranya buku ‘Dramaturgi’ dan ‘Politikal Marketing’. Dari situ dia memahami pentingnya membranding dirinya yang diakui belum dikenal. Posisi dirinya yang sebelumnya tidak dikenal oleh masyarakat Jatim. Dengan berbagai cara dan upaya dilakukan untuk memunculkan namanya, yang menurutnya harus mudah diingat oleh masyarakat.

“Saat itu saya kan tidak dikenal, tetapi saya diminta untuk maju menjadi calon gubernur. Kemudian muncul branding animasi, dengan simbol kumis, kacamata dan kopiah (songkok) dan itu membuat semakin banyak orang penasaran, ingin mengetahui siapa sosok animasi itu,” urainya.

Seiring dengan membranding diri, dia dengan mendapat saran dari seorang tokoh terkenal kemudian menemui para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) luar negeri, tepatnya di Hongkong. Menurutnya, lebih dari setahun itu terus dilakukan.

“Syarat politikal marketing itu unik, dan harus di branding bukan jiplakan tetapi harus baru,” terangnya.

Dari perjalanan yang dilakukan, setelah bentuk animasi (kumis, kacamata dan kopiah) kemudian berkembang dengan munculnya nama ‘Pakde’, kemudian bertambah jadi Pakde Karwo, berjuang untuk memenuhi kriteria agar dikenal masyarakat masih terus dilakukan, termasuk ke luar negeri.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here