Pasangan GI-Anas Masih Berharap Parpol Lain

0
67
Khofifah Indar Parawansa-Saifullah Yusuf mediaindonesia.com

Nusantara.news, Surabaya – Meskipun sudah diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan PDI Perjuangan, namun Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf alias Gus Ipul mengaku masih berharap diusung oleh partai-partai politik (parpol) lainnya. Pihaknya bersama pasangannya Abdullah Azwar Annas yang masih menjabat Bupati Banyuwangi masih membuka pintu komunikasi dengan parpol yang belum memutuskan siapa calonnya.

Hingga kini, dua partai politik, PKB dan PDI Perjuangan resmi mengusung pasangan Gus Ipul-Anas. Sementara, di kubu Khofifah selain Partai Golkar, ada Partai Nasional Demokrat (NasDem), dimungkinkan juga Partai Demokrat. Sedangkan Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belum menentukan keputusan.

“Partai akan terus konsolidasi, dan mandat yang kita dapat ini terus kita komunikasikan dengan para kiai. Dan, kita tetap membuka dan menjalin komunikasi dengan partai-partai lainnya,” ujar Saifullah Yusuf ditemui disela Pagelaran Wayang Kulit memperingati HUT Provinsi Jatim ke-72, yang menghadirkan dua dalang kondang Ki Manteb Sudharsono dan Ki Anom Suroto, di Lapangan Kodam V/Brawijaya, Selasa (17/10/2017), malam.

Soal Pilgub Jatim, saat ditanya kemungkinan akan munculnya ‘Poros Tengah’ dan mengusung pasangan lain, pihaknya mengaku sangat mendukung dan menyambut baik. Menurutnya, itu menjadi bagian dari demokrasi di Indonesia.

Dan, soal kiat untuk mengatasi kemiskinan, kesenjangan dan disparitas di Jatim yang masih tinggi, dirinya dan Anas akan membuka data dan kiat untuk melakukan penanganan bersama pasangannya, Abdullah Azwar Anas. Termasuk juga persoalan lainnya, akan dilakukan kerja bareng dan akan terus mendekati rakyat.

Berikut petikan wawancara Nusantara.news dengan Gus Ipul di sela menyaksikan Pertunjukan Wayang Kulit di Lapangan Kodam V/Brawijaya di Surabaya, Senin malam.

Anda dan pasangan telah dikukuhkan oleh DPP PDIP, apa langkah selanjutnya?

Kita sudah melakukan pertemuan dan melakukan sosialisasi, kita juga sudah melaporkan ke para ulama dan para kiai, nanti akan segera ditindaklanjuti. Akan ada pertemuan-pertemuan, partai juga akan segera konsolidasi. Jadi intinya, bahwa mandat yang sudah kita dapat ini (dari PDIP) akan kita lanjutkan dengan melakukan konsolidasi. Komunikasi terus dilakukan, tidak akan berhenti.

Menurut Anda, apakah dua partai sudah cukup?

Ya, kita akan terus berkomunikasi dengan partai-partai lain. Saya belum bisa sebutkan dulu, tetapi kongkrit kita akan melakukan pendekatan terus, hasilnya saya belum tahu. Tetapi komunikasi tidak akan berhenti.

Seperti apa pembagian tugas dengan Pak Anas?

Semua kita lakukan, kita tidak membeda-bedakan. Ada daerah Tapal Kuda, Mataraman dan daerah lainnya. Kita bedah semua, kita atasi kesenjangan. Kita perkuat pembangunan di Madura dan Tapal Kuda, tetapi pada saat yang sama kita juga perkuat untuk pembangunan di wilayah Pantai Selatan. Nanti kalau jalan tol sudah terhubung satu dengan yang lain, saya kira kesenjangan antar wilayah di Jatim akan tertangani.

Kemudian, strategi yang akan dipakai untuk mendekati rakyat?

Ya, semua cara yang memungkinkan akan kita lakukan, namanya kita kan ingin lebih dekat lagi dengan rakyat.

Soal kemungkinan akan munculnya Poros Tengah, dan memunculkan kandidat?

Tidak apa-apa, politik itu memang kadang-kadang dinamis. Yang kelihatan mendukung malah tidak mendukung, sebaliknya yang kelihatannya tidak mendukung kemudian mendukung. Tidak apa-apa, biasa-biasa saja, tidak perlu dikhawatirkan. Alhamdulillah sampai sekarang PKB dan PDIP sudah menjadi satu.

Kembali soal disparitas, Gus Ipul menjabarkan di Jatim memang jumlah penduduknya banyak, tetapi statistik menunjukkan prosestasenya turun. Diakui, memang jumlah kemiskinan (di Jatim) masih tinggi, karena jumlah penduduk Jatim juga besar.

“Tetapi, akan kita buka di mana pusat-pusatnya (kemiskinan), kita sudah lakukan semua, dan akan kita atasi bersama-sama,” terangnya.

Sementara, di acara itu Gubernur Jatim Soekarwo yang juga hadir menyaksikan wayang mengapresiasi digelarnya acara itu. Dikatakan, wayang merupakan cara jitu untuk merawat dan menjaga kedamaian di tengah masyarakat khususnya jelang proses pemilihan kepala daerah, 2018.

“Pagelaran wayang bisa membasuh kekotoran politik. Budaya bisa membersihkan sifat kesombongan seseorang, itu ada di wayang,” ujar Soekarwo, dalam sambutannya.

Imbangi Anas, Khofifah Jajaki Sejumlah Nama 

Khofifah Indar Parawansa-Saifullah Yusuf (nusantara.news)

Sementara, guna mengimbangi posisi Anas sebagai wakil mendampingi Gus Ipul yang diusung PKB dan PDIP. Kubu partai pengusung Khofifah Indar Parawansa belum memutuskan atau menjatuhkan pilihan, siapa yang akan dipilih untuk diposisikan sebagai bakal wakil gubernur.

Kembali mengulas yang disampaikan Kepala Laboratorium Ilmu Politik Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, Faza Dhora Nailufar di sela acara “Bincang Pilgub Jatim” bertema “Peta Politik Warga NU Pasca Penetapan Pasangan Gus Ipul-Abdullah Azwar Anas sebagai Pasangan Gubernur-Wagub Jatim 2018” di RM Agis, Surabaya, Senin (16/10/2017), kemarin. Dhora menyebut banyak pihak yang mendukung keputusan PDIP mencalonkan pasangan Gus Ipul-Anas, tetapi tidak sedikit yang pesimistis.

“Itu karena, Mas Anas saya kira tidak bisa disebut representasi dari nasionalis, dia melekat dengan religius, dengan hijau dan NU-nya,” ujar Dhora.

Di dalam kancah politik, lanjut Dhora, Anas memang dibesarkan di PKB. Dia juga kader NU dan saat ini menjabat sebagai ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim. Fakta itu yang membuat Dhora ‘masih’ ragu, Anas bisa diterima di kelompok nasionalis, bahkan di kader PDIP sekalipun.

Begitu juga soal popularitas kewilayahan. Masih menurut Dhora, popularitas Anas memang tidak diragukan di wilayah Tapa Kuda, tetapi di Mataraman nama Anas perlu disosialisasikan oleh parpol pengusung. Di antaranya, bisa dikemas melalui program dan gagasan yang disiapkan. Selain itu, mesin partai pengusung juga harus bergerak maksimal, khususnya untuk menguatkan Anas di basis nasionalis.

Sebaliknya, Dhora menyebut, dibandingkan Anas, dirinya melihat Khofifah lebih diuntungkan. Menteri Sosial RI di Pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla itu, gabungan partai politiknya nanti tinggal menyelaraskan, mencari calon wakil gubernur pendamping Khofifah yang merepresentasikan kelompok nasionalis.

“Parpol mengusung Khofifah harus mencari yang kriterianya sama bahkan melebihi Mas Anas. Kalau bisa kepala daerah, berprestasi dan masih muda,” ujarnya.

Dan, hingga kini, meski partai politik yang bakal mengusung Khofifah, memiliki sejumlah jago yang diharapkan bisa mendampingi Khofifah. Tetapi, umumnya partai politik mengembalikan semua keputusan kepada Khofifah juga kepada Tim 9, yang diketuai KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) untuk penentuan dan pengukuhannya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here