Pasar Jadi Komoditas Kampanye

0
98
Ilustrasi Pasar Kebalen (Foto: Cakbas88)

Nusantara.news, Kota Malang – Pasar sebagai wadah dan tempat berkumpulnya masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup, menjadi sasaran kampanye para calon kepala daerah dalam helatan Pilkada Serentak 2018.

Pasalnya, pasar merupakan salah satu keramaian yang selalu dikunjungi masyarakat, untik menjual dan membeli kebutuhan sehari-hari. Perhatian pada para pedagang, masyarakat dan kondisi pasar dijadikan sebagai bahan kampanye adanya perbaikan yang lebih baik kedepan ketika para calon kepala daerah tersebut terpilih.

Dari sini menampakan realita, sebuah pasar menjadi komoditas kampanye yang di manfaatkan oleh calon kepala daerah di berbagai daerah guna meraup dan menarik perhatian massa.

Pilkada Jatim

Di Jawa Timur, dua calon kepala daerah yang sedang berkompetisi juga kerap melakukan kegiatan kampanye di pasar.  Khofifah Indar Parawansa mengunjungi Pasar Kebalen Kota Malang. Sedangkan pasangannya, Emil Elestianto Dardak berkunjung ke Pasar Lawang Kabupaten Malang, Kamis (22/2/2018).

Dalam kegiatan blusukannya ke pasar, Khofifah menjelaskan agar jangan sampai adanya penggusuran pasar. “Pasar Tradisional, Kebalen ini perlu ditinjau dan dilakukan peremajaan jangan sampai digusur,” jelasnya.

Khofifah juga menyampaikan, pasar-pasar di Jawa Timur ini masih perlu diperhatikan kondisinya, “Karena pasar penopang perekonomian masyarakat, jadi harus dirawat, difasilitasi dan dikembangkan. Ini juga untuk kehidupan ekonomi masyarakat,” jelas dia.

Sementara itu, pasangan Calon Wakil Gubernur Jatim nomor urut 2, Puti Guntur Soekarno, berkunjung ke Pasar Oro-Oro Dowo Kota Malang. Ia pun memuji akan pengelolaan pasar yang bersih dan tertata rapi.

“Ini salah satu contoh pasar tradisional yang baik, kami ingin seluruh pasar di Jawa Timur tertata seperti ini, Tidak menjadi Mall, Supermarke tapi tetap mengikuti perkembangan zaman,” jelasnya.

Tapi mengikuti perkembangan zaman. Tidak menjadi mall atau super market dan lain sebagainya. Tetap konsep tradisionalnya dijaga,” ungkapnya. “Tempat bertemunya segala lapisan masyarakat. Tetapi pengelolaannya dibuat begitu sangat modern dan profesional dan nyaman. Ini yang penting. Supaya baik penjual maupun pembeli bisa nyaman berinteraksi,” paparnya.

Puti menjelaskan, terkait alasannya berkunjung ke pasar-pasar. “Pastinya selain menjaring aspirasi juga kita harus terjun langsung untuk melihat lapangan bagaiman kondisi pasar-pasar di Jawa Timur,” pungkasnya kepada wartawan, saat mengunjungi Pasar Oro-oro Dowo, Kota Malang, Selasa (20/2/2018) lalu.

Pilkada Kota Malang

Sementara di Kota Malang, tiga calon pasangan walikota dan wakil walikota juga tidak mau kalah dengan langkah kampanye para calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur yang kampanye di pasar-pasar.

Tiga pasangan calon Pilkada Kota Malang 2018, ini pun juga gencar serta masif mengunjungi beberapa pasar di Kota Malang. Beragam gagasan, pendapat dan tawaran program para calon sampaikan ke pedagang dan masyarakat pasar, demi terwujudnya kemakmuran pedagang dam ekonomi masyarakat.

Nanda Gudban, calon pasangan nomor urut 1 menyebut bahwa kegiatan blusukan atau turun langsung meninjau pasar merupakan hal yang perlu dilakukan. “Kegiatan turun ke lapangan langsung ini perlu, saya pastikan tidak hanya saat kampanye namun ketika jadi pasti juga akan meninjau kembali beberapa pasar,” jelasnya saat Pasar Tawangmangu, Lowokwaru, Malang (20/2/2018).

“Beberapa permasalahan di pasar yang menganggu jalannya perekonomian masyarakat harus segera diseleseikan agar roda perekonomian dapat berjalan dengan lancar,” imbuh wanita yang akrab disapa Mbak Nanda tersebut.

Lain halnya, Calon petahana nomor urut 2, M Anton, dalam agenda kampanyenya di Pasar … beberapa waktu lalu ia menegaskan bahwa kegitan turun langsung dan berkampanye di pasar agar membuat dirinya lebih dekat dengan masyarakat.

“Ketika saya turun langsung, berkomunikasi dan berbagi informasi keluh kesah kami merasa lebih dekat. Harapannya keluhan tersebut akan segera kami tindak lanjuti dengan program pembangunan yang telah kami rancang,” jelasnya.

Sementara, Sutiaji dalam giat kampanye di Paar Tawangmangu menjelaskan bahwa harus ada langkah untuk mempertahankan pasar tradisional. “Ini budaya dan tradisi yang harus kita jaga, perlu ada peremajaan.” jelas dia.

Ia mengungkapkan memang perlu ada tinjauan lagi di beberapa pasar Kota Malang, yang masih belum maksimal pembangunanannya. “Oleh karena itu kami juga menyasar beberapa pasar untuk kita himpun aspirasi guna pembangunan dan perbaikan kedepan. Karena pasar rakyat akan berpengaruh pada Ekonomi rakyat,” jelasnya.

Pengamat politik Universitas Brawijaya, Wawan Sobari menjelaskan terkait potensi kuat area pasar sebagai lokasi kampanye.

“Karena pasar merupakan area terbuka yang bersifat egaliter. Di pasar pula ada suara pemilih yang beragam, baik pedagang maupun pembeli,” jelasnya, dikutip dalam SURYAMALANG.COM

Ia menjelaskan tidak ada jarak antara pemilih dan diilih. Oleh karenannya ada komunikasi langsung. “Juga tidak ada jarak antara calon dan pemilih, ada pertemuan langsung sehingga pemilih lebih mengetahui siapa calon mereka,” pungkasnya.

Pasar merupakan basis yang menjadi modal suara para calon. Setelah pemilih basis itulah, pemilih di pasar diperhitungkan. “Tetapi pemilih di pasar ini juga pemilih rasional. Mereka bertemu dengan calon dan bisa menilai calon itu seperti apa, track recordnya seperti apa, sumbangsih dan dampak lainnya” tegasnya.

Wawan menyebut bahwa berkampanye di pasar merupakan salah satu alternatif kampanye yang murah. “Berkampanye di pasar itu murah, menraktir makan, berbelanja, dan lain lain. Berbeda dengan perayaan kampanye arakan, musik, rapat akbar dan lainnya,” jelasnya.

Realitas pasar yang merupakan tempat berkumpulnya masyarakat dalam hal ini juga sebagai suara pemilih Pilkada yang kemudian dijadikan komoditas bagi para pasangan calon kepala daerah untuk berkampanye guna menarik perhatian dan mendulang suara pada pemilihan mendatang.

Perlu adanya telaah kritis ketika sedang diberlangsungkannya kampanye, karena yang diharapkan oleh masyarakat bukan hanya sekedar janji, gambaran program, tapi kontribusi apa yang berdampak secara materil dan imateril ke pasar dan masyarakat pasar. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here