Pasar Merjosari Hendak Dibongkar, Pedagang dan Aparat Terlibat Keributan

0
83
Rencana pembongkaran Pasar Merjosari berbuah keributan

Nusantara.news, Kota Malang –  Agenda pembongkaran Pasar Merjosari oleh Pemerintah Kota Malang, melalui Dinas Perdagangan dan berkoordinasi dengan Pengawas Ketertiban Pasar (Wastib) dan Polresta Malang, berlangsung ricuh antar pedagang dan juga pihak yang berwajib,  dan Kamis (6/2/2017).

Sekitar pukul 09.23 WIB, ratusan personil Polresta Malang dan Wastib  melakukan apel terkait agenda penggusuran, di Taman Merjosari. Sementara itu, ratusan pedagang kembali berupaya menghalangi rencana pembongkaran Pasar Merjosari. Mereka berkumpul di tepi jalan, depan bekas kantor pasar.

Dalam aksinya, massa yang tergabung ratusan pedagang, dan beberapa elemen mengibarkan beberapa bendera merah putih, serta membentangkan kain panjang berwarna merah putih hingga menutup jalan masuk ke kantor pasar.

Selain itu, pedagang juga menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan melantunkan shalawat. Situasi pun kian memanas, jumlah massa semakin banyak ketika ikut pula sejumlah aktivis mahasiswa dalam aksi penolakan pembongkaran Pasar Merjosari tersebut.

Apalagi ketika beberapa alat berat seperti truk, dan backhoe datang, petugas mulai berupaya masuk ke dalam untuk membongkar Pasar Merjosari,  massa yang menolak pembongkaran berjajar rapi dengan kain bendera Merah Putih membentengi tempat berjualan mereka dari aparat. Aksi dorong-dorongan pun juga sempat berlangsung antar kedua belah pihak. Beberapa warga diamankan karena dianggap sebagai provokator.

Sekira pukul 13.48 WIB, hujan sempat menghentikan sekaligus mendinginkan suasana pembongkaran pasar. Akhirnya Kapolres Kota Malang AKBP Hoiruddin Hasibuan memediasi Dinas Perdagangan yang diwakili Wahyu Setianto, Pihak Investor Citra Gading Asritama (CGA), dan juga Sabil El Achsan selaku Koordinator Pedagang.

Sabil El Achsan mengungkapkan, dirinya sudah jauh-jauh hari sebelum pembongkaran ingin melakukan mediasi dengan pihak Kepala Dinas Perdagangan, yakni Wahyu Setianto. Namun ia sulit untuk bertemu. “Saya sudah berusaha semaksimal mungkin dengan upaya berkali-kali datang ke kantor untuk menemui Pak Wahyu selaku Kadindag, namun malah diputar-putar dan dipertemukan dengan orang yang berbeda,” ungkapnya

Ia menangkal isu yang berkembang bahwa pihaknya dan anggotanya adalah pedagang liar, “Saya pedagang asli Pasar Dinoyo dahulu, dan beberapa yang menolak juga pedagang Pasar Dinoyo juga, kami juga mempersilahkan dan tidak menghalang-halangi mereka yang ingin pindah,” jelas Dia

“Ketika saya tanyakan untuk perpindahan, beberapa ratusan pedagang mengungkapkan tidak mau pindah,” imbuh Sabil

Sebenarnya yang terberat adalah, karena kondisi dari Pasar Terpadu Dinoyo pun tidak layak, karena ada beberapa desain bangunan yang tidak sesuai dengan perjanjian. “Desain dan site plan ukuran yang tidak sama dengan perjanjian. Beberapa fasilitas juga belum memadai. Kami berharap Pemkot mendorong investor membenahi hal tersebut,” imbuh pedagang ikan tersebut

Selain itu untuk masalah pembiayaan dan pembayaran bedak (lapak tempat berjualan) tidak adil karena tidak sesuai dengan Lampiran 4 Pejajian Kerja Sama (PKS). “Besaran yang harus dibayarkan oleh pedagang sebesar Rp 55 juta, dan diangsur selama 10 tahun. Padahal harusnya Rp 41 juta itu sudah include semua dan tidak ada biaya tambahan lagi, ,” ungkap Sabil dalam mediasi tersebut.

Juru bicara Investor CGA menjelaskan, selama ini pihaknya sudah menjalankan pembangunan sesuai peraturan yang ada, “Selama ini kami mulai dari surat perizinan, IMB dan hal – hal lain kami sudah berkoordinasi dengan pihak Dinas Pekerjaan Umum (PU), dan hingga hari ini pun tidak ada masalah,” tuturnya.

Sabil mengakhiri, dan menutup mediasi yang dilakukan di warung dekat pasar. “Kami meminta bisa kita diskusikan dengan beberapa pihak yang berkompeten, saya ingin Walikota beserta jajaran SKPD terkait dan Ketua DPRD ikut dalam mediasi lanjutan nantinya,” pintanya

Namun, hal tersebut diakhiri dengan jabat tangan. “Ini bukan kesepakatan, lho ya. Ini hanya koordinasi,  nantinya kita akan sama-sama menjalankan tugas masing-masing,” tutup Kasat Intel Kota Malang

Jabat tangan tersebut, seakan menjadi suatu tanda perdamaian. Namun kalimat “kita sama-sama menjalankan tugas”, bisa saja diartikan pembongkaran pasar akan tetap dijalankan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here