Pasar Obligasi Makin Dominasi Pasar Keuangan Indonesia

0
131
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan penerbitan obligasi yang dilakukan pemerintah sangat well manageable, sehingga tidak perlu dikhawatirkan

Nusantara.news, Jakarta – Sejak awal Januari hingga Agustus 2017 terjadi shifting (peralihan) dana dari pasar modal dan pasar uang ke pasar obligasi dalam jumlah besar. Peralihan dana ini bukan tanpa sebab, karena faktor apakah?

Pada 2015 total dana asing yang masuk ke Indonesia mencapai Rp150 triliun, sejak September 2015 mulai terjadi perlambatan sehingga mentok di angka tersebut. Memasuki 2016 aliran dana asing masih terjadi walaupun angkanya terus turun menjadi Rp130 triliun mengingat krisis global masih berpengaruh ke pasar keuangan Indonesia.

Dana asing tersebut sebagian besar masuk ke industri pasar modal, sebagian ke pasar obligasi dan sebagian kecil ke pasar uang (valuta asing—valas).

Namun memasuki tahun 2017, seperti terjadi peralihan dana asing dari pasar modal dan pasar uang ke pasar obligasi dalam jumlah signifikan.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat dalam lima bulan terakhir pergerakan dana asing keluar (capital outflow) cukup tinggi dari pasar modal, tapi dana asing tersebut tidak keluar negeri melainkan beralih ke pasar obligasi dalam negeri.

Tingkat bunga obligasi yang ditawarkan Pemerintah Indonesia memang semakin menarik, untuk obligasi pemerintah (Surat Berharga Negara—SBN) ditawarkan bunga antara 6,25% hingga 8%. Sementara obligasi korporasi diatawarkan mulai 10,25% hingga 12%.

Tingkat bunga obligasi pemerintah maupun obligasi korporasi tentu saja lebih menarik dibandingkan dengan bunga perbankan maupun return yang ditawarkan di pasar modal. Itu sebabnya dana asing berbondong-bondong memborong obligasi pemerintah.

Perhatikan saja, di bulan Juli 2017 Kementerian Keuangan menerbitkan SBN hingga Rp73,46 triliun sehingga total utang pemerintah bertambah menjadi Rp3.779,98 triliun. Artinya, setiap hari, sepanjang bulan Juli, pemerintah pusat mencetak utang sebesar Rp2,45 triliun.

Pada bulan Agustus 2017 Kementerian Keuangan kembali menerbitkan obligasi hingga Rp26,43 triliun atau setiap hari rerata diterbitkan sebesar Rp881 miliar. Sebuah angka penerbitan obligasi yang sangat besar sepanjang Juli-Agustus 2017.

Diperkirakan total penerbitan obligasi pemerintah Januari-Desember 2017 sebesar Rp684,84 triliun. Sementara obligasi korporasi yang akan diterbitkan di BEI sebesar Rp130 triliun. Sehingga pasar keuangan Indonesia sepanjang 2017 benar-benar dibanjiri oleh obligasi pemerintah maupun obligasi korporasi.

Shifting ke obligasi

Fenomena capital outflow asing dari pasar modal sebenarnya cukup menarik karena mereka tidak benar-benar keluar melainkan hanya shifting atau beralih ke pasar obligasi.

Direktur PT Penilai Harga Efek Indonesia (Indonesia Bond Pricing Agency–IPBA) Wahyu Trenggono mengatakan kecenderungan keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia diperkirakan sebagai aksi ambil untung (profit taking) dan mengalihkan dana tersebut ke instrumen investasi lainnya, khususnya ke pasar obligasi.

 “Indikasinya (shifting ke pasar obligasi) sangat kuat,” ujar Wahyu. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa pihak yang mengetahui secara pasti adanya shifting atau keluarnya dana asing dari Indonesia hanyalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Keuangan.

Wahyu menjelaskan beberapa alasan yang menguatkan analisanya bahwa dana asing tersebut tidak meninggalkan Indonesia. Pertama, cadangan devisa yang tercatat di Bank Indonesia tercatat terus mengalami kenaikan, bahkan terus mencapai rekor baru.

Per akhir Juli kemarin, cadev berada di level US$127,7 miliar, kemudian naik lagi pada akhir Agustus menjadi US$128,8 miliar. Kenaikan Cadev ini bahkan dinilai Wahyu menunjukan adanya investor asing baru yang masuk ke Indonesia, melalui pasar obligasi.

“Kalau naik malah artinya ada investor asing lain yang masuk, hanya langsung ke pasar obligasi,” ujarnya.

Kedua, dari sisi pasar sahamnya sendiri, Wahyu menilai, investor ini tidak memiliki informasi baru yang akan menggerakkan harga saham. Laporan keuangan perusahaan sudah dirilis dan dividen pun sudah dibagikan. Artinya, tidak ada sentimen baru yang akan muncul sehingga investor memutuskan melakukan aksi jual.

Kondisi ini pun diperkirakan akan bertahan hingga Oktober 2017, saat perusahaan sudah harus melaporkan kinerjanya kembali kepada publik. Namun, terdapat dua kemungkinan yang akan terjadi, yakni melakukan shifting kembali ke pasar saham atau tetap di pasar obligasi karena sentimen yang cukup baik.

Kondisi makro ekonomi domestik yang baik juga akan membuat dua instrumen investasi tersebut akan menarik minat investor. “Tapi kalau dua-duanya positif, kenapa mereka harus melewatkan kesempatan tersebut,” ujarnya.

Ketiga, faktor penundaan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada gilirannya membuat dana asing malas untuk pulang kandang ke negara asalnya di Amerika. Pada saat yang sama dolar AS mengalami pelemahan terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia.

Dampak ke rupiah

Tentu saja masuk dan shifting-nya dana asing ke pasar obligasi tersebut membawa angin segar bagi kinerja rupiah. Nilai tukar rupiah yang selama ini cenderung stabil di kisaran Rp13.300, berkemungkinan bisa menguat ke level Rp13.000 hingga Rp12.900.

Indikasi ini juga dikuatkan oleh perilaku investor yang setelah menjual saham, akan terus mencari instrumen investasi lainnya. Salah satu pilihan yang paling menguntungkan adalah masuk ke pasar obligasi. Alasannya, imbal hasil (yield) yang diberikan cukup menarik.

Hal yang lebih menarik, kalau dahulu yang sering dijadikan indikator benchmarking pasar adalah indikasi bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), kini telah beralih menggunakan target indikatif bunga obligasi pemerintah.

Mengapa demikian? Karena obligasi pemerintah terkenal stabil dan kredibel, sehingga tidak ada istilah default (gagal bayar), karena sebesar apapun utang pemerintah dalam bentuk obligasi pasti dibayar.

Pada saat yang sama rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih sangat kecil, yakni di bawah 30%. Artinya surat utang yang diterbitkan pemerintah masih sangat well manageable, itu sebabnya bunga yang ditawarkan relatif lebih tinggi dari bunga bank yakni di kisaran 6,25% hingga 8%.

Berbeda dengan obligasi korporasi yang amat sangat tergantung pada kredibilitas korporasi dan manajemennya. Meskipun relatif aman tapi masih ada peluang default, itu sebabnya bunga yang ditawarkan lebih tinggi yakni pada kisaran 10,25% hingga 12%.

Situasi ini patut dipertahankan, situasi dimana pasar obligasi semakin mendominasi pasar keuangan Indonesia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here