Pasar Online Gairahkan Penjualan Mobil dan Motor 2017

0
171
Pendiri sekaligus CEO PT Gojek Indonesia Nadiem Makarim akrab dengan kru Gojek, bisnis yang digelutinya membantu mengatrol penjualan mobil dan motor

Nusantara.news, Jakarta – Maraknya taxi dan ojek online sepanjang tiga tahun belakangan cukup fenomenal. Betapa tidak, di tengah penjualan motor dan mobil yang kian terpuruk lantaran turunnya daya beli, ternyata mampu menggajal penurunan penjualan mobil dan motor sepanjang 2017.

Secara orisinil harusnya penjualan mobil dan motor pada 2017 masih mengalami penurunan. Penjualan tertinggi terjadi pada 2014, menurut data Gabungan Agen Tunggal Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo), di level 1,21 juta unit, lalu turun menjadi 1,01 juta unit pada 2015 dan makin turun menjadi 873,95 ribu unit mobil. Tren penjualan mobil dalam tiga tahun terkahir memang melemah.

Demikian pula terjadi pada penjualan motor. Menurut data Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI) 2017, total penjualan atau distribusi sepeda motor pada bulan Juni 2017 kemarin tercatat sebanyak 379.467 unit, artinya turun 28,6% dibanding bulan sebelumnya yang sebanyak 531.496 unit, juga jika di bandingkan bulan yang sama di tahun lalu yang tercatat sebanyak 518.878 unit.

Pangsa pasar penjualan mobil per Juni 2017 turun signifikan, namun penurunan itu ditopang oleh penjualan mobil untuk taksi online

Harusnya, penjualan itu menurun lebih drastis lagi karena memang terjadi penurunan daya beli masyarakat yang luar biasa. Penurunan daya beli itu sendiri sebagai dampak krisis ekonomi global yang masih berdampak terhadap ekonomi nasional.

Tengok saja penjualan 10 mobil terlaris sepanjang Januari-Juni 2017. Merek Toyota masih menempati peringkat pertama dengan penjualan mencapai Rp195.288 unit atau menguasai pangsa pasar hingga 36,6%. Total penjualan mobil nasional pada semester pertama 2017 tercatat sebanyak 533.570 unit.

Di urutan kedua, Daihatsu dengan jumlah penjualan mencapai 94.287 unit atau sekitar 17,7% dari total. Diikuti Honda dengan jumlah 93.262 unit atau 17,5% dari total penjualan otomotif domestik. Dari 10 merek mobil terlaris 2017 ternyata menguasai hampir 98% pangsa pasar otomotif nasional, dan semuanya merupakan pabrikan otomotif dari Negeri Sakura.

Memasuki bulan Puasa dan libur panjang hari Raya Lebaran 2017 membuat penjualan mobil nasional sepanjang Juni 2017 menyusut 29% menjadi 66.389 unit dari bulan sebelumnya mencapai 93.775 unit. Penjualan mobil pada Juni 2017 juga merupakan yang terendah sejak awal tahun.

Total penjualan motor Januari-Juni 2017 tercatat sebanyak 2.321.079 unit, atau turun 641.809 unit (21,66%) dibandingkan periode yang sama 2016 sebanyak 2.962.888 unit. Bahkan penjualan motor sampai Juni 2017 pun seharusnya 30% lebih rendah dari seharusnya yakni sebanyak 1.624.755 unit.

Penjualan motor untuk kepentingan ojek online mampu memberi kontribusi 30% penjualan motor nasional

Jadi, kontribusi bisnis taksi dan ojek online benar-benar membantu menahan penurunan lebih jauh penjualan mobil dan motor hingga 30%.

Jasa online

Seharusnya kinerja penjualan mobil dan motor tersebut di atas lebih rendah lagi karena memang masih lemahnya daya beli masyarakat. Namun demikian berkat maraknya bisnis taksi dan ojek online, penurunan penjualan itu tidak sedrastis yang dibayangkan.

Peran Gojek, Grab, dan Uber, benar-benar telah menjadi dewa penolong industri mobil dan motor. Namun sebenarnya jasa transportasi online ini merupakan bisnis yang sangat labil, sebentar bisa diadakan, sebentar bisa diperketat, bahkan mungkin bisa dihentikan.

Terkait dengan terbitnya Peraturan Kemenhub Nomor 32/2016, tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek, adalah gambaran betapa bisnis transportasi online masih sangat rentan diintervensi pemerintah.

Mengapa bisnis transportasi online mudah goyah dan tidak steril dari intervensi? Karena memang kelaminnya tidak jelas, apakah dia sesungguhnya bisnis transportasi atau bisnis aplikasi online. Jika menengok perizinan yang diperoleh Gojek, Grab maupun Uber pada dasarnya mereka adalah bisnis aplikasi online.

Tapi dengan melibatkan ratusan ribu mobil dan motor milik pribadi ataupun rental, untuk disewakan seperti laiknya taksi dan ojek, sepintas memang mirip bisnis transportasi.

Itu sebabnya bisnis genre baru ini agak lucu jika diintervensi dengan peraturan Kementerian Perhubungan. Namun demikian bisnis ini secara riil menggerus bisnis taksi maupun ojek pinggir jalan sehingga omzet dan laba mereka tergerus. Bahkan beberapa sopir taksi dan tukang ojek menganggur lantaran kalah bersaing dengan bisnis aplikasi online.

Di sinilah perlunya kehati-hatian bagi para pebisnis taksi dan ojek online, jangan terburu-buru memborong mobil dan motor baru maupun bekas. Karena boleh jadi ke depan akan ada aturan baru yang bisa mengebiri kue bisnis yang sedang mereka nikmati, sampai duduk benar sejatinya bisnis apa yang mereka geluti.

Jika dibiarkan tentu bisnis taksi dan ojek online akan membunuh taksi dan ojek konvensional. Selama itu terjadi, maka ancaman bisnis ini akan diintervensi masih terbuka luas. Itu artinya teliti sebelum membeli mobil dan motor.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here