Pasar Puspa Agro antara Keinginan dan Kenyataan

0
502

Nusantara.news, Suarbaya – Awalnya dirancang menjadi pasar agro terbesar nomor dua se-Asia. Sayang, rencana itu tidak kesampaian. Kondisinya saat ini berbanding terbalik dengan  dengan apa yang dibayangkan semula. Banyak lapak yang kosong lantaran sudah ditinggalkan oleh para pedagangnya, selain kondisinya kurang terawat dengan baik. Apa pasalnya?

Adalah Puspa Agro, sebuah nama yang diberikan untuk Pusat (Pasar) Perdagangan Agrobisnis terbesar ke 2 se Asia Tenggara, setelah Thailand. Pasar ini berlokasi di Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Berdiri di atas lahan 50 Ha, Puspa Agro diresmikan (Soft Launching) oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Ir M Hatta Rajasa pada 17 Juli 2010 dengan segudang harapan dan keinginan.

Dengan adanya pasar agro ini, Jatim diharapkan akan dapat menjadi percontohan bagi provinsi lainnya di Indonesia agar mampu menjadi pensuplai produk agro, seperti sayur-sayuran, buah-buahan dan berbagi produk pertanian lainnya. Fasilitas ini dicanangkan sebagai pasar dalam lingkup regional, bahkan internasional.

Tidak tanggung-tanggung, Pemprov Jatim menggelontorkan anggaran sebesar 500 miliar lebih untuk pembangunan pasar ini, termasuk untuk membangin Rusunawa Puspa Agro. Jika memperhatikan namanya bisa dipahami bila fasilitas ini memang didirikan dengan tujuan untuk mengembangkan industri pertanian (agro) yang berbasis pedesaan.

Keberadaan pasar ini diharapkan mampu memanfaatkan sumber daya pertanian dan aktivitas perekonomian di pedesaan secara optimal. Sehingga tujuan akhir pembangunan ekonomi pertanian berkelanjutan akan tercapai. Barangkali yang membedakan pasar induk ini dengan pasar-pasar lainnya ialah selain sebagai induknya pasar yang menyediakan berbagai bahan pertanian (sayur, buah, daging, ikan, beras dan kebutuhan lain) secara lengkap, pasar ini juga dapat berfungsi sebagai sarana pendidikan dan wisata belanja agro.

Dengan adanya pasar agro ini, harga produk-produk pertanian diharapkan jauh lebih terjangkau konsumen. Sebab, sistem dan jalur distribusinya bersifat langsung dari produsen (petani) ke pedagang pasar. Hal ini dilakukan untuk memotong mata-rantai distribusi.

Namun, alih-alih menjadi sentra agro, kios-kios di pasar ini terlihat kosong tanpa aktifitas jual-beli sebagaimana layaknya sebuah pasar. Para pedagang agaknya tidak ingin rugi terus menerus, karena di pasar sangat sepi pembel. Salah satu pedagang yang ditemui Nusantara.news mengaku rugi jualan di lapak yang ia sewa. “Sepi, mas. Kemungkinan lantaran akses jalan yang kurang bagus,” ucap pedagang di sekitar yang tidak mau namanya dipublikasikan.

Sementara itu Iksan, salah satu pedagang kentang mengatakan, kondisi pasar di Puspa Agro baru ada pembeli mulai pukul 4 sore hingga pukul 9 malam.  Dirinya tetap bertahan di Puspa Agro karena modalnya sudah habis untuk membeli stan dan jika akan kembali ke pasar awal, maka dirinya bisa kehilangan pelanggan.

Lain lagi kisah seorang bapak yang mempunyai 1 lapak dan ternyata masih bekerja aktif di salah satu hotel berbintang di Surabaya yang mengaku dalam 2 minggu sudah merugi jutaan rupiah. Untung dagangannya yang berupa bawang merah, putih dll tergolong produk yang tahan lama. Bahkan, ia ingin melepas kiosnya jika ada yang mau membeli di bawah harga pasaran. “Hanya ingin kembalikan modal saja,” ucapnya.

Padahal, Puspa Agro, yang merupakan salah satu jenis usaha yang dikembangkan PT Jatim Graha Utama (JGU) sudah mendapatkan suntikan modal yang dialirkan dari APBD Jatim 2009-2011 dengan nilai hamper mencapai Rp 500 miliar, ditambah penyerahan lahan seluas 50 hektar oleh Pemprov Jatim kepada PT JGU selaku induk usaha Puspa Agro.

Hal itu makin diperumit dengan kasus kepemilikan lahan yang hingga kini menjadi masalah hukum dan masih belum tuntas hingga kini. Dengan kondisi itu, Puspa Agro dinilai gagal untuk menjadi stabilisator harga komuditi pertanian Jatim dan sebagai pasar anti tengkulak.

Tentu tidak mengherankan apabila keberadaan pasar induk itu dinilai gagal memberikan kontribusi bagi APBD Jatim. Sejumlah kalangan menilai keberadaan pasar induk itu hanya jadi ajang buang-buang uang rakyat, karena hingga kini terus merugi dan belum bisa memberikan kontribusi nyata bagi keuangan Jatim.

Padahal, Puspa Agro yang merupakan salah satu jenis usaha PT Jatim Graha Utama (JGU)  yang sudah mendapatkan suntikan modal dari APBD Jatim 2009 – 2011 sebesar nyaris Rp 500 miliar, ditambah penyerahan lahan seluas 50 hektar oleh Pemprov Jatim kepada PT JGU.

Namun demikian, Erlangga, selaku Komisaris Puspa Apro, menolak jika disebutkan bahwa pasar ini tidak memberi kontribusi. Ia menyebutkan, bukan perusahaan yang profit oriented, melainkan murni untuk penggerak ekonomi petani. Hasil pertanian dan hortikultura seluruh Jatim bisa ditampung di pasar induk tersebut. “Kami hanya impikan tak ada tengkulak yang membuat tertekan petani. Jangan pula kami terus dibebani PAD dan laba tinggi. Wong kami untuk membantu petani,” tandas Erlangga, Komisaris Puspa Apro .

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here