Pasca-Reformasi, Indonesia Kehilangan Tokoh Role Model

0
130

Nusantara.news, Jakarta – Kualitas pemimpin Indonesia terus menurun. Trendnya bukan semakin naik. Dari waktu ke waktu terus menurun. Tidak hanya kedalaman berpikir dan dimensi kenegarawanan yang merosot, bahkan juga isi wacana yang dilontarkan. Pasca-reformasi, para elite negara, politisi, hingga presiden bukanlah serupa pemimpin, namun hanyalah penguasa. Umumnya, tak menjadi pusat-pusat teladan bagi anak bangsa.

Narasi-narasi pemerintah seakan tak bergeser menuju visi dan pencapaian gemilang hingga tinggal landas, tetapi masih berkutat di seputaran isu hoax, ujaran kebencian, dan aksi saling lapor politisi ‘cengeng’. Bahkan, di era Jokowi ini, tercatat sebagai pemerintahan yang gemar menebar stigma: kampus dan masjid terpapar radikalisme, ada mubalig “plat merah”, kelompok intoleran, ataupun anti-Pancasila.

Celakanya, stigma tersebut tak dilengkapi penjelasan rinci dan parameter jelas. Alhasil, hanya menimbulkan kegaduhan, keresahan, dan sak wasangka di masyarakat. Pihak oposisi menuduh stigma itu tak lain ditujukan pada lawan-lawan penguasa, utamanya kelompok Islam-politik.

Di kutub arus bawah, kegaduhan-kegaduhan yang menyita akal sehat (khususnya di sosial media), menunjukkan kualitas literasi dan wacana kebanyakan masyarakat kita makin payah: malas membaca, berpikir pragmatis, mudah terprovokasi, dan terbelah dalam ‘prokontra abadi’ dukungan politik. Berkelindan dengan itu, karena rendahnya referensi, berdampak pada kualitas pemilih dalam memilih pemimpin: lebih mudah digiring media dan lembaga survei partisan, lekas silau pada sesuatu yang tampak dari luar (audio-visual), serta amat sering termakan “pencitraan” kandidat.

Kondisi ini amat kontras jika kita menengok laku politik dan isi kepala para pendiri bangsa, saat republik ini hendak dan baru saja merdeka. Kala itu, bangsa ini tak kekurangan pemimpin teladan, bahkan memiliki kualifikasi ganda: sebagai pemimpin, juga politisi, juga negarawan, juga pemikir, juga ulama, juga penulis adilihung, bahkan juga pejuang. Sebut saja misalnya, Soekarno, Bung Hatta, Tan Malaka, Tjipto, Sutan Sjahrir, Tjokroamioto, Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, Moh Nastir, dan masih banyak lagi.

Warisan keteladanan mereka menerbitkan decak kagum: tulisan dan pikiran-pikirannya bernas, laku hidupnya penuh kesederhanaan, cara memimpinnya amat mencintai rakyat dan tanah airnya. Pengabdiannya yang tulus kepada negara bahkan tak terpikir memanen fulus di ladang kekuasaan. Ini tidak mengherankan karena bagi mereka yang namanya pemimpin harus membahagiakan rakyatnya, meskipun dengan itu ia harus menempuh jalan menderita.

Seperti kata Kasman Singodimedjo, “leiden is lijden” (memimpin itu menderita). Kalimat itu diucapkan Kasman ketika dia bersama Mohammad Roem berkunjung ke rumah H. Agus Salim di Tanah Tinggi, Jakarta. Gara-gara hujan lebat, jalan tanah ke rumah Agus Salim becek, sehingga sepeda mereka terpaksa dipanggul. “Een leidersweg is een lij- densweg. Leiden is lijden,” kata Kasman, seperti bicara kepada dirinya sendiri. Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah jalan yang menderita.

Waktu itu Kasman masih mahasiswa kelas persiapan di School tot Opleiding van Indische Artsen (Stovia) atau Sekolah Dokter Hindia). Waktu kemudian membuktikan, tokoh-tokoh ini menjadi role model tentang kehidupan pemimpin di masa pergerakan dan awal kemerdekaan.

Begitu pun di masa Orde Lama dan Orde Baru, tak pernah diragukan visi kenegarawanan Bung Karno dan Pak Harto sebagai presiden yang memiliki cita rasa kepemimpinan yang tinggi. Orang-orang di sekitar dua presiden tersebut, termasuk para pembisik dan orang kepercayaan, diambil dari kalangan terpilih, ahli di bidangnya, serta menjadi ‘begawan disiplin ilmu’ di zamannya. Mereka tak sembarangan berkata, tak mudah memberi masukan ‘receh’, apalagi bertindak di luar nalar publik.

Di masa orde lama, republik yang baru lahir akhirnya cepat melesat karena didukung tokoh-tokoh alumni pergerakan yang handal: Moh Yamin, Agus Salim, Natsir, Djuanda, Sumitro Djojohadikusumo, Roeslan Abdulgani, dan sebagainya. Pun begitu di zaman Orde Baru, masa depan Indonesia diracik oleh kaum profesional seperti Widjojo Nitisastro, Emil Salim, Sumarlin, Ali Wardhana, B.J. Habibie, Moerdiono, Ali Murtopo, Sudharmono, Adam Malik, Mochtar Kusumaatmadja, Ali Alatas, dan lain-lain.

Defisit “Orang Gila”

Di kedua zaman (Orde Baru dan Orde Lama), kita juga mengenal orang-orang yang disebut sebagai “orang gila”. Dalam artian, yang berani melawan di tengah semua orang takut, yang tetap bersikap benar meski yang lain palsu, yang konsisten dan idealis di antara bujuk rayu serta ancaman. Yang bergumul dengan rakyat di saat mereka berebut melayani penguasa. Mereka hidup “zuhud”, puritan, vivere pericoloso (nyerempet-nyerempet bahaya, hidup penuh bahaya).

Di antara sosok “orang gila” yang menjadi role model karena integritasnya itu, umumnya lahir dari dunia hukum. Hal ini bisa dipahami, sebab di dunia hukum ada banyak mafia dan rentan godaan. Sedikit “orang gila” itu antara lain, Bismar Siregar (Hakim Agung), Baharuddin Lopa (Jaksa Agung), Jenderal Hoegeng (Kapolri 1968-1971), Yap Thiam Hien (pengacara dan pejuang HAM). Mereka memang telah wafat, namun kisahnya “melegenda” dan namanya dirindukan setiap kali “wajah keadilan” coreng-moreng bahkan oleh aparat hukum sendiri.

Tokoh berintegritas (ki-ka): Jenderal Hoegeng (Kapolri 1968-1971), Yap Thiam Hien (pengacara dan pejuang HAM), Baharuddin Lopa (Jaksa Agung), Bismar Siregar (Hakim Agung)

Kini, ketika memasuki alam reformasi, tiba-tiba bangsa ini seperti kehilangan tokoh-tokoh teladan. Negara oleng karena tak punya pemimpin dan elite publik sebagai panutan, pemandu jalan moralitas. Padahal dengan kondisi krisis dan penuh anomali seperti sekarang, pemimpin kaliber role model itu semestinya muncul. Namun yang hadir dari hasil kontestasi demokrasi prosedual umumnya tak jauh dari tiga kategori: bandar, bandit, dan boneka politik. Alih-alih melahirkan pemimpin berdaulat, justru menelurkan “kacung” yang tunduk pada telunjuk para oligark.

Betapa “panggung politik” Indonesia saat ini sangat ‘absurd’ (hina). Karena tidak mampu melahirkan tokoh dan pemimpin teladan yang punya visi kenegarawaan, juga wacana yang berkualitas.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here