Pasola, Tradisi Perang Lembing Sambil Berkuda Ala Sumba

1
483
Pasola aalah tradisi ketangkasan berkuda sambil melempar lembing di Sumba Barat / Foto Benyamin Lakitan

Nusantara.news, Waikabubak – Lempar lembing di lapangan hal biasa. Tapi bagaimana kalau ada dua kelompok saling serang menggunakan lembing yang dilempar sambil berkuda yang berlari cepat? Itulah Pasola di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Lempar lembing yang berpadu ketangkasan berkuda hanya ada di empat Kecamatan, Pulau Sumba, masing-masing Kecamatan Kodi (Kabupaten Sumba Barat Daya), Lamboya, Wonokaka dan Gaura, Kabupaten Sumba Barat.

Tradisi Pasola itu sudah berjalan turun temurun, diselenggarakan setiap bulan purnama bulan Februari dan bulan purnama di bulan Maret. Tahun 2017 ini Pasola diselenggarakan pada 18-21 Februari dan 17-20 Maret 2017. Bila ada waktu luang, tentu akan menjadi kenangan tersendiri apabila menjadi bagian dari warga yang ikut menyemangati masing-masing kelompok yang berperang dalam tradisi Pasola.

Pasola berasal dari kata “sola” atau “hola” yang berarti lembing kayu yang digunakan dua kelompok berkuda saling melempar secara berlawanan. Setelah mendapat imbuhan pa, berarti permainan Dalam permainan ini, selain dibutuhkan ketangkasan berkuda juga dibutuhkan ketangkasan dalam melempar lembing saat kuda dipacu kencang.

Sejarah Pasola

Bagi penganut agama asli Pulau Sumba, Marapu, Pasola sudah menjadi bagian dari tradisinya. Konon tradisi ini berlatar-belakang memperebutkan janda cantic bernama Rabu Kaba, di Kampung Wawuang. Kok bisa?

Ceritanya begini, Rabu Kaba sebenarnya sudah bersuamikan Umbu Amahu, orang yang sangat dihormati di Kampung Wawuang. Suatu ketika, Umbu Amaha bersama dua orang koleganya bernama Ngongo Tau Masusu dan Bayang Amahu pamit melaut. Kabarnya mereka berlayar ke pantai selatan untuk mengambil padi. Namun dalam waktu yang cukup lama ketiganya tidak terdengar kabar beritanya.

Singkat cerita warga memutuskan bahwa ketiganya sudah meninggal dunia. Maka warga membuat upacara perkabungan. Dalam kedukaan, sang janda Rabu Kaba terpikat dengan Teda Gaiparona asal Kampung Kodi. Namun, baik keluarga sang suami yang dikabarkan sudah meninggal maupun keluarganya sendiri tidak merestui hubungan keduanya. Teda pun membawa sang janda ke kampung halamannya.

Hasil gambar untuk rabu kaba sumba

Ternyata, tiga pemimpin kampung yang sudah dikabarkan meninggal muncul kembali ke kampung Wawuang. Umbu Amahu mencari istrinya yang telah dibawa Teda ke kampungnya. Saat keduanya ditemukan, Rabu Kaba yang sudah jatuh cinta kepada Teda bersikeras menolak ajakan pulang suaminya.

Namun Rabu Kaba meminta calon suami barunya agar mengganti belis (semacam mahar) yang sudah dibayarkan suami lamanya. Belis biasanya berupa kuda, sapi atau kerbau. Teda pun menyanggupi permintaan sang janda. Setelah belis dilunasi oleh Teda, diadakanlah upacara pernikahan diantara keduanya.

Umbu Dulla, mantan suami Rabu Kaba berbesar hati menerima pengganti belis. Bahkan dia berpesan kepada warganya yang bersedih karena sang pemimpin ditinggalkan oleh istrinya agar pesta Nyale yang dilanjutkan Pasola. Semua itu untuk melupakan kesedihan karena kehilangan janda cantik, Rabu Kaba.

Prosesi Pasola

Pasola diawali dengan pelaksanaan adat nyale sebagai rasa syukur atas datangnya musim panen dan cacing laut yang melimpah di tepian pantai. Upacara adat itu dilaksanakan setiap bulan purnama ketika cacing-cacing laut, atau dalam Bahasa setempat disebut nyale, keluar dari pori-pori pasir di tepi pantai.

Dalam perhitungan para Rato atau pemuka adat, nyale biasanya keluar pada pagi hari saat matahari memburatkan terang. Setelah nyale pertama didapat oleh Rato, nyale dibawa ke majelis para Rato untuk dibuktikan kebenarannya dan diteliti bentuk serta warnanya. Bila nyale gemuk, sehat dan warna-warni adalah pertanda panen berlimpah. Sebaliknya kalau nyale kurus dan layu itu pertanda malapetaka. Setelah itu baru warga dibolehkan menangkap nyale secara massal.

Hasil gambar untuk nyale pasola sumba

Warga mencari nyale (cacing laut) sebagai bagian dari upacara Pasola

Tanpa mendapatkan nyale, Pasola tidak dapat dilaksanakan. Pasola dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan oleh segenap warga dari kedua kelompok yang bertanding,masyarakat umum, dan wisatawan asing maupun lokal. Masing-masing setiap kelompok melibatkan 100 “serdadu” berkuda bersenjatakan lembing berujung tumpul dan berdiameter 1,5 cm.

Kendati berujung tumpul, tapi jangan salah, kadang memakan korban jiwa. Kalau ada korban yang meninggal dunia, dalam kepercayaan masyarakat setempat (Marapu) karena korban mendapatkan hukuman dari dewa yang menilainya telah berbuat kesalahan.

Hasil gambar untuk pasola sumba

Dalam permainan pasola, penonton dapat melihat secara langsung dua kelompok ksatria sumba yang sedang berhadap-hadapan, kemudian memacu kuda secara lincah sambil melesetkan lembing ke arah lawan. Selain itu, para peserta pasola ini juga sangat tangkas menghindari terjangan tongkat yang dilempar oleh lawan.

Derap kaki kuda yang menggemuruh di tanah lapang, suara ringkikan kuda, dan teriakan garang penunggangnya menjadi soundtrack alami dalam permainan ini. Belum lagi teriakan para penonton perempuan yang memicu semangat “serdadu” pasola. Dalam acara itu, darah yang mengucur dianggap berkhasiat untuk kesuburan tanah. Sebaliknya, bila ada yang meninggal dunia dianggap karena sebelumnya ada norma-norma adat yang dilanggar oleh warga di kampung tempat dilaksanakannya Pasola.

Memang, Pasola bukan sekedar permainan yang menghibur banyak orang. Melainkan juga tradisi yang dijaga secara turun temurun oleh warga di keempat kampung. Pasola juga menjadi perekat tali persaudaraan dari beragam masyarakat dari kampung yang berbeda, termasuk para wisatawan baik domestic maupun manca negara yang menyaksikan upacaranya.

Jadi, bila ada waktu luang, apa salahnya di tahun 2018 nanti, di bulan purnama Februari dan Maret datang ke Sumba untuk menjadi bagian dari warga yang menyaksikan Pasola. Sekaligus merekatkan kebhinneka-tunggal-ikaan kita sebagai warga yang bermukim di gugusan kepulauan nusantara. []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here