Pati Unus, Raja Jawa Terakhir yang Punya Visi Geo-Strategi

0
636

Nusantara.news, Jakarta – Kesadaran bahwa Nusantara mempunyai posisi geografis Nusantara yang sangat strategis sudah tertanam sejak dulu kala. Kesadaran itulah yang mengantarkan kerajaan-kerajaan besar Nusantara di masa silam menjadi emporium bahari yang perkasa, seperti Sriwijaya dan Majapahit, atau kerajaan kecil lain seperti Makassar, Ternate, Aceh dan sebagainya yang juga dicatat sejarah sebagai negara maritim yang hebat.

Kesadaran itu membentuk kebijakan, yang kalau dalam bahasa sekarang, disebut geo-strategi. Geo-strategi adalah strategi yang memanfaatkan kondisi geografis negara dalam menentukan kebijakan dan cara mencapai tujuan, baik tujuan politik, ekonomi, militer maupun mekanisme mempertahankan diri.

Tersebutlah nama Pati Unus, atau nama aslinya Raden Abdul Qadir bin Yunus, raja Demak kedua, yang memerintah dari tahun 1518 sampai 1521. Dia menggantikan ayahnya, Raden Patah, pendiri kerajaan Islam pertama di Nusantara itu. Tak ada keterangan pasti tahun berapa dia lahir, tapi menurut berbagai cerita, dia masih sangat muda belia ketika ditunjuk menjadi sultan. Sebelum menjadi sultan dia adalah tangan kanan ayahnya untuk memperluas daerah kerajaan, walaupun dia bertugas sebagai adipati di Jepara. Ini memberinya bekal pengalaman bertempur sejak kanak-kanak.

Raden Patah sangat terobsesi dengan kemaharajaan Majapahit, yang daerah kekuasaannya hampir meliputi seluruh Nusantara, bahkan sampai daerah (yang sekarang disebut) Thailand, Malaysia, Singapura, Myanmar dan Vietnam. Majapahit juga beraliansi dengan India, Filipina dan Cina. Obsesi ini wajar, karena dia adalah anak Brawijaya, raja terakhir Majapahit.

Sepeninggal Brawijaya, daerah-daerah kekuasaan Majapahit lepas satu persatu. Raden Patah ingin mengembalikan peninggalan ayahnya. Langkah pertama yang dipikirkannya adalah menguasai kembali Malaka, kota yang menjadi pusat perdagangan kala itu. Rencana itu dibahasnya bersama Pati Unus.

Sebagai panglima perang, Pati Unus tidak serta merta menjalankan rencana ayahnya. Dia mengatur strategi terlebih dahulu, sekaligus mengukur kekuatannya jika pergi bertempur ke Malaka. Sebagai kerajaan baru, armada laut Demak belum sehebat Majapahit. Majapahit memang tiada tanding kala itu. Sejarawan Agus Sunyoto, misalnya, pernah memperoleh hasil penelitian bahwa ukuran kapal dagang Majapahit sekian kali lipat lebih besar dari kapal dagang Cina. Sehingga ketika kapal tersebut berlabuh di dermaga Cina, semua orang memandangnya bagai tak percaya. Jika kapal dagangnya besar, kapal militer pun tentu berukuran seimbang. Sebab ekspedisi dagang di masa itu selalu disertai pengawalan kapal angkatan laut.

Menghadapi keterbatasan itu, Pati Unus meniru strategi Majapahit, yakni menjalin aliansi strategis dengan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Mitra pertama yang didekatinya adalah Kesultanan Cirebon dan Banten. Tak sulit baginya melakukan itu. Sebab, ada tali persaudaraan darah di antara raja-raja Islam itu. Sama seperti dirinya, Raja Cirebon dan Raja Banten adalah keturunan Syekh Maulana Akbar. Sultan Cirebon pertama, Syekh Syarif Hidayatullah, yang kemudian bergelar Sunan Gunung Jati, adalah cucu Syekh Maulana Akbar. Sementara Pati Unus adalah cicit Maulana Akbar, karena ibu Raden Patah adalah cucu ulama dari Gujarat tersebut. Sedangkan Sultan Banten, Maulana Hasanuddin, adalah anak Sunan Gunung Jati. Hubungan keluarga raja-raja ini makin dekat, karena Pati Unus dinikahkan pula dengan putri Sunan Gunung Jati.

Hasil aliansi politik itu, Pati Unus yang terkenal jago berperang itu ditunjuk menjadi Panglima Gabungan Armada Laut dari ketiga kerajaan Islam itu, Demak, Banten dan Cirebon. Dia digelari Senapati Sarjawala. Misi utamanya, mewujudkan cita-cita ayahnya untuk mengembalikan kejayaan kakeknya: Merebut Malaka. Dengan posisinya itu, Pati Unus juga menjalin aliansi politik-militer dengan kerajaan lain, seperti Kesultanan Palembang dan Makassar.

Namun, di tengah persiapan merebut Malaka itu, Portugis lebih dulu menguasai Malaka pada 1511 dipimpin Alfonso d’Alburqueque, yang menjelajah dunia dengan slogan Gold, Glory, Gospel. Setahun kemudian, Samudera Pasai juga takluk di tangan Portugis. Pati Unus mulai naik darah. Tapi, dia tidak sembrono. Pada tahun 1513, dia melakukan uji coba, semacam serangan pendahuluan untuk menaksir kekuatan lawan. Lewat operasi militer yang diberi nama Ekspedisi Jihad, dikirimnya pasukan ke Malaka. Namun kalah. Sebagian tentara yang berhasil balik ke Jawa melaporkan kondisi di Malaka. Laporan itulah yang dianalisis Pati Unus untuk menentukan strategi penyerbuan berikutnya.

Jenderal muda ini berkesimpulan, untuk menyerang Malaka harus dengan kekuatan penuh, karena Portugis memiliki armada laut yang kuat dengan persenjataan modern. Dia memanfaatkan aliansi militer yang sudah terjalin dengan kerajaan Palembang dan Makassar. Palembang menjanjikan bantuan pasukan. Makassar membantu pembuatan kapal perang sebanyak 375 buah di Gowa, daerah yang sejak dulu terkenal sebagai pembuat kapal. Butuh waktu bertahun-tahun membuat kapal sebanyak itu. Baru tahun 1521, semua kapal itu selesai.

Ketika itu, Pati Unus sudah tiga tahun menjadi raja di Demak. Raja muda lalu membuat keputusan yang mengagetkan semua orang. “Saya akan memimpin langsung penyerbuan ke Malaka,” titahnya. Orang pertama yang dimintainya restu adalah mertuanya sendiri, Sunan Gunung Jati.

Sang Sunan hanya memintanya memikirkan dengan matang. Dalam pikiran Sunan Gunung Jati, tak ada juga gunanya melarang. Toh titah raja sudah diucapkan. Sabda pandita ratu tan kena wola-wali. Itu prinsip raja-raja Jawa. Sabda tak boleh ditarik. Sumpah tak boleh dilanggar. Sabda pandita ratu adalah simbol keagungan moral sekaligus representasi puncak kekuasaan. Dalam Serat Jayabaya dikatakan, kalau akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe, maka iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-walik ing jaman.

Seorang raja muda yang baru bertahta berkenan meninggalkan segala kemewahan hidup demi tugas negara. Ini adalah pelajaran moral kekuasaan yang tiada duanya.

Sunan Gunung Jati merestui menantunya, Sang Senapati Sarjawala, pergi berperang. Base-ops ditetapkan di pelabuhan Demak. Seluruh kapal, pasukan dan persenjataan sudah lengkap tergelar. Pasukan bantuan dari Palembang juga sudah tiba beberapa pekan sebelumnya. Menjelang keberangkatan, Sunan Gunung Jati mengumpulkan para wali untuk memberkati semua pasukan.

Pati Unus pamit. Tangannya mengibarkan bendera perang. Seluruh armada bergerak.

Sejarah mencatat, pertempuran dahsyat pecah di Malaka. Tiga hari tiga malam peluru meriam kapal laut berdesingan dari kedua arah. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Pertempuran hebat ini tidak pernah tercatat dalam sejarah resmi Portugis, mengingat banyaknya korban di pihak mereka.

Pertempuran armada Pati Unus dengan Portugis di Malaka

Namun, inilah akhir takdir Sang Senapati Sarjawala. Menurut sebuah kisah, dia syahid dalam perang dahsyat tahun 1521 itu. Tapi, ada pula yang mengisahkan, dia berhasil kembali ke Demak dalam keadaan terluka, dan mangkat tak lama kemudian. Ekspansinya ke Malaka itu membuatnya dijuluki Pangeran Sabrang Lor, atau pangeran yang menyeberang laut ke utara.

Kekalahan Pati Unus di Malaka inilah yang mengubah sejarah Jawa, termasuk tentunya Indonesia saat ini. Kekalahan itu membuat Demak mulai melupakan ekspansi internasionalnya. Sultan Trenggono, adik Pati Unus, yang kemudian naik menjadi raja Demak menggantikan abangnya, lebih berorientasi ke dalam negeri, walaupun kebenciannya terhadap Portugis sampai ke sumsum tulang.

Dia tetap membantu memerangi Portugis, tetapi sebatas di wilayah Pulau Jawa. Ketika itu jabatan Panglima Gabungan Armada Laut dari ketiga kerajaan Islam itu beralih ke Fatahillah, atau Pangeran Jayakarta. Menantu SultanTrenggono inilah yang berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa.

Kesultanan Demak kemudian jatuh akibat pemberontakan Arya Penangsang, Bupati Bojonegoro. Arya Penangsang juga mati di tangan Joko Tingkir yang dibantu Ki Ageng Pamanahan. Pada tahun 1560, kekuasaan diambil-alih Kerajaan Pajang yang didirikan Jaka Tingkir.

Sebagai tanda terimakasih, Joko Tingkir yang bergelar Sultan Hadiwijaya memberi tanah perdikan kepada Ki Ageng Pamanahan. Itulah cikal bakal Kerajaan Mataram yang didirikan putra Ki Ageng, Sutawijaya, lewat serangkaian proses politik yang rumit. Raja pertama Mataram itu bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa.

Mataram sebagaimana diketahui adalah kerajaan agraris yang jaya di masanya, sehingga budaya agraris tersebut merasuk sedemikian dalam di cara pandang dan pola hidup masyarakat di daerah-daerah yang pernah dikuasainya, khususnya di Pulau Jawa. Sebagai negara agraris, perhatian Mataram terhadap maritim dalam kacamata geo-strategi bertolak belakang dengan Demak.

Hal ini juga berpengaruh terhadap terkikisnya budaya maritim di Nusantara, sampai detik ini. Sebab perjuangan kemerdekaan Indonesia, walaupun dilakukan secara semesta di seluruh Nusantara, tetapi karena Belanda memusatkan kekuasaan kolonialismenya di Batavia, puncak-puncak pergerakan politik berpusat di Pulau Jawa, pulau yang penduduknya notabene telah ratusan tahun hidup dengan budaya Mataram yang agraris.

Sehingga ketika perjuangan tersebut berhasil membentuk negara Indonesia merdeka, negara ini dikelola dengan cara pandang masyarakat agraris yang melahirkan konsep land-based development. Para pemimpin bangsa ini bukannya tidak menyadari kenyataan geografis Indonesia yang tiga perempat wilayahnya adalah laut. Namun cara mereka memandang laut adalah dengan kacamata darat,  yaitu  laut dipahami dengan pendekatan teritorial, di mana kedaulatan suatu negara harus mempunyai batas-batas wilayah yang jelas dan berada penuh dalam kekuasaan negara. Para pemimpin ketika itu (sekali lagi karena budaya agraris tadi) belum memandang laut sebagai titik pangkal orientasi pembangunan negara.

Jadi, seandainya Pati Unus berhasil merebut Malaka, takdir sejarah bangsa ini pasti akan berbeda. Sepeninggal Pati Unus, raja-raja di Nusantara, khususnya di Tanah Jawa, tidak lagi punya visi geo-strategi yang melihat kondisi geografis sebagai dasar penentuan strategi.

Ya, memang dia adalah raja Jawa terakhir yang memiliki visi geo-strategi dalam memimpin negaranya. Tidak sekadar visi, tapi dia mempertaruhkan kekuasaannya untuk mewujudkan visi itu dalam misi melalui ekspansi militer.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here