Patung Cina di Tuban, Simbol Yahudi di Madiun

2
985
Bangunan prasasti di depan gedung DPRD Kabupaten Madiun yang dianggap menyerupai simbol Freemason atau organisasi rahasia Yahudi.

Nusantara.news, Madiun – Setelah kontroversi berdirinya patung Dewa Perang Cina Guan Yu di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, kini muncul simbol Freemasonry atau Freemason di Kabupaten Madiun. Ada apa dengan negara ini?

Simbol Freemason tersebut berdiri di depan kantor DPRD Kabupaten Madiun. Bentuk bangunannya menyerupai prisma. Bila dilihat dari depan, di sebelah kanan terdapat 5 anak tangga besar. Sedang di sebelah kiri terdapat 45 buah anak tangga kecil. Di tengahnya dibuat berlobang. Lalu ada tiga anak tangga kecil di bawahnya.

Masyarakat Kabupaten Madiun tidak ada yang tahu jika bangunan tersebut merupakan simbol Freemason. Apalagi hingga kini pembangunannya masih dalam taraf pengerjaan. Rencananya bangunan itu hendak dijadikan prasasti atau lambang bagi DPRD Kabupaten Madiun.

Persamaan bangunan prasasti DPRD Kabupaten Madiun dengan simbol Freemason.

Diketahui prasasti yang mirip tangga Freemason tersebut dibangun dengan anggaran sebesar Rp 1.069.700.000 dan bersumber dari dana APBD 2017. Hal itu berdasarkan papan keterangan proyek yang dipasang tak jauh dari lokasi, disebutkan pengerjaan proyek Tugu dan Taman Demokrasi itu di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Madiun. Sedangkan pelaksana proyek dikerjakan oleh CV Ardhi Laksa dengan waktu pengerjaam 150 hari sejak 11 Juli 2017, lalu. Sesuai dengan tenggat waktu yang diberikan, pada 11 Desember 2017 mendatang, pengerjaan bangunan sudah selesai dilakukan.

Penelusuran Nusantara.News, seorang anggota dewan yang menolak disebutkan namanya mengatakan, bangunan tersebut merupakan proyek kemitraan antara Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Madiun dengan Komisi D.

Menurut dia, bangunan tersebut sebenarnya melambangkan Pancasila dan jumlah anggota dewan. “Anak tangga yang berjumlah 45 buah itu melambangkan jumlah anggota dewan 45 orang. Sedang 5 anak tangga tadi merupakan lambang Pancasila,” katanya.

Ditanya dari mana ide bentuk bangunan, dia mengaku tidak tahu. “Saya tahunya cuma itu. Kalau dibilang itu bentuknya seperti simbol Freemason, saya tidak tahu,” terangnya.

Baca juga: Patung Dewa Perang Cina di Tuban, Code Invasi Strategi Intip Indonesia?

Freemason sendiri adalah organisasi Yahudi Internasional, sekaligus gerakan rahasia paling besar dan paling berpengaruh di seluruh dunia. Freemason terdiri dari dua kata yang disatukan. Free artinya bebas atau merdeka, sedangkan Mason adalah juru bangun atau pembangun.

Tujuan akhir dari gerakan Freemason adalah membangun kembali cita-cita khayalan mereka, yakni mendirikan Haikal Sulaiman atau Solomon Temple. Tentang hal ini, banyak sumber yang mendefinisikan berlainan. Salah satu tafsir yang paling populer adalah, bahwa Haikal Sulaiman berada di tanah yang kini di atasnya berdiri Masjidil Aqsha yang menjadi kiblat pertama umat Islam.

Gerakan ini pernah menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Bassel, Swiss, tahun 1897, memori ini menemukan momentumnya dan Theodore Hertzl menyerukan agar semua Yahudi Diaspora berbondong-bondong memenuhi Tanah Palestina yang disebutnya sebagai Tanah Perjanjian.

Atas klaim sepihak, kaum Zionis mengatakan bahwa di bawah tanah Masjidil Aqsha inilah Haikal Sulaiman berdiri. Sebab itu, mereka mengatakan tidak ada pilihan lain kecuali menghancurkan Masjidil Aqsha dan kemudian membangun kembali Haikal Sulaiman di atasnya.

Bagi mereka, Haikal Sulaiman merupakan pusat dari dunia. Bukan Makkah, bukan pula Vatikan. Haikal Sulaiman-lah pusat seluruh kepercayaan dan pemerintahan segala bangsa. Keyakinan ini bukanlah berangkat tanpa landasan.

Sesuai dengan targetnya yang digambarkan dalam simbol anak tangga, organisasi Yahudi Internasional ini ingin menguasai seluruh dunia.

Di dalam jaringan Zionisme Internasional, kaum Freemason memegang semua media, baik media cetak, elektronik dan online termasuk media sosial. Melalui jaringanya pula mereka mengendalikan harga emas dan harga mata uang di dunia, mereka menyetir semua Presiden dalam sebuah “perjanjian rahasia”. Mereka berada di dalam Lions Club, Rotary Club dan terkadang mereka menyebut diri mereka OLIMPIADE (Persekutuan Pemuja Setan/Lucife/Anti Kristus/Dajjal seluruh dunia). Mereka membuat “orang-orang terpilih” menjadi populer bagai Nabi. Di setiap negara mereka memiliki “orang-orang pilihan” ini. Mereka akan dimanjakan media, dielu-elukan dan membuat semua orang terpesona. Targetnya adalah menguasai setiap negara karena orang-orang terpilih ini sudah melakukan “Perjanjian” secara rahasia dengan Zionis Internasional.

Apa target mereka? Sesuai dengan target Dajjal di muka bumi ini yaitu menguasai dunia dengan segala keangkaramurkaan, anti kepada Allah Swt dan menghancurkan semua orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah Swt.

Pembangunan prasasti di Kabupaten Madiun saat ini memang gaungnya tidak sebesar patung Dewa Perang di Tuban. Selain banyak orang yang tidak paham arti simbol tersebut, efek yang dirasakan juga tidak terlalu besar. Sebaliknya bila orang paham bahwa bangunan tersebut merupakan simbol Freemason, mereka pasti akan melawannya habis-habisan. Sebab, dibangunnya simbol di depan gedung DPRD Kabupaten Madiun, menunjukkan seakan-akan Madiun telah dikuasai oleh Yahudi.

Jika tetap dibiarkan, maka simbol Freemason bisa dianggap melecehkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan dianggap sebagai ancaman kedaulatan negara. Pasalnya, hingga detik ini Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Bahkan Indonesia tidak mengakui Israel sebagai negara. Sebaliknya, Indonesia justru mengakui Palestina sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

Baca juga: Indonesia Tolak Keras Ibukota Israel Pindah dari Tel Aviv ke Jerusalem

“Ngeri memang, jika masyarakat sampai menganggap itu simbol Freemason. Artinya Kabupaten Madiun sudah dijajah oleh Yahudi,” terang anggota dewan tadi.

Karenanya, sejak bangunan tersebut diketahui sebagai simbol Freemason, seluruh fraksi, ketua dan wakil DPRD Kabupaten Madiun langsung menggelar rapat pada Kamis (7/12/2017). Dalam rapat tersebut dihadirkan Kepala Bapeda, Kepala Dinas PU, Sekretaris Dewan, dan Dandim. Mereka memutuskan untuk mengubah bangunan tersebut.

DPRD Kabupaten Madiun memutuskan untuk menutup bangunan prasasti dan mengubah bentuknya agar tidak menyerupai simbol Yahudi.

“Tadi seluruh fraksi dan pimpinan dewan langsung rapat. Mereka banyak yang tidak tahu jika itu simbol Freemason. Mereka tahunya setelah ada wartawan yang bertanya soal simbol tersebut,” ujarnya.

Pantauan Nusantara.News, usai rapat bangunan atas langsung ditutupi dengan kain berwarna biru. Sejumlah anggota DPRD Kabupaten Madiun tidak mau bangunan yang mau dijadikan prasasti tersebut menjadi polemik di masyarakat. “Kami putuskan untuk mengubah bentuknya agar tidak sama dengan simbol Freemason,” jelasnya.

Terpisah, Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Madiun memprotes pembangunan prasasti yang mirip simbol Freemason tersebut.  “Kami ini tabayyun terhadap tugu yang sedang dibangun di depan kantor DPRD. Yang saat ini lagi hangat dibicarakan masyarakat,” Ketua GP Ansor Kabupaten Madiun, Khotamil Anam, saat mendatangi Kantor DPRD Madiun, Kamis (7/12/2017).Khotamil menambahkan, secara tegas GP Ansor Kabupaten Madiun menolak pembangunan prasasti Demokrasi yang ada di depan kantor DPRD. Dia meminta bangunan tugu itu agar segera dibongkar.

Menurutnya, desain tersebut menyimbolkan suatu kelompok agama tertentu dan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Oleh sebab itu, dia mengimbau agar seluruh bangunan dirobohkan. Ia mengaku khawatir, apabila tidak segera dirobohkan maka ditakutkan ada gerakan radikal yang akan memprotes bangunan tugu tersebut.[]

2 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here