Patung dan Rasisme di Amerika

0
139
Patung Roger Taney simbol Konfederasi di Annapolis ditutupi bagian mukannya dengan bendera AS. Foto: Getty Images

Nusantara.news – Berawal dari protes keberadaan patung Jenderal Robert E. Lee, sosok pahlawan Konfederasi, di taman Charlottesville, isu rasisme kembali berkobar di seluruh Amerika. Pasalnya, Presiden AS Donald Trump dianggap “mendiamkan” kebrutalan kelompok supremasi kulit putih dalam demonstrasi yang berujung bentrok serta menyebabkan tewasnya seorang wanita Virginia. Rasisme di Amerika ibarat bara dalam sekam, dan Trump dianggap mengipas-ngipasinya sehingga menjadi api yang berkobar.

Jenderal Robert E. Lee adalah seorang perwira tinggi di Angkatan Bersenjata AS, dia memutuskan ikut ke negara bagian Virginia, saat terjadi perpecahan di AS pada April 1861, dimana sejumlah negara bagian menyatakan diri keluar dari AS dan menamai dirinya sebagai negara Konfederasi Amerika. Jenderal Lee menolak tawaran Presiden AS saat itu, Abraham Lincoln untuk memegang komando Angkatan Bersenjata AS dan lebih memilih menjadi penasihat militer senior Presiden Konfederasi, Jefferson Davis.

Dalam sejarah AS, Konfederasi Amerika dikenal dengan ‘Selatan’, sedangkan negara pendukung negara Serikat disebut ‘Utara’. Di balik isu pemisahan diri negara-negara bagian ada gagasan tentang supremasi kulit putih dan penolakan terhadap dihapusnya perbudakan. Virginia merdeka hanya 4 tahun, setelah itu mereka melakukan rekonsiliasi, Lee sebetulnya merupakan tokoh yang menyuarakan rekonsiliasi Utara-Selatan itu. Tapi bagi sebagian orang AS, terutama supremasi kulit putih Lee adalah “Pahlawan Selatan”, sehingga dibangunlah patungnya di sebuah taman kota Charlottesville, Virginia.

Setelah lebih dari 1,5 abad Perang Saudara berlalu, patung Lee hendak dirobohkan oleh pemerintah kota setempat. Tapi kelompok nasionalis kulit putih bergabung dengan Klu Klux Klan, neo-Nazi, dan kelompok rasis lainnya tak terima dan memprotes kebijakan tersebut, dari kelompok anti-rasis yang mendukung perobohan patung juga memprotes, lalu terjadilah bentrokan Sabtu naas itu yang menimbulkan satu orang tewas di lokasi kejadian dan 19 lainnya luka-luka.

Rebert E. Lee bukan satu-satunya patung atau monumen Konfederasi. Patung dan monumen Konfederasi, sebuah usaha yang gagal untuk memisahkan diri dari Amerika Serikat dengan tujuan memelihara perbudakan, masih banyak tersebar di seluruh negara. Patung-patung dan monumen itu kerap menjadi sasaran protes untuk dirobohkan atau dipindahkan ketika terjadi kasus rasisme di suatu wilayah.

Di Annapolis patung Roger Taney diturunkan dari depan Gedung Negara pada hari Jumat (18/8) pagi. Gubernur Annapolis Larry Hogan, seorang Republikan, menyerukan pencopotan monumen itu dari awal pekan lalu. Meski bukan pejabat Konfederasi, Taney yang merupakan seorang Hakim adalah aktor utama keputusan Dred Scott 1857, yang memutuskan bahwa orang Afrika-Amerika tidak dapat menjadi warga negara Amerika.

Di Baltimore Walikota Catherine Pugh, memerintahkan pemindahan empat monumen simbol era Konfederasi, dia mengatakan, ini  demi kepentingan keselamatan publik setelah terjadi kekerasan di Charlottesville. Patung-patung itu diturunkan sebelum fajar pada hari Rabu (16/8).

Patung Konfederasi di Baltimore

Kemudian sebuah plakat untuk menghormati pohon yang ditanam di Brooklyn pada tahun 1840-an oleh Robert E. Lee juga dicopot pada hari Rabu (16/8). Pohon itu berada di sebelah gereja Episkopal yang tertutup. Pejabat keuskupan mengatakan, mereka menerima banyak ancaman setelah plakat tersebut dicopot.

Plakat simbol Konfederasi di Brooklyn

Sebelumnya, di Durham para pemrotes menarik sebuah patung seorang tentara Konfederasi di depan Gedung Pengadilan Kota Durham pada hari Senin (14/8). Patung tersebut, yang telah berdiri sejak 1924, dilindungi oleh undang-undang khusus dan polisi negara bagian telah menahan empat demonstran.

New Orleans juga memindahkan empat monumen yang didedikasikan untuk Konfederasi. Para pekerja  membawa patung-patung itu mengenakan jaket, helm dan topeng serta dijaga polisi karena khawatiran akan keselamatan mereka.

Monumen Konfederasi di New Orleans

Di Boston sebuah monumen Konfederasi di Pulau Georges di Boston Harbor ditutup atas keputusan Negara. Gubernur Charlie Baker, seorang Republikan, mengatakan pada Juni lalu,  “kita harus menahan diri dari simbol, terutama di taman umum kita, yang tidak mendukung kebebasan dan persamaan.”

Pada hari Kamis (17/8) lalu, Dewan Kota di Lexington, Ky, menyetujui sebuah proposal untuk memindahkan dua patung simbol Konfederasi dari gedung bersejarah kota tersebut. Walikota, Jim Gray, memiliki waktu 30 hari untuk mengusulkan lokasi baru untuk patung-patung tersebut, yang pengangkatannya harus disetujui oleh Kentucky Heritage Commission, sebuah komisi benda-benda bersejarah.

Patung Konfederasi di Lexington

Di San Antonio, sebelum terjadi kekerasan di Charlottesville, beberapa anggota dewan kota tersebut telah mengusulkan pemindahan patung tentara Konfederasi di Travis Park.

Sikap Trump

Sementara itu, Presiden Trump memilih mempertahankan patung-patung dan monumen itu, dengan alasan, “memidahkan mereka sama dengan menumbangkan budaya Amerika dan sejarahnya.”

Sedih melihat sejarah dan budaya negara besar kita yang hancur berantakan dengan pemindahan  patung dan monumen indah kita,” katanya sebuah rangkaian tweet .

“Anda, tidak bisa mengubah sejarah, tapi Anda bisa belajar darinya. Robert E Lee, Stonewall Jackson – siapa lagi selanjutnya, Washington, Jefferson? Begitu bodoh!” kata Trump.

Pembelaan Trump atas patung-patung simbol Konfederasi yang menjadi pemicu rasisme di Amerika terus menjadi kontroversi. Bagi sebagian besar orang mempertanyakan, dengan membela patung-patung itu, apakah Trump memuliakan rasisme?

Membentang dari California sampai Massachusetts, ada sekitar 1.500 simbol Konfederasi yang masih ada di ranah publik lebih dari 150 tahun setelah berakhirnya Perang Saudara.

Sekitar setengah dari simbol-simbol itu (718) di antaranya, adalah monumen dan patung. Tiga dari empat di antaranya dibangun sebelum tahun 1950. Ini menurut data tahun 2016 dari Southern Poverty Law Center (SPLC), sebuah organisasi advokasi nirlaba berbasis di Alabama yang selama ini melacak hak-hak sipil dan kejahatan kebencian di AS. Simbol Konfederasi juga mencakup 109 sekolah umum, 39 di antaranya dibangun selama gerakan hak-hak sipil.

Virginia adalah negara dengan simbol Konfederasi paling banyak dengan jumlah 223. Texas, Georgia, North Carolina, Mississippi, South Carolina dan Alabama masing-masing memiliki lebih dari 100 simbol Konfederasi. Sisanya tersebar di negara-negara bagian lain.

Sah saja patung sebagai sebuah simbol, monumen atau penanda, keberadaannya dianggap sebagai benda seni atau penanda sejarah, tapi jika ditempatkan di tempat-tempat yang tidak tepat, seperti misal di taman umum, alun-alun, atau tempat-tempat lain yang bisa memicu sentimen ras, suku, dan agama, akan menjadi masalah.

Di Amerika saja, negara yang dianggap sudah matang dalam hal demokrasi, isu rasisme bisa menguat gara-gara sebuah patung, apalagi di negara yang masih belajar berdemokrasi, seperti Indonesia. Jadi, masalahnya bukan patung atau monumen itu berfungsi sebagai apa, namun jika diletakkan di lokasi yang kurang pas, pasti akan menimbulkan masalah. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here