Patung Dewa Perang Cina Lecehkan ‘Bumi Wali’ Tuban

21
7315
Patung Dewa Perang Cina Kwan Sing Tee Koen setinggi 30,4 meter di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban Jawa Timur

Nusantara.news, Surabaya – Menghormati suatu kebudayaan apapun yang ada di dunia merupakan hal yang baik saja, termasuk semua kebudayaan, baik berdampak positif maupun negatif yang masuk ke Indonesia. Tetapi, tentu semua harus proporsional dan tidak boleh menonjol, apalagi sampai menciderai unsur kebudayaan lokal yang sudah melekat dan mengakar pada masyarakat yang ada di sekitar.

Sebagai bangsa yang berdaulat seperti Indonesia nilai-nilai kebangsaan harus dinomorsatukan. Yang disebut mencintai tanah air bukan hanya mencium bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya saja, namun, bagaimana kita mengaplikasi perjuangan para pahlawan yang gugur di medan perang untuk Indonesia merdeka.

Terbaru, masyarakat Jawa Timur sepertinya kecolongan dengan adanya Patung Dewa Perang Cina Kwan Sing Tee Koen setinggi 30,4 meter di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban Jawa Timur. Begitu megah dan tingginya bangunan tersebut, Museum Rekor Indonesia (MURI) langsung mengapresiasinya dan peresmiannya melibatkan sejumlah tokoh dan artis Ibukota.

Namun, yang menjadi pertanyaan saat ini adalah bahwa patung Dewa Perang Cina tersebut didirikan di Tuban yang terkenal dengan sebutan Bumi Wali, dengan kaum muslim yang mayoritas dan kental. Menurut Bagus Legowo salah satu penggagas rumah Pancasila dan pemerhati budaya menilai bahwa berdirinya parung dewa perang Cina di Bumi Wali dianggap suatu pelecehan kepada masyarakat Tuban yang mayoritas beragama Islam.

Menurutnya, jika patung Dewa Perang Cina tersebut dibuat tidak 30,4 meter dan untuk ditempatkan di dalam klenteng tentu tidak ada masalah. Dengan berdirinya patung setinggi 30,4 meter itu melecehkan kaum muslim dan Bangsa Indonesia. Kesan yang ada adalah patung tersebut akan menjadi Icon Tuban, dan bisa menjadi lokasi wisata baru.

“Tentu hal ini akan menjadi pembodohan gaya baru karena sejarah Dewa Perang tersebut bukan di Tuban, tapi di Cina, dan tentu saja akan berpotensi menutup sejarah Tuban sebagai Bumi Wali, di mana ada makam Sunan Bonang. Dikhawatirkan umat muslim Tuban, Jawa Timur dan Indonesia akan terlupa dengan Sunan Bonang, dan lebih tersedot dengan patung Dewa Perang,” cetusnya saat dikonfirmasi Nusantara.news, Kamis (27/7/2017).

Selain itu, apakah tanda etnis Cina siap berperang dengan Bangsa Indonesia? Apa maksud dari semua itu? Bagus mengingatkan bahwa Tuban adalah salah satu tempat penyebaran agama Islam terbesar di pulau Jawa selain kota-kota lain, di samping itu, Tuban adalah salah satu bagian NKRI, mengapa harus patung Dewa Perang Cina, yang merupakan patug negara bangsa Cina.

Bagus juga menambahkan, mestinya Bupati Tuban dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur bisa lebih proaktif jika ingin membangun sebuah situs kebudayaan, apalagi ini sudah nyata-nyata bukan salah satu unsur ikon kebudayaan Indonesia. Apakah tidak akan menyinggung masyarakat setempat, dan rasa nasionalisme untuk melindungi budaya lokal juga patut dipertanyakan.

Seperti diketahui, memang hal yang tidak mudah untuk dapat membuat rasa nasionalisme itu terbentuk dengan kokohnya. Bangsa Amerika saja sampai merdeka butuh beratus-ratus tahun untuk dapat memperkuat rasa nasionalisme tersebut. Di mana dengan semangat nasionalisme mereka, mereka dapat menjadi Negara Adi Kuasa. Mereka juga merupakan negara dengan populasi penduduk terbanyak nomor empat di dunia.

“Akan tetapi berada di manakah bangsa kita yang tercinta ini, jika sebuah situs sejarah yang bukan ikon bangsa berdiri kokoh bahkan tinggi patung Dewa Perang Cina itu se-Asia Tenggara berada di Tuban? Apakah ini mencerminkan nilai-nilai nasionalisme sebuah bangsa yang ‘katanya’ mencintai budaya lokal daripada luar?” tanya Bagus.

Patung dewa Perang Cina di Tuban ini membuktikan bahwa sekarang semangat nasionalisme bangsa telah lengkang oleh waktu. Mana semangat nasionalisme yang dahulu pada saat jaman kemerdekaan ketika proklamator sekaligus presiden RI pertama yaitu Soekarno sering berkata ”Merdeka atau Mati”, sekarang telah lekang oleh waktu berbeda seperti salah satu lagunya Kerispatih yang berjudul “Tak Lekang Oleh Waktu”.

Patung Merlion Singapura di Ciputra Disoal
Masih ingat dalam benak kita bagaimana pada tahun 2014 para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya menyoal serta mendesak pemerintah kota (Pemkot) untuk bersikap tegas kepada pengembang perumahan Citraland. Banyak ikon Singapura marak di perumahan mewah tersebut, padahal Surabaya dikenal sebagai kota Pahlawan.

Tak hanya nama-nama jalan yang berbau Singapura, pengembang bahkan membangun patung Merlion yang merupakan simbol kebanggaan Singapura di Citraland. Sementara Citraland yang dimiliki Ir. Ciputra berhasil mengeruk pendapatan dari bumi Surabaya. Kuartal I/2004 saja, PT Ciputra Surya Tbk sebagai induk Citraland memperoleh pendapatan hingga Rp347,89 miliar, dengan laba bersih Rp137,68 miliar. Karena itulah, DPRD mendesak agar segala atribut asing di Citraland diturunkan alias dicopoti.

Patung Merlion di Ciputra Surabaya

Sehingga Dewan Surabaya menilai bahwa apa yang dilakukan pengembang tidak sopan, menurutnya, Citraland mencari uangnnya di Surabaya tapi tidak menghormati warga asli Surabaya, bahkan warga Indonesia. Tidak hanya itu saja, DPRD Surabaya juga beranggapan bahwa pengembang jangan hanya cari keuntungan pribadi dalam mendesain propertinya dengan meniru gaya asing, tapi tidak memasukan budaya serta ciri khas kota Pahlawan. Mengapa bukan patung Bung Tomo, pejuang yang memberikan kemerdekaan Surabaya serta bangsa Indonesia yang dijadikan ikon.

Monumen “Berhala” Jayandaru Dibongkar
Monumen “berhala” Jayandaru yang letaknya di tengah-tengha Alun-alun Kabupaten Sidoarjo akhirnya dibongkar setelah mendapat protes keras dari sejumlah ormas Islam, Rabu (25/2/2015). Gerakan Pemuda Ansor, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan beberapa ormas Islam lain menilai, monumen berupa patung tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Seperti diketahui, MUI Kabupaten Sidoarjo dan kalangan pondok pesantren tegas menolak replika sembilan patung berbentuk manusia sempurna setinggi 25 meter itu. Monumen itu menggambarkan aktivitas masyarakat Sidoarjo yang mayoritas petani dan petambak. Menurut ajaran Islam, sangat diharamkan dan dianggap sebagai “berhala” karena bentuknya yang menyerupai manusia sempurna.

Patung “berhala” Jayandaru di kabupaten Sidoarjo

Patung Jayandaru, karya seniman rupa Wayan Winten, itu dibangun dengan dana corporate social responsibility (CSR) perusahaan pakan ternak PT Sekar Laut Sidoarjo. Setelah mengalami pembongkaran, kemudian monumen Jayandaru diganti dengan patung udang dan bandeng, yang dikenal sebagai lambang kota Sidoarjo. Karena dianggap sesuai dan menggambarkan kehidupan masyarakat Sidoarjo sebagai petani dan nelayan.[]

 

21 KOMENTAR

  1. Wah wahh. Sepertinya china sekarang makin jelas terang terangan dengan upaya mereka sedikit demi sedikit ingin menguasai bahkan akan menjajah pribumi di waktu yg akan datang.
    Jangan dianggap remeh atau hal kecil. Sejarah Singapura dulunya sama dengan kita perlahan di jajah china.

  2. yang buat artikel ini kurang jalan2 nampak.. coba kaw jalan2 ke daerah sumatera utara dulu lae..biar otak kaw tu jalan lae..

  3. BACAK DULUK YANG CERMAT… ITU PATUNG DIBUAT SUPER TINGGI&BESAR MENGALAHKAN PATUNG JENDERAL SUDIRMANLAH SBG #PahlawanIndonesia Asli YG HARUS DIKEDEPANKAN “BUKAN DEWA PERANG GAK JELAS GITU”… JIKA DIBUAT DI LENTENG2 ATO T4 IBADAH KEPERCAYAAN AGAMA SI PATUNG ITU SILAHKAN AJA… LAH INI DI TUBAN, JLN RAYA, OPO MAKSUDNE?????!… JADI SIAPA YANG LEBAY DAN KURANG JALAN2?????

    • emang lucu banget. hanya di indonesia, soal patung saja kemudian jadi kontroversi. bahkan Mui tuban ikut campur. padahal itu patung dibuat di dalam sebuah kelenteng….bukan di tempat umum. situ baca dulu yg jelas

      • Sama bro gua orng tuban jadi tahu kalo nih patung dibangun di tanah klenteng jadi gk salah dong, masak bangun patung pahlawan di klenteng ya kalo tuh pahlawan keturunan la kalo nggak, gk malah jadi masalah nantinya.

    • Patung ino terletak di dalam klenteng. Tempat sembahyang umat yg mempercayainya. Jd saya rasa nggak salah kalopun di bangun disana. Karena itu hak dr mereka sndiri. Dan perlu diketahui patung itu bukan patung perang cina atau patung yg berasal dr cina atau patung pahlawan cina atau apapun tentang negara cina. Patung itu adalah patung yg dianggap kepercayaan umat trsbt. Jd tolong cari tahu yg benar sebelum berkomentar atau membuat tulisan.

  4. BTUL TUH DASAR PADA BEGOK CINA MINTA DI GUSUR KAYANYA PERLU ADA REVOLUSI PART 2 NIH BIAR CINA GA NGINJEK2 BANGSA INDONESIA

    • Ngeri x bos bahasa ny wkkwkw cina ga kyk dulu lg bos skrg yg bisa di injak2 kyk yg u bilang mikir dulu klu mau sara ga usah bawa2 suku ckckkx kau kira cina minta makan ama kai tolol x kalau lau bicara ckckkc ga pernah makan bangku sekolah ya kau

  5. lucu banget. hanya di indonesia, soal patung saja kemudian jadi kontroversi. padahal itu patung dibuat di dalam sebuah kelenteng….bukan di tempat umum. pake duit sendiri, bukan hasil korupsi. lucu dan ndeso

  6. Patung cina kok di tuban ,patung dewa cina kok di indonesia ,,,apa2an ini..?jadi xg tertinggi se asia tenggara pula….
    Lebih baik bangun tokoh daerah ,tokoh pahlawan atau ikon tuban ,itu menurut saya ,bagaimana menurut anda…?

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here