Paus Fransiskus Dorong Kanselir Jerman Menggalakkan Kerja Sama Internasional

0
60
Paus Fransiskus menerima kunjungan Kanselir Jerman Angela Merkel di Vatican, 17 Juni, 2017. Foto: REUTERS

Nusantara.news, Vatikan Jerman sebagai ‘sokoguru’ Uni Eropa merasa perlu mendapat dukungan berbagai kalangan untuk menggalakkan kembali segala bentuk kerja sama internasional setelah Amerika Serikat meninggalkan sejumlah bentuk kesepakatan internasional, salah satunya tentang Kesepakatan Iklim Paris.

Kanselir Jerman Angela Merkel beberapa waktu lalu mengatakan, Uni Eropa tidak bisa lagi bergantung kepada Amerika Serikat, negara yang selama ini dianggap sebagai “pemimpin” dalam kesepakatan-kesepakatan global. Pernyataan itu untuk menyikapi Presiden AS yang baru Donald Trump yang akan menarik diri dari Kesepakatan Iklim Paris, setelah sebelumnya menunjukkan komitmen AS yang tidak lagi kuat dalam pertemuan tingkat tinggi NATO di Brussels.

Jerman, bersama aliansi negara-negara maju lainnya seperti Prancis, China, Inggris atau yang dikenal dengan kelompok G-20, harus merajut kembali aliansi yang telah dibangun, setelah cedera oleh sikap Donald Trump.

Dalam pertemuan selama sekitar 40 menit dengan Paus Fransiskus di Vatikan, Sabtu (17/6), Kanselir Merkel mendapat dorongan dari pemimpin umat Katolik itu untuk terus berjuang demi kesepakatan Perubahan Iklim Paris dan untuk “meruntuhkan tembok” yang telah menghambat kerja sama internasional. Dorongan Paus, tentu kontras dengan agenda dan kebijakan AS saat ini.

Sebagaimana diketahui, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bulan ini bahwa dia akan menarik diri dari kesepakatan global di Paris tahun 2015 untuk memerangi perubahan iklim, keputusan yang telah membuat marah para pemimpin dunia.

“Paus mendorong saya untuk melanjutkan dan memperjuangkan kesepakatan internasional, termasuk kesepakatan Paris,” kata Merkel kepada wartawan, sebagaimana dikutip Reuters, Sabtu (17/6).

Kanselir Merkel, yang akan menghadapi pemilihan umum pada bulan September nanti, mengatakan bahwa Paus menyatakan dukungannya untuk agenda ekonomi negara-negara G-20, yang akan mengadakan pertemuan puncak di Hamburg, Jerman bulan depan.

“Agenda ini (G20) mengasumsikan bahwa kita adalah bagian dari dunia, dimana kita bekerja sama melalui kerja sama multilateral,” kata Merkel tentang diskusi dengan Paus.

“Ini adalah dunia dimana kita ingin ‘merobohkan dinding’ dan ‘tidak malah membangunnya’, dan dimana kita semua mencari kemakmuran, kekayaan, kehormatan dan martabat bagi umat manusia,” urai Merkel.

Trump, dalam kampanye presidennya tahun 2016 lalu telah berjanji untuk membangun tembok di sepanjang perbatasan antara AS dan Meksiko, dia juga telah menarik diri dari sejumlah kerja sama multilateral seperti Trans-Pasific Partnership (TPP), kesepakatan ulang dengan North American Free Trade Agreement (NAFTA), dan lain-lain. Trump yang mengklaim dirinya populis, dan berlatar belakang pengusaha menginginkan perjanjian antara AS dan negara-negara lain dilakukan secara bilateral. Trump juga ingin melakukan renegosiasi dengan sejumlah negara yang menurutnya merugikan AS (dimana AS mengalami defisit perdagangan).

Vatikan mengatakan bahwa isu-isu yang menjadi kepentingan bersama dibahas antara Paus Fransiskus dan Kanselir Merkel, termasuk kebutuhan masyarakat internasional untuk fokus memerangi kemiskinan, kelaparan, ancaman global terorisme dan perubahan iklim.

Kendati dalam sejumlah pandangan antara Paus Fransiskus dan Donald Trump terdapat perbedaan tapi Paus menyambut baik kunjungan Presiden AS itu ke Vatikan pada Mei lalu. Paus dan Trump memang bertentangan pendapat mengenai berbagai isu, termasuk soal kebijakan imigrasi, perubahan iklim dan pengungsi.

Pandangan kedua pria tersebut selalu bertabrakan dari awal tahun lalu. Misalnya ketika Paus Fransiskus secara tajam mengkritik kampanye pemilihan Trump yang ingin membangun tembok di perbatasan  Meksiko dan pernyataannya bahwa Amerika Serikat harus mengusir imigran dan pengungsi Muslim.

“Seseorang yang berpikir hanya tentang membangun tembok, di mana pun mereka berada, dan tidak membangun jembatan, bukanlah orang Kristen,” kata Paus Fransiskus ketika itu.

Paus juga telah menjadi pembela bagi para imigran dan membantu para pengungsi, terutama mereka yang melarikan diri dari perang dan kekerasan di Suriah, yang menganggapnya sebagai “perintah moral” dan “tugas Kristen” untuk membantu.

Sebaliknya, Trump saat itu dengan berani membalas pernyataan Paus tersebut dengan menyebutnya bahwa Fransiskus “tercela” karena meragukan keimanan-nya.

Di Vatikan, Trump dan Paus Fransiskus bertemu di perpustakaan pribadi Paus. Keduanya melakukan diskusi pribadi dengan ditemani seorang penerjemah. Trump mengakhiri pertemuan dengan Paus ketika itu dengan bertukar hadiah.

Kunjungan Trump ke Vatikan waktu itu disambut sejumlah demonstrasi kecil. Sejumlah aktivis perubahan iklim membawa poster besar bertuliskan, “Planet Bumi Pertama” di kubah besar Basilika Santo Petrus di Vatikan saat Trump tiba di Roma. Ini sebagai protes “America First”-nya Trump. Kunjungan Trump ke Vatikan bulan Mei lalu itu merupakan bagian dari perjalanannya sebagai presiden AS, Trump mengunjungi Vatikan setelah mengunjungi Arab Saudi, Israel dan Palestina. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here