Dominasi Cina (2)

PDB Cina Rp281.162 Triliun, 23 Kali Lipat Indonesia

0
3850
Ilustrasi: Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Cina Xi Jinping di depan Gerbang Brandenburg Berlin, Jerman, (4/7). ANTARA FOTO via REUTERS

Nusantara.news – Setelah menerapkan One State Two Systems, negara Cina menjelma menjadi negara kapitalis. Strategi Cina menghadapi kapitalisme global, karena Mao Zedong, Jiang Zemin, dan sekarang Xi Jinping berpikir kapitalisme tidak dapat dilawan, dan One State Two Systems adalah cara terbaik Cina beradaptasi dengan sistem kapitalisme global.

Penerapan sistem secara internal di negaranya menggunakan sistem komunis, agar mata rantai kendali mudah, cepat, dan efisien. Sementara, untuk perdagangan internasional menggunakan sistem kapitalisme, dunia menyebutnya state capitalism.

Hasilnya, selama tiga dekade ekonomi Cina tumbuh dua digit, dan setelah 2012 tumbuh satu digit. Tahun 2014 sebesar 7,3%; tahun 2015 sebesar 6,9%; dan tahun 2016 tumbuh 6,7%.

Lalu, PDB (Produk Domestik Bruto)/GDP (Gross Domestic Product) Cina berapa?

Di tahun 2016 GDP Cina sebesar USD 21,14 triliun atau setara Rp 281.162 triliun. Bayangkan, pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia di tahun 2016 sebesar 5,02%. Jumlah PDB di tahun 2016 mencapai Rp 12.406,8 triliun. Jadi, perbandingan PDB Indonesia dengan PDB Cina sekitar 1/22,6.

PDB Cina tertinggi di dunia, namun untuk PNB (Produk Nasional Bruto)/GNP (Gross National Product) masih jauh dibanding negara mapan, karena harus dibagi jumlah penduduknya yang mencapai hampir 1,4 miliar jiwa.

Revolusi Cina untuk membangun industri dalam negeri dimulai awal tahun 1978; pembangunan terpadu di bidang pertanian, liberalisasi harga sebagai keunggulan bersaing (competitive advantage) dalam perdagangan dunia, privatisasi mulainya swastanisasi, membangun pasar saham dan modern banking seperti ICBC dan China’s Construction Bank yang menjadi salah satu bank terbesar dunia.

Keberhasilan Cina menjadi negara terbesar WTO (World Trade Organization) pada tahun 2014, dan pada tahun 2015 Yuan/RMB menjadi SDR (Special Drawing Rights), serta puncaknya pada pertemuan negara-negara G-20 di Hamburg, Jerman beberapa waktu lalu, posisi Xi Jinping (Cina) mengalahkan pamor Presiden Donald Trump.

Cina sangat berpotensi mengalahkan AS secara ekonomi, dengan pertumbuhan 6,7% di tahun 2016 dan diperkirakan 6,6% di tahun 2017. Bisa ditakar bahwa Cina akan segera mengungguli negeri Paman Sam itu secara ekonomi, setelah 2014 unggul di perdagangan dunia.

Ekspor dan Impor

Sebagai negara nomor 1 WTO, nilai ekspor Cina tahun 2015 mencapai USD 2,143 triliun, dan tahun 2016 mencapai USD 2,098 triliun akibat melambatnya perekonomian dunia. Cina unggul pada komoditi mesin dan elektrik, pakaian, furniture, tekstil yang menjadikan Amerika Serikat (18%), Hong Kong (14,6%), Jepang (6%), dan Korea Selatan sebagai negara tujuan. Sementara impor di tahun 2016 mencapai USD 1,587 triliun, naik sedikit dibanding tahun 2015 sebesar USD 1,576 triliun.

Adapun sektor yang diimpor antara lain: minyak dan bahan bakar mineral, reaktor nuklir, ketel (boiler), komponen optik dan medis, mesin dan komponen mesin, bijih logam (metal ores), kendaraan, dan kedelai. Negara pengimpor: Korea Selatan sebanyak 10,9%, Amerika Serikat (AS) sebanyak 9%, Jepang sebanyak 8,9%, Jerman sebanyak 3,5%, dan Australia sebanyak 4,1%.

Jelas neraca pembayaran dan perdagangan positif, karena produk Cina dengan harga murah sukses mengedukasi masyarakat AS di bidang elektronik dengan murah dan masa pakai pendek, karena teknologi berkembang cepat. Perubahan gaya hidup masyarakat AS terhadap peralatan rumah tangga elektrik karena terpacu produk-produk Cina sangat mengganggu produk elektronik Jepang yang berharga premium.

Peluang ini justru diambil oleh produk-produk elektronik Korea Selatan seperti Samsung yang menjadi No.1 di AS dan juga di dunia. Tiga negara macan Asia saat ini menguasai pasar elektronik dunia. Jepang di kelas atas, Korea Selatan di kelas menengah, dan Cina di masyarakat kelas bawah.

Cadangan devisa Cina terbesar di dunia, USD 3 triliun atau Rp 39.900 triliun dibanding Indonesia USD 110 miliar atau Rp 1.463 triliun (27 kali lebih besar dari cadangan devisa Indonesia).

Inflasi Cina di tahun 2016 hanya 2%, terdapat kenaikan karena pada tahun 2015 hanya 1,4%. Salah satu problem Cina adalah masalah SDM (Sumber Daya Manusia), kaitannya dengan tenaga kerja di tahun 2016, sekitar 4% atau 56 juta orang. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya 11% atau 27 juta orang.

Oleh karena itu, pemerintah Cina mempunyai problem sekitar 300 juta orang dengan kategori miskin. Dengan skema Turnkey Project Management sebagai skema investasi dimana mulai dari investasi, manajemen dari top level sampai buruh, teknologi, dan pengelolaan menggunakan sumber daya dari Cina. Hal ini merupakan strategi pengendalian SDM sekaligus pengurangan angka kemiskinan. Jika tercapai dalam 5 tahun ini, diperkirakan Cina akan menjadi negara ekonomi terbesar di dunia. Apalagi jika bisa mengurangi jumlah penduduk miskin termasuk dengan migrasi ke luar negeri.

Hal ini dapat terjadi jika pertumbuhan ekonomi Cina tetap tumbuh 6%, sementara AS hanya tumbuh 2,5%. Sekutu-sekutu AS juga mulai meninggalkan Donald Trump seperti di Asia, misalnya: Jepang, Korea Selatan, dan Eropa; sementara Inggris sibuk dengan Brexit dan pertumbuhan ekonomi di bawah 0,%. Jerman menguat, dan di dalam negeri pengusaha berbasis Yahudi sebagai sokoguru Trump belum pulih ekonominya, seperti: JP Morgan, Goldman Sachs, Lehman Brothers, Rockefeller, Exxon, Newmont, Freeport, Texaco, Stanvac, Wallmart, belum mampu mengungguli Cina.

Persekutuan poros Cina, Jeman, dan Rusia vs. America Serikat

Proxy War setelah runtuhnya Uni Soviet berganti menjadi AS vs. Cina. Walau AS menjadi ekonomi dan militer kekuatan No.1 dunia tapi di perdagangan setelah tahun 2014 Cina unggul. AS setelah Trump dikucilkan, bukan lagi sebagai Negara No.1 di dunia. Eropa yang dahulu dikuasai Inggris saat ini dikuasai Jerman yang notabene anti-Yahudi. Terbukti, pada Pertemuan G-20 di Hamburg, Kanselir Jerman Angela Merkel, “mempermalukan” Trump.

Hal ini karena Inggris relatif gagal di Brexit, sehingga saat ini dalam keadaan bimbang antara tetap keluar dari Uni Eropa atau kembali bergabung.

Trump yang pada awalnya ingin bersekutu taktis dengan Rusia berubah menjadi skandal, dan berekses pada buruknya hubungan dengan Vladimir Putin saat ini. Secara Ideologi XI Jinping yang ditekan soal Korea Utara dan Vladimir Putin merasa dikhianati oleh Trump, saat ini bersekutu menghantam AS.

Persekutuan tiga negara besar membuat posisi AS saat ini tidak kondusif karena kebijakan Trump tetang “America First”, sehingga AS terkucil dari pergaulan internasional.

Dalam geopolitik dan geostrategi politik, Trump juga sangat buruk. Mulai dari melarang penduduk dari 7 negara mayoritas Muslim (ditolak kongres/peradilan AS), tidak mengakui perjanjian nuklir Iran tahun 2015 yang disetujui Obama bersama Inggris, Prancis, Cina, Rusia dan Jerman, membiarkan Israel kembali berulah di Masjid Al Aqsa, dan terakhir “memalak” Arab Saudi (USD 15 miliar) dan Qatar (USD 12 miliar) untuk pembelian alutsista. Hal ini kembali memanaskan situasi politik dan keamanan di Timur Tengah.

Di Asia, dengan ulah Korea Utara, Trump meminta Cina memaksa Korea Utara untuk menghentikan uji coba rudal jelajahnya. Korea Utara justru menantang bahwa rudal jelajahnya akan mencapai benua AS jika diserang. Cina merasa tidak nyaman dengan desakan Trump karena Korea Utara adalah negara merdeka yang mempunyai kedaulatan sendiri.

Cina “curhat” dengan Rusia dan Jerman yang juga mengalami nasib yang sama dan akhirnya mereka bersinergi.

Cina di Indonesia

Meikarta dari Lippo Group tentu tidak boleh dipandang sebelah mata, karena akan membuat kota kembaran Shenzhen di Lippo Cikarang seluas 500 hektare dengan 278 towers (masing-masing lebih dari 40 lantai). Dengan rencana 50 juta meter persegi, tahap awal 22 juta meter persegi, tentu bukan proyek properti biasa. Jika Shenzhen di Cina yang menjadi patokan dan 60% wilayah tersebut adalah milik pengusaha Cina, dan Lippo Group konsorsium sisanya.

Meikarta diklaim sebagai kota terlengkap, terindah, dan termegah di Asia Tenggara, tidak saja sebagai hunian, tapi juga sebagai kota industri. Tapi mengherankan, kok Pemerintah Kota Bekasi dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak mengakui keberadaannya. Wakil Gubernur Jawa Barat yang juga kandidat Gubernur Jawa Barat 2018, Deddy Mizwar, meradang atas ulah Lippo Group yang melangkahi perijinan. Tapi melalui humasnya, Lippo berdalih belum mulai membangun, padahal warga sekitar lokasi sudah berdemonstrasi, akibat ribuan truk keluar masuk setiap hari di kawasan itu.

Kurang elok, Meikarta sudah ditegur oleh Wakil Gubernur Jawa Barat malah bereaksi dengan memasang iklan besar-besar di media cetak, minimal 5 halaman setiap hari dan intensif di televisi. Di sini martabat pemerintah dipertaruhkan. Jangan sampai, kasus ini memancing penolakan masyarakat lebih luas seperti halnya proyek reklamasi di DKI Jakarta.

Isu toleransi dan intoleransi memang selalu terjadi beriringan dimana negara Cina berinvestasi, seperti di Zimbabwe, Angola, Sri Lanka, dan Pakistan, begitu pula di Indonesia.

Terpenting, jangan sampai kita terjebak dengan isu playing victim, sementara arus deras dari mereka para “God Father” oligarki di Indonesia. Kita tentu harus banyak belajar dari  kasus Ahok dan reklamasi Jakarta tempo hari. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here