PDIP Akan Tinggalkan Petahana Bangkalan Warisan Fuad

0
71

Nusantara.news, Bangkalan – Warisan masa lalu Makmun Ibnu Fuad bakal menjadi sandungan dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bangkalan 2018. Soliditas koalisi partai politik yang sukses mendorong Ra Momon, panggilan akrabnya ketika bertarung di Pilkada 2013, tak bisa dibendung dua pasangan rivalnya kala itu.

Kini, soliditas itu tergerus dinamika politik dan hukum. Antara lain terjadi pergantian rezim pemerintah dari Demokrat ke Koalisi Indonesia Hebat (KIH) pasca Pilpres 2015 yang dimotori PDI Perjuangan. Kemudian ada  jerat hukum KPK kepada Fuad Amin, figur kuat di Bangkalan yang juga ayah Ra Momon. Kedua hal ini  menjadi momen bagi PDI Perjuangan untuk berpaling.

Sinyal itu bahkan sudah diletupkan Soeyitno, Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPRD Bangkalan. “Instruksi partai, kami akan mengusung kader sendiri di 2018. Kami siap berkoalisi dengan partai lain untuk memuluskan langkah ini,” terangnya kepada media, Selasa (9/5/2015).

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bangkalan Fatkurrahman bahkan sudah dimunculkan sejak acara konsolidasi internal partai di awal April 2016. Rencana itu tentu bakal diikuti dengan agenda pemenangan yang sudah dijalankan sejak ada instruksi. “Seperti pasang banner di desa-desa untuk mendongkrak elektabilitas,” cetusnya.

Sekarang tinggal bagaimana PDI Perjuangan mencari kawan untuk diajak koalisi. Mengingat, butuh tambahan 3 kursi lagi untuk memenuhi persyaratan 10 kursi di legislatif untuk mengusung Fatkurrahman. Apalagi hampir semua partai yang memiliki keterwakilan di legislatif Bangkalan punya misi serupa, melepaskan diri dari koalisi.

Sinyal kedua datang dari anggota Fraksi gabungan PKS-Golkar Musawwir yang bisa jadi representasi sikap dua parpol tersebut. Nadanya bahkan lebih keras, tidak mau jatuh di lubang yang sama dua kali. “Hasil pengawasan kami (legislatif), banyak persoalan yang terjadi. Termasuk mekanisme dan realisasi APBD yang tidak jelas. Bupati tidak paham dengan aturan menjalankan roda pemerintahan,” ketanya.

Minimnya perubahan selama kepemimpinan Ra Momon, menjadi salah satu dasar sikap Musawwir untuk tidak lagi mendukungnya. “Saya rasa, itu sudah cukup buat jadi bahan pertimbangan kepada anggota dewan yang lain,” ujarnya beberapa waktu lalu. “Jika belum paham pemerintahan sekolah dulu sajalah, jangan coba-coba mencalonkan diri jika belum mampu kalau tidak ingin berdosa,” tambahnya.

Menurut dia, peran parpol sangat besar dalam menentukan hasil akhir sebuah pemerintahan. Terutama terkait rekrutmen calon yang membuat roda pemerintahan berjalan dengan baik. “Ya, ini cara perekrutannya saja tidak baik, jadi wajar jika melahirkan pemimpin yang tidak baik seperti sekarang ini,” ujarnya.

Sejak Ra Fuad menghuni sel tahanan KPK, Bangkalan memang sempat dalam kondisi gelap. Kendati statusnya bukan lagi sebagai bupati, namun pengaruhnya cukup kuat. Termasuk di lingkungan parpol. Tak heran, Ra Fuad ketika lolos jadi anggota legislatif, melenggang mulus memimpin Ketua DPRD mendampingi anaknya yang duduk sebagai pimpinan eksekutif.

Namun pengaruh itu kini pudar. Pudarnya pengaruh ini harus bisa dimanfaatkan seluruh elemen politik setempat agar Bangkalan bisa mengejar ketertinggalan pembangunan dengan kota tetangga Surabaya dalam mensejahterakan warganya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here