PDIP Belum Pasti Usung Gus Ipul

0
131
Tri Rismaharini, Khofifah Indar Parawansa, Saifullah Yusuf

Nusantara.news, Surabaya – Sampai saat ini Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)  belum menentukan sikap akan mengusung Kofifah Indar Parawansa atau Saifullah Yusuf alias Gus Ipul sebagai bakal calon gubernur (bacagub) pada Pilgub Jatim 2018 mendatang. Walau Gus Ipul bersama sejumlah nama lain secara resmi sudah mendaftar melalui DPD PDIP, namun hingga saat ini belum ada kepastian kepada siapa PDIP akan memberikan rekomendasi.

Siapa yang layak mendapat rekomendasi PDIP?

Menurut Mochtar W Oetomo, dosen Fisip Univesitas Trunojoyo dan juga mengajar di Unitomo Surabaya, Jatim tidak hanya butuh gubernur yang memiliki dukungan kuat, tetapi juga sosok yang memiliki dan bisa menjabarkan visinya untuk kemajuan Jatim menjadi lebih baik. “Jatim membutuhkan sosok calon gubernur yang visinya jelas,” ujar Mochtar, Sabtu (7/10/2017).

Oleh sebab itu, yang perlu digali dari bakal calon Gubernur Jatim adalah apa gagasan besar mereka sebagai Cagub Jatim yang dapat memajukan dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat Jatim.

Dia mencontohkan saat di Pilgub DKI Jakarta yang kental dengan perang gagasan antar kandidat. Saat itu, sangat terasa sekali sampai-sampai publik ikut terlibat dalam diskusi gagasan. Seperti misalnya soal DP (down payment) rumah yang nol persen. Kemudian program 1 RW (Rukun Warga) akan dikucurkan anggaran Rp1 miliar, soal reklamasi dan lain sebagainya.

“Menurut saya, di Jatim ini sampai sekarang kita tidak pernah melihat apalagi terlibat dalam diskusi gagasan seperti itu,” urai Direktur Eksekutif Surabaya Survey Center (SSC) itu.

Harusnya gagasan itu yang menjadi acuan masyarakat. Gagasan itu pula yang harus menjadi acuan partai untuk mengusung seseorang. Jadi ada tiga hal yang harus dilihat. Pertama, sosok mana yang jujur dan bersih. Kedua sosok mana yang merakyat. Ketiga, sosok mana yang memiliki gagasan yang visioner.

Khofifah Cerdas dan Visioner

Sejauh ini, menurut Mochtar, dalam berbagai hasil survei Gus Ipul cenderung dipersepsikan publik sebagai sosok yang merakyat dan friendly. Sementara Khofifah Indar Parawansa (KIP) dipersepsikan cerdas dan visioner.

Dari segi pengalaman, baik Gus Ipul maupun Kofifahdinilai memiliki pengalaman. HGus ipul berpengalaman sebagai sebagai Wakil Gubernur Jatim mendampingi Soekarwo, sedanga Kofifah berpengalaman sebagai menteri. Tetapi, kalau mau jujur sejauh ini tidak muncul apa sebetulnya kinerja fenomenal mereka.

Gus Ipul dinilai hanya sebagai ‘ciptaan’ Pakde Karwo. Sementara program-program Kemensos banyak dipersepsikan publik terlalu fokus pada program bantuan, hibah dan sejenisnya. “Jadi belum ada program terobosan yang bersifat penguatan dan pemberdayaan, termasuk untuk masyarakat Jatim. Seharusnya, saat inilah waktunya bagi mereka untuk menyampaikan gagasan-gagasan besarnya, memaparkan berbagai program untuk menjadikan Jatim lebih baik, kepada publik dan bisa meyakinkan.

“Dengan pengalaman yang dimiliki, publik harus tahu apa sebenarnya visi mereka ke depan untuk Jatim yang lebih aman, maju dan sejahtera,” lanjut Mochtar.

Untuk kriteria satu dan dua, mungkin sudah dan bisa ditunjukkan oleh GI atau KIP. Sementara, untuk kriteria ketiga mereka perlu merumuskan gagasan besarnya dan menyampaikan secara intens ke publik melalui berbagai forum dan media.

Kepada Siapa Rekomendasi PDIP Diberikan

Mochtar W Oetomo

Menurut Mochtar, dengan kondisi seperti saat ini, maka PDIP atau partai kepala banteng moncong putih dipastikan akan menunggu kepastian siapa saja koalisi pengusung Kofifah, termasuk juga akan menunggu siapa yang akan dipasangkan dengan Ketua Umum PP Muslimat NU yang juga Menteri Sosial itu.

Dengan begitu, PDIP akan lebih dulu mengkalkulasi kemungkinan menang sebagai pijakan. Siapa yang akan menang antara Gus Ipul atau Kofifah. Ukurannya adalah siap wakil dan koalisi partai pendukung. Kalau koalisi partai poendukung tidak baik, bakal calon wakil juga tidak menjual, maka PDIP teidak tertutup kemungkinan mengusung calon sendiri seperti  Walikota Surabaya Tri Rismaharini atau Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat.

“Oleh sebab itu rekomendasi PDIP yang biasanya keluar  di injury time  dapat dibenarkan, sebab kepastian koalisi partai dan bakal calon wakil juga terjadi pada akhir waktu pendaftaran.

Kader Internal atau Eksternal

Pengurus harian DPD PDIP, Kusnadi (sebagai Ketua), Sri Untari (sebagai Sekretaris), Budi ‘Kanang’ Sulistyono yang saat ini menjabat Bupati Ngawi, ramai-ramai menyambut kedatangan Gus Ipul saat pendaftaran. Walau demikian, potensi DPP PDIP merekomendasikan calon di luar Gus Ipul cukup besar. Karena, di internal PDIP juga ada tokoh lain yang tak kalah populis dan elektabilitasnya tinggi seperti Tri Rismaharini.

Surabaya Survey Centre (SSC) mencatat, di periode 10-30 Juni 2017, meski menyatakan tidak akan maju di Pilgub Jatim, tetapi elektabilitas Risma mencapai 24,10 persen. Angka itu selisih dua poin dengan Gus Ipul yang memperoleh 26,60 persen.

Peningkatan angka survei yang didapat Risma itu sangat luar biasa. Sebab, beberapa bulan sebelumnya, Risma hanya di urutan ketiga setelah Gus Ipul dan Kofifah. Bahkan, akseptabilitas Risma berada di peringkat tertinggi mengungguli Gus Ipul dan Kofifah. Angka yang didapat Risma 75,80 persen, sedangkan Gus Ipul 75,50 persen, sementara Kofifah 67,90 persen.

Perangai Risma yang gampang marah-marah, justru disukai. Itu menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap Risma cukup tinggi. Masyarakat Jatim melihat Risma sebagai pribadi yang jujur dan tegas.

Selain Risma, nama bakal calon yang juga patut diperhitungkan tentu saja adalah Kofifahadalah karena popularitas KIP masih teratas mengungguli Gus Ipul.

Dalam berbagai kesempatan Risma bersikukuh mengatakan dirinya tidak maju pada Pilgub Jatim 2018. Meski banyak faksi di PDIP Jatim menginginkan dirinya maju di Pilgub Jatim.

“Enggak lah, saya enggak maju di Pilgub Jatim. Saya di Surabaya saja,” tegas Risma usai mengikuti Presentasi Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (DIKPLHD) di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Sabtu, (8/7/2017). Risma mengaku sikap politiknya itu telah disampaikan kepada Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here