PDIP Pertimbangkan Bupati Ngawi Gantikan Anas

0
252
Bupati Ngawi Budi Sulistyono atau akrab disapa Kanang.

Nusantara.news, Ngawi – Percaturan panggung politik Jatim 2018 mulai menghangat meski banyak pihak memprediksi tak sepanas perebutan kursi kepala daerah DKI Jakarta 2017. Namun menjelang dimulainya pesta demokrasi Pilkada serentak yang digelar pada 27 Juni 2018, kursi Pilgub Jatim nampak makin kinclong untuk diperebutkan.

Di sini skema politik mulai dimainkan. Saling jegal, saling pukul, saling tendang dan adu jurus diperlihatkan. Dua hari jelang masa pendaftaran Cagub dan Cawagub Jatim, mendadak duet Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Abdullah Azwar Anas (Anas) kandas. Badai datang menerjang.

Anas ibarat kapal pecah. Dia terseret ombak. Jauh terombang-ambing dengan foto paha mulus seorang perempuan. Ujung-ujungnya, mandat rekomendasi dari Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dikembalikan.

Isu berembus kencang. Siapa dan apa yang melatarbelakangi kampanye negatif dilakukan terhadap Anas. Banyak yang menyayangkan, banyak pula yang mendukung. Yang menyayangkan tentu tidak terima jagoannya diperlakukan tidak manusiawi seperti itu. Yang mendukung tentu beralasan ‘lebih baik dibongkar dan mengetahui sifat asli calon pemimpin daripada terlambat’.

Sekarang, PDIP masih mencari pengganti Anas. Ada politisi yang mulai mendekat dan menawarkan sosok Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni. Kemudian muncul wacana memasukkan Ketua DPW PKB Halim Iskandar atau kakak kandung Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

Tapi, Megawati sepertinya tidak tertarik. Sebab, dia hanya mau calon pendamping Gus Ipul dari kader sendiri. Pasalnya kandidat dari Nahdlatul Ulama (NU) sudah ada. Gus Ipul bisa dibilang sudah mewakili NU dan PKB. Sementara PDIP sebagai partai pengusung merasa harus diberi porsi.

Apakah pilihannya jatuh Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Risma)? Untuk yang satu ini PDIP tidak mau mengambil risiko. Menduetkan Risma dengan Gus Ipul terlalu beresiko. Kendati elektabilitas dan popularitas tinggi, bahkan melebihi kandidat lain, namun Risma musuhnya banyak. Masalahnya seabrek di Kota Surabaya. Itu belum yang terekspos media. Kampanye negatif bakal mewarnai perjalanan duet tersebut nantinya. Celaka PDIP.

Risma sendiri dikabarkan sudah menolak. Meski sebenarnya PDIP bisa memaksa Risma karena sebagai ‘petugas partai’ semua kader harus tunduk pada aturan. Penolakan Risma juga menjadi bahan pertimbangan. Partai pengusung harus berpikir dua kali untuk mengusungnya.

Lalu siapa pengganti Anas? Saat ini ada nama Bupati Ngawi Budi Sulistyono atau akrab disapa Kanang. Dari informasi yang berhembus, tiket rekomendasi Megawati bakal jatuh ke Kanang. Selain kader PDIP, Kanang juga menjabat kepala daerah di wilayah Mataraman. Dibandingkan dengan Ipong, Risma dan Anas, nama Kanang tidak kalah dengan mereka.

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, Kanang sangat aktif menyambangi warga pelosok. Tidak hanya menjaring keluh kesah persoalan yang membelit masyarakat, dia juga mengajak warga menanam.

Ya, pria yang akrab disapa Kanang itu tidak canggung memegang cangkul untuk ikut menanam di pekarangan rumah dan lahan kosong. Maklum, alumnus Fakultas Teknik UGM tersebut memang berasal dari keluarga petani.

Tak berhenti di situ saja. Taman kota juga tidak luput dari sentuhan penghijauan. Kawasan terbuka Alun-Alun Merdeka yang dulu gersang dan kering kerontang kini menghijau. Berbagai tanaman tertata rapi dan subur. Kawasan itu dijadikan sebagai pusat aktivitas warga untuk melepaskan kepenatan dan bermain dengan anak-anak.

Kanang menjelaskan, sudah ratusan ribu bibit tanaman yang tersebar di pekarangan warga dan lahan kosong. Setiap pekan dia menyinggahi permukiman warga sambil membawa bibit tanaman. Mayoritas tanaman produktif sekarang ini getol digalakkan. Antara lain, kelengkeng, durian, pepaya, dan rambutan. Sebagian kawasan Ngawi, khususnya di lereng gunung Lawu, cocok untuk jenis tanaman tersebut. “Dengan penghijauan ini, Ngawi bisa swasembada buah ke depan,” jelas pria yang juga akrab disapa Mbah Kung itu.

Bahkan, upaya menghijaukan Ngawi tersebut sudah dilirik pemerintah pusat. Kanang pernah menjadi narasumber dan pembicara dalam program penghijauan yang diikuti bupati dan wali kota se-Indonesia di Jakarta pada pertengahan tahun lalu. Sebab, Ngawi dinilai konsisten dalam penyelamatan lingkungan melalui penghijauan dengan 100 persen go green. Ngawi pun dibuat Ijo Royo-Royo.

Tidak hanya soal penghijauan dan penataan ruang terbuka hijau (RTH), Kanang juga menerapkan zona dalam mengeksplorasi potensi di bidang pertanian dan peternakan. Dua potensi tersebut memiliki kesempatan besar untuk go international. Sebut saja melon yang sudah mampu menembus pasar Asia. Bahkan Pemkab Ngawi sudah mengembangkan beras organik untuk pasar bebas ASEAN (MEA).

Karena itulah sangat layak kalau Kanang mendapat jatah tiket rekomendasi. Boleh jadi ini memang pas dengan visi dan misi PDIP. Apalagi sejak awal Gus Ipul dan Kanang terlihat melakukan manuver politik untuk menjaring dukungan. Hubungan kedua orang ini terlihat makin ‘nyambung’ bicara politik Jatim.

Kanang sendiri belum memberi tanggapan terkait tiket rekomendasi tersebut. Maklum, dia sekarang sedang berada di Jakarta. Kemungkinan Kanang dipanggil Megawati untuk mendapatkan tiket rekomendasi tersebut.

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto menyatakan akan mengumumkan nama pengganti Anas berbarengan dengan pendaftaran resmi pasangan cagub-cawagub Jatim ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Katanya, sebagai kejutan terhadap lawan yang telah melakukan politik hitam. Namun, Hasto masih merahasiakan kapan waktu PDIP akan mendaftarkan pasangan cagub-cawagub Jatim ke KPUD. Saat Alasannya, PDIP masih menunggu momen yang tepat untuk melakukan pendaftaran. Saat ini pendaftaran Cagub dan Cawagub Jatim sudah dibuka mulai 8-10 Januari 2018.

Adapun sosok yang mendampingi Gus Ipul, PDIP menginginkan sosok yang dapat bekerjasama dengannya dan mempunyai kapabilitas yang mumpuni di bidang pemerintahan. Setidaknya ada empat kriteria sosok pendamping Gus Ipul. Pertama, mampu bekerja sama dengan Gus Ipul. Kedua, memiliki kinerja yang baik. Ketiga, memiliki kepemimpinan yang cukup kuat untuk mampu menggalang dukungan rakyat. Keempat, adalah sosok yang bisa dipertanggungjawabkan dari aspek rekam jejaknya dan diterima oleh masyarakat.

Apapun hasilnya dan siapa yang mendapat rekomendasi, tentu semuanya telah dilakukan secara solid. Mundurnya Anas membuka peluang PDIP untuk memenangkan Pilgub Jatim 2018. Anas selama ini telah menjadi bola panas. Apabila pencalonannya diteruskan, bukan tidak mungkin PDIP akan keok lagi. Keputusan Anas mundur sudah tepat. Ya, daripada dia nantinya menjadi batu sandungan bagi PDIP.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here