PDIP-PKS Lanjutkan “Perang”, Golkar Berpeluang Besar Menangkan Pilgub Jabar

1
491

Nusantara.news, Jakarta – Pemilkihan Gubernur (Pilgub) atau Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Provinsi Jawa Barat yang digelar Juni 2018, berpotensi panas dan menegangkan seperti Pilkada DKI Jakarta yang final 19 April 2017.  Isu etnis China mungkin tidak akan muncul, tetapi isu Islam diperkirakan akan muncul kembali seperti di Pilakda DKI Jakarta.

Tiga Partai Poros

Ada 10 partai yang berhasil mendudukkan kadernya di DPRD Jabar pada Pemilu 2014 lalu. Yakni Nasdem (5 Kursi), PKB (7 Kursi), PKS (12 Kursi), PDIP (20 Kursi), Golkar (17 Kursi), Gerindra (11 Kursi), Demokrat (12 Kursi), PAN (4 Kursi), PPP (9 Kursi), Hanura (3 Kursi).

Dari 10 partai tersebut tiga partai kemungkinan besar akan jadi poros utama,  yakni poros Partai Golkar, poros PKS dan poros PDIP.

PDIP yang memiliki 20 kursi, menjadi satu-satunya partai yang bisa mengusung sendiri calon gubernur. Selebihnya harus menjalin koalisi.

Sebagai salah satu partai poros, PDIP mungkin masih akan mencari pasangan koalisi, baik untuk memecah kekuatan lawan maupun untuk memperkuat diri. Dengan siapa PDIP akan berkoalisi? Biasanya dengan PPP atau partai lain. Satu hal tampaknya sudah pasti, PDIP tidak akan mampu membujuk Partai Golkar berkoalisi, sebagaimanma terjadi di Pilkada DKI Jakarta.

Partai Golkar sendiri akan menjadikan dirinya sebagai satu partai poros. Sebab, Partai Golkar cukup mengakar di Jabar. Figur Dedy Mulyadi yang sampai saat ini masih calon favorit dari Partai Golkar, juga figur yang dinilai memiliki nilai jual tinggi di Jabar.

Kursi Golkar di DPRD Jabar mencapai 17. Ditambah kursi PAN yang bergabung dalam satu fraksi di DPRD Jabar, maka jumlahnya mencapai 21 kursi, cukup untuk mengusung satu pasang calon gubernur dan waklil gubernur . Rabu (26/4/2017) Ketua Umum PAN Zulkifly Hasan sudah bertemu dengan Ketua DPD Partai Golkar Jabar yang juga Bupati Purwakarta, Dedy Mulyadi. Dari pujian yang diberikan oleh Zulkifly kepada Dedy, maka koalisi Golkar dan PAN tampaknya sudah setengah matang, atau malah sudah matang.

Mungkin saja kedua partai ini akan memperluas koalisi dengan partai lain. Tetapi tujuannya tidak lagi sekadar memenuhi syarat mencalonkan pasangan calon gubernur, melainkan untuk memecah suara lawan sekaligus memperkuat diri.

PKS dapat dipastikan akan menjadikan diri sebagai salah satu poros dalam Pilkada Gubernur Jabar. Jumlah kursi PKS memeng hanya 12. Tetapi partai ini adalah jawara yang memenangkan Pilkada Jabar dua kali berturut-turut.

Sebagai partai poros, besar kemungkinan PKS akan melanjutkan koalisinya dengan Partai Gerindra karena sudah terbukti dahsyat dan berhasil menyingkirkan Ahok-Djarot yang diusung koalisi besar (PDIP, Golkar, PPP, PKB) pada Pilkada DKI putaran kedua 19 April 2017.

Gabungan kursi PKS dan Gerindra mencapai 23 kursi, cukup mngusung satu pasang calon.

Partai lain mungkin akan berkoalisi untuk mengusung satu pasang calon lagi.

Namun, dinamika Pilkada Jabar Juni 2018 mendatang akan bertumpu pada lakon yang dimainkan tiga partai utama, yakni Golkar, PKS dan PDIP.

Siapa Berpeluang Paling Besar?

Dinamika Pilkada Jabar Juni 2018 nanti diyakini akan terimbas dinamika politik yang mewarnai Pilkada DKI Jakarta. Adu canggih atau adu hebat program memang masih menentukan, tetapi proporsinya diyakini menurun, digantikan pertarungan ideologi sebagai penentu utama.

Oleh sebab itu, untuk memprediksi partai mana di antara tiga partai utama yang akan bertarung di Pilkada Gubernur Jabar 2018 mendatang yang berpeluang paling besar menang, harus dikembalikan pada pertanyaan, partai mana yang paling dekat dengan gerakan bandul politik saat ini.

Mengacu pada Pilkada DKI Jakarta, maka bandul politik condong ke kanan (Islam). Gerakan aksi damai 212, 411 yang dihadiri jutaan umat Islam dari berbagai daerah di Tanah Air, harus ditafsirkan sebagai kebangkitan Islam di Indonesia.

Menyitir pengamat politik dari Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Abdul Hamid, hadirnya umat Islam pada aksi 212 atau 411, tidak semata-mata untuk melampiaskan amarah terhadap Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang dituding menista agama di Kepulauan Seribu, melainkan bentuk ekspresi umat Islam Indonesia yang sudah jenuh dengan praktik berbangsa dan bernegara yang sekian lama diwarnai transaksi politik dan bisnis yang jauh dari unsur-unsur moral keagamaan.

Jangan tafsirkan kehadiran jutaan umat di aksi damai 211 atau 411 sebagai bentuk keinginan umat Islam mengganti ideologi negara Pancasila dengan Islam, karena kehadiran mereka adalah ekspresi kerinduan terhadap dihidupkannya nilai-nilai moral agama dalam nafas kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Inilah tren politik Indonesia saat ini, yakni kebangkitan Islam.

Mungkin ada tafsir bahwa kebangkitan Islam itu hanya tren sesaat yang akan terkikis perlahan seiring meredupnya terang bintang Ahok setelah dikalahkan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Anies-Sandi). Tafsir seperti itu mungkin saja terjadi.

Tetapi faktanya, sampai hari ini, belum ada tanda-tanda bahwa nilai nilai moral keagamaan akan mewarnai nafas kehidupan berbangsa dan bernegara. Belum ada satu lemparan wacana yang mendorong perlunya regulasi bernafaskan moral keagamaan. Yang muncul dan mewarnai jagat hukum hari ini adalah, tiki taka politik di DPR yang berdebat hebat terkait upaya menggolkan hak angket untuk menghentikan langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut dugaan mega korupsi KTP-elektronik.

Praktik bernegara seperti ini akan memicu kebangkitan Islam lebih lanjut, sehingga tren kebangkitan Islam Indonesia diyakini akan terus berkembang.

Kembali ke Pilkada Jabar, siapa di antara tiga partai utama yang paling diuntungkan? Adalah PKS. Partai Golkar yang jika berkoalisi dengan PAN adalah partai utama kedua yang paling diuntungkan. Sementara partai utama yang paling tidak diuntungkan adalah PDIP. PDIP (nasionalis – tengah), berpotensi terus didorong ke kiri (komunis) atas tuduhan mengusung Ahok yang didukung China perantauan yang berafiliasi Partai Komunis China (PKC).

Lalu, apakah dengan demikian, PKS menjadi partai yang berpotensi paling besar memenangi Pilkada Jabar Juni 2018.  Sudah barang tentu tidak. Sebab, PKS sudah dua kali memenangi Pilkada Jabar. Pengalaman di banyak negara demokrasi, sangat jarang satu partai tertentu mampu memenangi pemilu tiga kali berturut turut. Partai Demokrat yang mengusung Hillary Clinton, yang awalnya diyakini akan memenangi pemilu Amerika, akhirnya tumbang oleh Partai Republik yang mengusung Donald Trump.

Walau bandul politik sedang mendekat ke alamat PKS dan Ahmad Heryawan berhasil membangun Jabar, tetapi unsur jenuh berpotensi menggeser pemilih Jabar mencoba suatu yang baru dan menjatuhkan pilihan ke partai Islam lain, yang salah satunya adalah PAN.

Oleh sebab itu jika Golkar pada akhirnya berkoalisi dengan PAN maka Golkar mendapatkan keberuntungan memenangi Pilkada Jabar.

PDIP dan PKS juga berpotensi melanjutkan “perang” yang sudah dimulai di Pilkada DKI Jakarta. Jika “perang” antara keduanya berlangsung panas dan saling “menikam”, maka Golkar sekali lagi mendapatkan keberuntungan menjadi pilihan aman bagi keutuhan NKRI. []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here