PDRB Bergeser, Wajah Kota Batu Mulai Berubah

0
653

Nusantara.news, Kota Batu – Kota Batu merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang terkenal karena potensi keindahan alamnya yang luar biasa. Wilayah kota ini berada di ketinggian 700-1.700 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara rata-rata mencapai 12-19 derajat Celsius. Dengan ketinggian dan suhu udara rata-rata semacam itu kota ini memilik potensi dalam bidang pengelolaan jenis pertanian, peternakan dan perkebunan tertentu.

Namun dalam realitanya, sejak beberapa tahun belakangan ini pembangunan Kota Batu semakin bergeser. Pertumbuhan kondominium, hotel, café, pasar modern dan lainnya mulai marak di kota ini. Fenomena ini secara perlahan mengubah wajah, jati diri dan karakterstik Kota Batu yang awalnya dikenal sebagai kawasan geografis yang sangat cocok untuk areal pertanian, perkebunan dan pengembangan holtikultura, sekaligus sebagai wilayah resapan air.

Hal ini yang disayangkan oleh beberapa masyarakat kota batu, Saiful Hidayat, Salah satu warga Junrejo, Kota Batu mengatakan bahwa daerahnya hari ini hampir sedikit bergeser yang dulunya Kecamatan Junrejo Areal perkebunan dan pertanian kini berdiri banyak bangunan, seperti villa dan wahana-wahana wisata baru.“Dulu lahan perkebunan sayur, sekarang sudah banyak yang alih fungsi mas,” ujarnya kepada Nusantara.news, Jum’at (10/3/2017)

“Sekarang udaranya juga mulai panas, dan kurang sejuk dan hijau seperti beberapa tahun yang lalu,” imbuhnya

Terkait dengan hal ini Badan Pekerja Malang Corruption Wacth, Mayedha Adifirsta berpandangan, secara makro memang terlihat ada peningkatan di Kota Batu, tapi di akar rumput justru muncul masalah-masalah baru, terutama lingkungan, kesehatan, lapangan kerja, pendidikan.

“Idealnya, upaya meningkatkan kesejahteraan  perekonomian harus beresesuaian dengan kondisi dan potensi daerahnya,” ungkap Mayedha.

Ia menambahkan bahwa Pemkot harusnya meredam pembangunan berbagai fasilitas di obyek wisata buatan, seperti villa, hotel, café dsb., karena itu bukan kebutuhan  masyarakat Kota Batu saat ini. “Jelas kegiatan tersebut terbukti justru memangsa banyak lahan produktif, serta sumber kekayaan alam Kota Batu,” tandasnya

“Sembari meredam  pembangunan yang cenderung destruktif, Pemkot harusnya juga mulai menata kembali kelestarian lingkungan dan memanfaatkan lahan-lahan produktif,” tutup Mayedha

Disorientasi Sektoral, Jati Diri Kota Batu Meluntur

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan jumlah nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari seluruh kegiatan perekonomian di suatu daerah yang biasanya dihitung dalam kurun waktu satu tahun. PDRB mencerminkan salah satu ciri wajah dan karakteristik daerah terkait dengan arah, prioritas dan konsentrasi dalam perkembangan ekonomi daerah.

Kegiatan ekonomi umumnya dikelompokkan dalam produksi pertanian, pertambangan, industri, jasa dan lainnya. Dari sini kita juga bisa dilihat tingkat struktur dan pertumbuhan ekonomi suatu daerah, terutama terkait dengan orientasi dan sektor ekonomi yang menjadi konsentrasi pembangunan.

Sumber: Anaisa Situasi Pembangunan Manusia Kota Batu 2015

Temuan dalam dokumen Analisa Situasi Dampak Pembangunan Manusia Kota Batu Tahun 2015, pada tabel Laju Pertumbuhan Ekonomi berdasar pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), terlihat bahwa ada pertumbuhan yang timpang antar-sektor.

Dalam dokumen Kota Batu terlihat bahwa laju pertumbuhan ekonomi wilayah ini di  tahun 2015 didominasi oleh sektor konstruksi bangunan dan infrastruktur. Sektor ini mengalami pertumbuhan ekonomi paling tinggi, yakni, 10,01%. Sedangkan laju pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian, perikanan dan kehutanan hanya mencapai 3,44%.

Hal ini tentu dapat menimbulkan persepsi bahwa beberapa tahun terakhir ini orientasi pembangunan Kota Batu sedikit bergeser. Padahal, berdasarkan garis kewilayahan dan letak geografis, potensi Kota Batu jelas ada pada sektor pertanian, perkebunan, perternakan. Namun ironisnya, beberapa tahun ini laju pertumbuhan ekonomi sektor tersebut justru jauh lebih rendah dibandingkan sektor konstruksi bangunan, infrastruktur dan real sstate (kawasan perumahan).  

Sementara itu, Madea Ramadhani Utomo, pakar pertanian yang juga Dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya melihat bahwa identitas Kota Batu adalah Kota Apel yang terkenal di seluruh penjuru Nusantara.

“Kota Batu punya identitas sebagai Kota Apel. Julukan ini memang sudah selayaknya. Ini adalah roh Kota Batu yang kemudian menjadi titik sentral bagi potensi beberapa sektor, yakni wisata, pertanian, perkebunan, peternakan, dan juga pendidikan,” ungkap Madea.

Namun seiring waktu berlalu, banyak lahan yang tereksploitasi, terutama dengan munculnya pengembangan agrowisata yang marak akhir-akhir ini. “Dimulai dari agrowisata yang menjadi salah satu indikasi adanya eksplotasi lahan di kota ini.  Sebenarnya agrowisatan memiliki kelebihnya, yakni memberikan nilai tambah ekonomi petani. Namun, kelemahanya adalah petani tidak bisa melakukan rotasi sistem tanam dengan baik sebagaimana yang diinginkan, karena tekanan agrowisata,” imbuhnya.

Menanggapi paparan Nusantara.news terkait PDRB Kota Batu  ia menyatakan, “Sektor pertanian sangat sedikit laju pertumbuhan ekonominya, semenyata sektor wisata, konstruksi dan  alih fungsi lahan terus berkembang pesat, bahkan melebihi  sektor pertanian. Ruang kerja produktif petani semakin sempit, dan banyak beralih pada kuli dan buruh di sektor jasa,” tukas Dosen Muda FPUB tersebut.

“Sudah benar mereka menjadi petani merdeka, karena di bidang pertanian dia bisa akumulasi aset usahanya sendiri, dapat kuntungan hasil pertanian. Kalau sudah menjadi buruh akan terjadi ketergantungan pada para pengembang, sehingga dia yang seharusya bisa mandiri dan bisa memperoleh pendapatan sendiri malah tergantung pada seseorang,” tandasnya.

Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi mempenguruhi produktvitas masyarakat lokal. “kalau masyarakat sejahtera, tidak akan ada alih fungsi. Semua ini terjadi, karena masyarakat belum sejahtera dan pendapatan pertanian rendah, sehingga mendorong mereka untuk menjual lahannya,” ujarnya.

Madea menegaskan bahwa potensi asal, karakteristik dan jati diri Kota Batu tidak boleh hilang. ”Jati diri dan karakteristik wilayah dan masyarakat Kota Batu tidak boleh hilang. Pembangunan tetap dilaksanakan, tapi harus selaras tanpa mengurangi potensi yang ada. Khusus untuk pertanian agar posisinya dibuat seimbang dan tidak ada yang menggeser satu dengan yang lain. Apabila hal ini dibiarkan, maka jati diri Kota Batu akan bergeser,” tegas Madea. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here