Pecel Semanggi, Kuliner Rakyat Khas Surabaya

0
432

Nusantara.news, Surabaya – Masih ingat dengan lagu Semanggi Suroboyo? Lagu keroncong yag cukup populer di Jawa Timur, khususnya di Suranata dan sekitaranya ini diciptakan oleh S Padimin era 50-an. Dari liriknya, lagu ini berkisah tentang kuliner atau makanan khas asli Suroboyo.

Sesuai dengan eranya, teks lagu Semanggi Suroboyo menggambarkan suasana Kota Surabaya pada era awal-awal pasca kolonial, jauh sebelum kota ini memasuki era megapolitan. Di masa itu, sebagian wilayah Surabaya masih dipenuhi rawa-rawa dan pesawahan yang ditumbuhi semanggi dan tanaman kangkung, sementara di sisi pematang banyak ditemukan pohon turi.

Berikut ini adalah cuplikan lirik lagu Semanggi Suroboyo:

Semanggi suroboyo, lontong balap wonokromo//di makan enak sekali, sayur semanggi krupuk puli//bung… mari….//harganya sangat murah, sayur semanggi suroboyo//didukung serta dijual, masuk kampung, keluar kampung//bung.. beli…//sedap benar bumbunya dan enak rasanya//kangkung turi cukulan dicampurnya//dan tak lupa tempenya//mari bung, mari beli, sepincuk hanya setali//tentu memuaskan hati//mari beli, sayur semanggi, bung… beli…

Era telah berganti dengan cepat. Tanpa terasa Surabaya kini telah memasuki era megapolitan. Ketika modernisasi kota menggerus tradisi, pecel semanggi seolah ikut terseret arus itu. Sebagai makanan khas Surabaya pecel semanggi sudah hampir tak terdengar lagi namanya, bahkan di sebagian kalangan masyarakat Surabaya sendiri.

Namun, untuk sebagian masyarakat Surabaya, pecel Semanggi masih merupakan makanan favorit. Tak lengkap rasanya jika tidak menyantap panganan ini. Itu sebabnya, makanan tradisional ini tetap bertahan hingga kini di tengah gempuran kuliner bercita rasa kosmopolitan yang umumnya datang dari luar.

Kesederhanaan cara penyajian makanan ini yang hanya diletakkan pada potongan daun pisang justru menjadi daya tarik tersendiri yang membangkitkan selera. Kandungan menunya terdiri dari rebusan daun semanggi, tauge dan daun turi. Sausnya terbuat dari ketela rambat. Lapis terakhir adalah kerupuk puli yang terbuat dari beras. Kombinasi dari beberapa bahan inilah yang membuat makanan khas Surabaya ini terasa lezat di lidah.

Harganya cukup terjangakau. Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp6.000 kita sudah bisa menikmati pecel semanggi. Para pedagang makanan khas Surabaya ini biasanya menggendong barang bawaannya dan dijajakan dengan cara berkeliling. Ada kalanya mereka mangkal dengan menggelar dagangannya di lokasi-lokasi tertentu yang ramai pengunjung.

Umumnya, para penjual pecel semanggi ini berangkat pagi-pagi sekali dengan menyewa sebuah angkutan pedesaan untuk diturunkan di beberapa loaksi yang berbeda. Sangat mudah  mengenal mereka. Dengan memakai kain kebaya dan sewek dan menggendong bakul besar di punggungnya sembari berteriak, “Semangi!……..semanggi!….,” sambal keluar-masuk  pemukiman warga.

Mereka yang mangkal dapat ditemui di sekitar Jalan Raya Darmo, di sekitar Tugu Pahlawan ataupun di Taman Bungkul Surabaya. Jadi, bagi para traveler yang datang ke Surabaya, tak lengkap rasanya jika tidak mencoba makanan yang satu ini.

Dalam kesempatan berbincang sejenak dengan salah seorang pedagang pecel semanggi bernama Mbah Sri (54) diperoleh beberapa pengalaman menarik. Mbah Sri telah berdagang pecel semanggi selama kurang lebih 30 tahun lamanya.

Mbah Sri merupakan warga Desa Alas Malang, Kelurahan Pakal, Surabaya bagian barat setiap hari berjualan di kampung domisili saya Simo, Gunung Kramat Barat Kecamatan Sawahan.

Dari penuturannya, ia saat ini tidak bisa berjualan dengan cara berkeliling tiap hari. Maklum, ia sendiri sudah punya momongan cucu. Anak-anaknya pun sudah melarang untuk berjualan keliling. “Rasanya ndak enak jika duduk-duduk saja di rumah sambil momong cucu, badan rasanya malah capek semua,” begitu tuturnuya sembari melayani pesanan saya dan istri.

Karena saya jarang menemui jenis tanaman semanggi saat melintas di Desa Kendung, saya bertanya dari mana ia memperoleh tanaman jenis semanggi, ia pun menjawab, “Sakniki pun kathah ingkang nanem piyambak. Lek kula badhe sadeyan, kantun pesen mawon, sonten nganten pun wonten sing ngeteri. Mboten dadak pados piyambak kados riyin.”

(“Sekarang sudah banyak yang membudidayakan. Kalau saya besok berjualan, tinggal pesan saja, sore hari sudah ada yang kirim ke rumah. Tidak harus mencari sendiri seperti jaman dulu”). []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here