Pelabuhan Pantai Selatan Jatim, Membatasi Asing dan Minimkan Disparitas Ekonomi

0
432

Nusantara.news, Surabaya – Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur membangun pelabuhan di kawasan selatan menyusul segera dioperasikannya jalur lintas selatan (JLS), punya arti sangat strategis bagi ketahanan ekonomi Indonesia.

Dalam pergerakan ekonomi global, pelabuhan merupakan pintu gerbang pertumbuhan. Sayangnya infrastruktur itu tidak semuanya terpenuhi, khususnya di kawasan selatan Jawa Timur dibanding dengan sisi pantai utara (pantura). Padahal bicara potensi perekonomian, kawasan selatan sangat besar, termasuk untuk komoditi ekspor.

Dengan teknologi yang ada sekarang, kendala teknis yang menjadi hambatan pengembangan kawasan selatan sebenarnya bisa diminimalisir. Semisal kendala tingginya gelombang yang membuat pembangunan pelabuhan di kawasan sepanjang garis pantai selatan harus benar-benar melalui kajian dan studi mendalam. Namun itu bukan hal yang mustahil lagi dilakukan.

Setidaknya, beberapa model pengembangan pelabuhan di kawasan itu pernah dipaparkan dua akademisi asal Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS), Wahyu Putra Gantara dan Tri Achmadi dalam jurnalnya. Mereka membeberkan secara teoritis, ada beberapa kawasan di Jatim potensial untuk dibangun pelabuhan dan bernilai ekonomis dan lebih besar jika dikelola langsung tanpa harus melibatkan jalur perdagangan konvensional, seperti lewat Singapura, misalnya.

Dari hasil perhitungan analisis keduanya, dapat dinyatakan bahwa sektor pertanian, pertambangan, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dan sektor jasa di Jatim selatan merupakan potensi yang dapat dikembangkan. Selain itu, dampak lain yang mengikuti adalah peluang peningkatan kualitas sumber daya manusia yang selama ini relatif tertinggal dibandingkan dengan wilayah pantura maupun tengah.

Menariknya, pakar Jurusan Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan tersebut dapat memperhitungkan optimalisasi biaya jika pelabuhan dibangun di kawasan selatan Jatim.   Analisa kedua pakar memperlihatkan adanya kelayakan untuk membangun sebuah infrastruktur pelabuhan dengan mempertimbangkan tingkat utilisasi (penggunaan) dermaga. Acuan untuk melihat peluang utilitas dermaga atau tambatannya adalah BOR (Berth Occupancy Ratio) yang dibedakan menurut jenis dermaga atau tambatan. Hal ini berhubungan dengan keuntungan ekonomis, tentu jika ekspor dapat langsung dilakukan dari kawasan selatan.

Salah satu lokasi yang dipandang potensial untuk dikembangkan adalah Kabupaten Trenggalek. Contohnya adalah  proyek Pelabuhan Prigi Trenggalek yang sempat disinggung Kepala Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jalan (Dishub LLAJ) Jatim Wahid Wahyudin dapat diwujudkan pada 2017. “Biaya yang diperlukan relatif rendah hanya sekitar Rp 80 miliar. Dan itu sudah mendapat lampu hijau dari pemerintah pusat,’ terangnya usai berbicara di depan Forum Maritim Jawa Timur.

Selain dukungan kondisi perairan, pembangunan pelabuhan Prigi bisa mengeksplorasi potensi kawasan Trenggalek dan sekitarnya. Namun karena ketiadaan pelabuhan banyak potensi yang belum tergarap optimal. Di antaranya adalah sektor perikanan tangkapan di perairan selatan Jawa Timur yang memiliki potensi sebesar 1,7 juta ton per tahun, sementara potensi lestari diperkirakan sekitar 804.612,8 ton per tahun.

Namun yang baru dimanfaatkan baru mencapai 453.034,05 ton per tahun atau sekitar 56,30 persen saja. Hal itu masih belum ditambah dengan potensi lainnya yang tersebar di 8 daerah yang punya garis pantai selatan (Pacitan, Tulunagung, Trenggalek, Blitar, Malang, Lumajang, Jember dan Banyuwangi).

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here